Politeknik TNI-AD
Rubrik : Teknologi
CANGGIHNYA RADAR BUATAN INDONESIA TAK TERDETEKSI MUSUH
2016-06-22 09:46:40 - by : Msuhari

CANGGIHNYA
RADAR BUATAN INDONESIA TAK TERDETEKSI MUSUH


 


Kecanggihan dan nilai battle
proven
kapal  perang modern tidak terlepas dari persenjataan dan
teknologi radarnya. Seperti radar Low Probability of Intercept (LPI), radar
yang dirancang untuk menjadikan kapal sulit dideteksi kapal musuh.


Rata-rata teknologinya dari negara
besar seperti Scout MK2 buatan Thales Eropa, SPN 730 buatan Selex ES Inggris,
dan negara-negara besar lainnya.
 
Meski tertinggal dalam teknologi persenjataan, Indonesia ternyata sejak 2009
telah membuat radar canggih ini. Namanya LPI Radar-IRCS, radar buatan PT Infra
RCS Indonesia ini menggunakan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave
(FM-CW).
 
"Dengan teknologi ini maka daya pancar yang digunakan sangat rendah yaitu
di bawah 10 watt untuk dapat memperoleh jarak jangkauan radar yang luas. Di
Asia belum ada (produsen), apalagi di Asia Tenggara. Rata-rata mereka
menggunakan produk negara maju," ucap Technical Advisor PT Infra RCS
Indonesia, Dr Mashruri Wahab di Plaza Aminta, Jakarta Selatan.
 
Dengan menggunakan frekuensi X-band, Doopler speed bisa mencapai maksimal 40
knot membuat radar LPI semakin penting untuk pengawasan rahasia, pelacakan
target, dan operasi siluman. Selain radar LPI, PT Infra RCS Indonesia juga
telah memproduksi Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) dan
Electronik Support Measures (ESM).
 
"Radar kami bersifat Low Probability of Intercept kita jual satu paket
dengan ECDIS bisa juga dengan ESM. Alat ini cocok untuk electronic warfare.
Radar LPI dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh menggunakan detektor
yang disebut ESM. Keunggulan radar LPI, musuh akan melihat kita sebagai kapal
sipil," tutur Mashruri.
 
Selain untuk kapal laut, Radar LPI juga dikembangkan untuk wilayah perairan
seperti portable coastal radar yang bisa digunakan secara mobile. Radar ini
memiliki keunggulan yaitu ukuran lebih kecil, jangkauan deteksi cukup jauh,
dengan probabilitas rendah membuat radar ini tidak mudah diketahui pihak lain.
 
"Sementara untuk di wilayah pantai  untuk tahun ini kita sedang
mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL. Seperti kita tahu garis
pantai kita kan panjang jadi perlu sekali radar pengawas pantai. Karena wilayah
kita banyak lalu lintas kapal asing, lalu juga illegal fishing,
kecelakaan, penyelundupan dan lain-lain. Seperti di Maluku, Kalimantan, dan
lain-lain," ungkap pria lulusan sebuah universitas Australia ini.
 
Untuk komponen radar, menurut Mashruri, ada beberapa material masih impor dari
negara lain karena belum tersedia di dalam negeri. Ia berharap adanya kebijakan
dari pemerintah agar nilai komponen lokal pembuatan radar tanah air bisa
meningkat.
 
"Ada yang kita buat sendiri seperti software dan beberapa hardware. Dan
memang untuk material ada yang kita impor ya karena di dalam negeri nggak
ada," keluhnya.
 
Sementara di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia, Wiwiek Sarwi
Astuti, mengatakan saat ini timnya masih berfokus untuk mengembangkan radar
Coastal dan ke depan akan mengembangkan Warship Electronic Chart Display and
Information System (WECDIS).
 
"Untuk Infra ini kan punya misi  untuk mendukung kemandirian bangsa
dalam produk-produk yang sifatnya strategis jadi produk seperti ini kita usung
untuk pelanggan atau end user di Indonesia. Sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan," jelas Wiwiek.
 
Apakah akan mencoba menjual ke luar negeri? "Rencana ada, tapi masih fokus
untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Kalau nggak kita akan bergantung dengan
negara lain terus dan ini menjadi tantangan bagi kami untuk memajukan teknologi
bangsa.




 

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/736/canggihnya-radar-buatan-indonesia-tak-terdeteksi-musuh.html