Politeknik TNI-AD
Rubrik : Teknologi Sistem Senjata
Tembus Tank Baja, Senapan 'Sniper' Indonesia Gegerkan Dunia
2015-07-22 11:08:35 - by : Msuhari



Tembus Tank Baja,
Senapan 'Sniper' Indonesia Gegerkan Dunia



 


Penembak runduk. Istilah itu bisa
ditelusuri sejak tahun 1770-an, di kalangan prajurit kolonial Inggris di India.


Barang siapa mahir memburu burung snipe
yang konon sulit ditembak, maka ia berhak mendapat julukan 'sniper'.

Seiring berlalunya waktu, sniper mengalami pergeseran arti yakni, prajurit
infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara
tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.

Indonesia baru kehilangan sniper legendaris yang diakui dunia yaitu Peltu (pur) Tatang
Koswara, yang meninggal dunia pada 3 Maret 2015.


Namun, Bumi Pertiwi menghasilkan
kebanggaan yang lain, senapan penembak runduk (SPR) yang diproduksi PT Pindad  SPR 2.


SPR ini bukan sembarang senjata karena  pelurunya bisa menembus tank baja dan bahkan
ada peledak di balik munisi tersebut yang bisa menghancurkan kendaraan tempur
dalam sekejap. Lebih hebat lagi, SPR 2 juga memiliki jangkauan tembak hingga 2
kilometer dan  Kemunculannya
menggemparkan dunia sniper.


"Senjata yang mendunia, kalau kita
fokus ke senjata, kita punya SS-1, SS-1 dan beberapa varian. Kita juga punya
SPR-2 yang baru kita launching dan langsung dibeli oleh Kopassus," kata
Direktur PT Pindad Silmy Karim kepada


Mantan Staf Ahli Komite Kebijakan
Industri Pertahanan (KKIP) itu menambahkan, senjata-senjata yang merupakan
produk unggulan Pindad.


Kualitasnya sudah teruji. Siap
digunakan di medan tempur. "Dan ternyata memang bisa diterima dan malah
lebih unggul dari pada produk impor," ujar dia.

Secara rinci, SPR 2  berkaliber 12,7 mm x 99 mm


Panjang senapan 1.755 mm


, berat keseluruhan 19,5 kg,


 panjang barel 1.055 mm,


 kapasitas peluru antara 5-10 butir.


Rifling atau alur spiral berulir pada
bagian dalam laras senjata api ini yakni 8 grooves


RH 381 mm (15”) twist.


Kecepatan rata-rata lesatan peluru 900
meter per detik dan jangkauan 2 km.


      



Menurut Silmy, keistimewaan SPR 2 ini dibanding senapan dari negara adalah
terletak pada jangkauan, ketepatan, dan silencer atau peredam suara
hentakan dari tembakan.


Silencer yang dipasang bisa menurunkan hentakan suara tembakan
sekitar 20-30 desibel.


Senjata ini juga dilengkapi perangkat
night vision dan teleskop dengan pembesaran ukuran 5-25 kali.

"Senjata kita ini ada peredam dari recoil-nya (hentakan), yang ini cukup
membuat kesulitan bagi produsen lain dalam mendesain produk yang digunakan oleh
sniper.


Di samping itu, senjata sniper ini
relatif sangat khusus dalam arti tidak massal di mana tingkat ketelitiannya
harus maksimal," ungkap dia.

Direktur Pindad ini mengakui manfaat ekonomis dari pembuatan SPR 2 ini
sebenarnya tidak terlalu besar.


Tapi ia menekankan, keberhasilan
pembuatan senapan runduk tersebut membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan
alutsista yang inovatif dan mutakhir.

"Untuk membuat sniper ini, effort-nya (usahanya) banyak, tetapi
secara ekonomis, manfaatnya tidak terlalu banyak.


Tetapi kita dalam hal ini melakukan
dalam konteks kemandirian dalam konteks kita mampu membuat senjata yang dapat
digunakan oleh sniper," kata Silmy.

Teknisi Pindad Diding Sumardi menunjukkan wujud senapan SPR 2, aksesoris, dan
berbagai pelurunya.


Ada tiga jenis peluru yang bisa
digunakan, yakni MU3 M yang dipakai untuk latihan menembak, MU 3 SAM yang bisa
menembus kendaraan, dan MU 3 BLAM yang tidak hanya menembus kendaraan tapi juga
bisa meledakkan target.


Atas kemampuannya yang luar biasa, Sniper SPR 2 mendapat pengakuan dari dunia
internasional.


Terbukti, senapan jitu ini masuk
rekomendasi di situs alat utama sistem senjata (alutsista) Weaponsystems.net,
bersanding dengan senjata canggih lainnya dari penjuru dunia, seperti senapan
runduk  Zastava M93 Black Arrow buatan
Serbia.
Bahkan, tentara Singapura pernah melontarkan pujian untuk SPR 2. "Good!",
ujar seorang penembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus
memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi SPR-2,
yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak ASEAN Armies
Rifle Meet (AARM) ke-21, di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, dengan adanya SPR 2 ini, Indonesia bersanding dengan tiga negara
lainnya yang mampu membuat senapan runduk serupa, yakni Amerika Serikat (AS)
dan dua negara di Eropa.

Dunia militer Indonesia naik tingkat dari sebelumnya. Meski begitu, PT Pindah
belum menjualnya kepada negara lain.


Sejauh ini, baru satuan  Komando Pasukan Khusus
(Koppasus) TNI AD yang sudah mengoperasikannya.


Mengenai harga per unitnya, SPR 2 ini
dibanderol sekitar Rp 200 juta per pucuknya.


By Fahrizal
Lubis


 


 

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/665/tembus-tank-baja-senapan-sniper-indonesia-gegerkan-dunia.html