Politeknik TNI-AD
Rubrik : Berita Terkini
UPACARA KEBANGKITAN NASIONAL KE 108 TAHUN 2016
2016-05-20 07:52:00 - by : Msuhari



UPACARA KEBANGKITAN NASIONAL KE 108 TAHUN  2016


 


KOTA
BATU,                      
Pada  hari Jumat tanggal  20-Mei-2016 Bertempat di Lapangan Sudirman
Pusdik Arhanud dilaksanakan  upacara
Kebangkitan Nasional ke 108 Tahun 2016 dengan Inspektur Upacara Dandohar Sista
Arhanud Letkol Arh M.Zaini yang diikuti organik Militer dan Pns Kesatrian Arhanud.


 



Laporan Komandan Upacara


 



Irup Membacakan Amanat


 


Pada kesempatan itu Inspektur Upacara membacakan amanat
Menteri Komunikasi dan Informatika sebagai berikut :


Salah satu
inspirasi yang bisa kita serap dari berdirinya Boedi Oetomo sebagai sebuah
organisasi modern pada tahun 1908 adalah munculnya sumber daya manusia
Indonesia yang terdidik , memiliki jiwa nasionalisme kebangsaan, dan memiliki
cita-cita mulia untuk melepaskan diri dari penjajahan.

Perjuangan Boedi Oetomo yang dipimpin oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan
Dokter Soetomo tersebut kemudian dilanjutkan oleh kaum muda pada tahun 1928
yang kemudian melahirkan Soempah Pemoeda. Dan melalui perjuangan yang tak kenal
lelah akhirnya kita dapat memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
1945.

Sejak diproklamirkannya kemerdekaan, kita bangsa Indonesia telah berjanji dan
berketetapan hati bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini adalah
harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam kondisi dan keadaan
apapun.

NKRI adalah negara demokrasi berlandaskan ideologi Pancasila, yang menjunjung
tinggi nilai-nilai agama dan adat istiadat yang hidup di tengah masyarakat.
Wilayah NKRI terbentang luas dari Sabang hingga Merauke, terdiri dari 17.508
pulau, dihuni oleh penduduk sebesar 254,9 juta jiwa dengan 1.331 suku bangsa,
746 bahasa daerah, dengan garis pantai sepanjang 99.093 kmpersegi. Menjadi
kewajiban seluruh komponen bangsa Indonesia secara konsisten untuk menjaga,
melindungi dan memelihara tegaknya NKRI dari gangguan apapun, baik dari dalam
maupun dari luar dengan cara menerapkan prinsip dan nilai-nilai nasionalime
dalam kehidupan sehari-hari.

Komitmen terhadap NKRI ini penting saya tegaskan kembali pada upacara
peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 ini mengingat setelah sekian lama
berdiri sebagai bangsa, ancaman dan tantangan akan keutuhan NKRI tidak
selangkah pun surut. Bahkan melalui kemajuan teknologi digital, ancaman radikalisme
dan terorisme, misalnya, mendapatkan medium baru untuk penyebaran paham dan
praktiknya.


Selain itu, kita juga menghadapi permasalahan ketahanan bangsa secara kultural.
Munculnya kekerasan dan pornografi, misalnya, terutama yang terjadi pada generasi
yang masih sangat belia, adalah satu dari beberapa permasalahan kultural utama
bangsa ini yang akhir-akhir ini mengemuka dan memprihatinkan. Lagi-lagi, medium
baru teknologi digital berperan penting dalam penyebaran informasi, baik
posisif maupun negatif, secara cepat dan massif.

Ketika berbicara tentang lanskap dunia dalam konteks teknologi digital
tersebut, kita juga menghadapi problem kaburnya batas-batas ?sik antara
domestik dan internasional. Potensi pergaulan dan kerja sama saling
menguntungkan akibat relasi dengan dunia internasional tumbuh makin intens,
tetapi juga sekaligus makin rentan terhadap penyusupan ancaman terhadap
keutuhan NKRI dari luar wilayah negeri ini.

Tantangan-tantangan baru yang muncul di depan kita tersebut memiliki dua
dimensi terpenting, yaitu kecepatan dan cakupan. Tentu kita tidak ingin
kedodoran dalam menjaga NKRI akibat terlambat mengantisipasi kecepatan dan
meluasnya anasir-anasir ancaman karena tak tahu bagaimana mengambil bersikap
dalam konteks dunia yang sedang berubah ini.

Oleh sebab itu saya memandang penting tema “Mengukir Makna Kebangkitan Nasional
dengan Mewujudkan Indonesia yang Bekerja Nyata, Mandiri dan Berkarakter“ yang
diangkat untuk peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2016 ini. Dengan tema
ini kita ingin menunjukkan bahwa tantangan apapun yang kita hadapi saat ini
harus kita jawab dengan memfokuskan diri pada kerja nyata secara mandiri dan
berkarakter.

Saya berpendapat bahwa ada penekanan pada dimensi internasional dalam tema
tersebut. Kerja nyata kita, kemandirian kita, dan karakter kita semua terpusat
pada pemahaman bahwa saat ini kita dihadapkan dalam kompetisi global.
Persaingan bukan lagi muncul dari tetangga-tetangga di sekitar lingkungan kita saja,
sebaliknya justru inilah saat paling tepat bagi kita untuk bahu membahu bersama
sesama anak bangsa untuk memenangkan persaingan-persaingan pada aras global,
karena lawan tanding kita semakin hari semakin muncul dari seantero penjuru
dunia. Sebagai satu kesatuan, mau tak mau kita harus bangkit untuk menjadi
bangsa yang kompetitif dalam persaingan pada tingkat global tersebut.
Pada aspek-aspek kerja nyata, kemandirian, dan karakter kitalah terletak kunci
untuk memenangkannya.

Kini bukan saatnya lagi mengedepankan hal-hal sekadar pengembangan wacana yang
sifatnya seremonial dan tidak produktif. Kini saatnya bekerja nyata dan mandiri
dengan cara-cara baru penuh inisiatif, bukan hanya mempertahankan dan
membenarkan cara-cara lama sebagaimana yang telah dipraktikkan selama ini.
Hanya karena telah menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan berarti sesuatu telah
benar dan bermanfaat. Kita harus membiasakan yang benar dan bukan sekadar
membenarkan yang biasa.

Untuk saudara-saudaraku yang diberi amanat Allah untuk mengemudikan jalannya
bahtera pemerintahan, saya mengajak untuk menyelenggarakan proses-proses secara
lebih efisien. Mari pangkas segala proses yang pelayanan yang berbelit-belit
dan berkepanjangan tanpa alasan yang jelas. Mari bangun proses-proses yang lebih
transparan. Mari berikan layanan tepat waktu sesuai jangka waktu yang telah
dijanjikan.

Proklamator dan presiden pertama RI, Ir Soekarno, pernah menekankan tentang
pentingnya membangun karakter bangsa. Menurut Beliau “membangun suatu negara,
membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama
dan pada tahap utamanya, membangun jiwa bangsa. Tentu saja keahlian adalah
perlu, tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan
dapat mungkin mencapai tujuannya".

Demikian juga tentang pentingnya kerja nyata kita, Bung Karno berpesan bahwa
"Amal semua buat kepentingan semua. Keringat semua buat kebahagiaan semua.
Holopis kuntul baris buat kepentingan semua."

Semoga peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini juga memperbarui semangat
Trisakti: berclaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian
dalam kebudayaan. Jika kita konsisten, saya yakin jalan kemandirian ini lnsya
Allah akan membawa bangsa ini mengalami kebangkitan yang selanjutnya, yaitu menjadi
bangsa yang lebih jaya dan kompetitif dalam kancah internasional.

Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan. Semoga dalam memperingati hari
Kebangkitan Nasional ke-108 tahun 2016 ini, kinerja kita semakin baik dan
semakin dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Teriring salam, doa penuh harapan
kiranya kita semua senantiasa diberikan kemampuan untuk mempertahankan NKRI ini
sampai kapan pun, demi kejayaan bangsa Indonesia. Selamat Hari Kebangkitan
Nasional ke-108. Indonesia tetap jaya!



 

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/722/upacara-kebangkitan-nasional-ke-108-tahun-2016.html