Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
SANG BADAK ANDALAN PINDAD
2015-05-13 09:08:15 - by : Msuhari


Sang Badak Andalan Pindad


Setelah melewati masa
pengembangan yang panjang, Pindad akhirnya melansir panser kanon yang kemudian
dinamai Badak (Rhinoceros) oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pameran Indo
Defense 2014. Dikatakan panjang, karena niatan Pindad untuk membuat panser
kanon sesungguhnya sudah dimulai sejak 2009, dengan purwarupa pertama selesai
pada 2011 dan dipaparkan oleh Pindad dalam sarasehan mengenai panser kanon
bersama Pussenkav. Ketika itu, purwarupa pertama masih menggunakan kubah milik
tank Alvis Scorpion dengan meriam 90mm Low Pressure Cockerill Mk III. Penulis
sendiri sempat ngoprek purwarupa pertama ini, termasuk mencoba duduk di dalam
kursi komandan dan juru tembak.


                                


 


 (all photo by PINDAD)


Tahun demi tahun
berlalu, dan Pindad melanjutkan ke purwarupa kedua, diberi nama Bee. Masih
menggunakan kubah Alvis, Bee dimodifikasi pada sistem otomotif terutama
suspensi, dengan penjarangan roda ketiga dari roda pertama dan kedua untuk
memperbaiki titik beratnya. Sementara itu, TNI AD malah merealisasikan
pembelian ranpur Doosan Tarantula, dengan sistem senjata utama kanon 90mm Mk
III dalam kubah CSE90LP, Dengan spek setara panser kanon buatan Pindad,
sepertinya produk dalam negeri kalah skor 1-0 dalam pertempuran panjang merebut
kemandirian bangsa dalam bidang alutsista. Pindad hanya kebagian transfer of
technology berupa integrasi kubah ke dalam hull Tarantula.

Pada tahun  2014, akhirnya Pindad comeback dengan meluncurkan panser kanon
dalam speknya yang definitif. Dengan merubah beberapa tampilan dari
purwarupanya yang terakhir, Pindad membuat beberapa kemajuan. Pertama, Pindad
akhirnya memperoleh kepastian pasokan baja armor grade dari pabrik baja dalam
negeri Posco-Krakatau Steel melalui MoU yang ditandatangani pelaksana tugas
Dirut PT Pindad dan Dirut Posco-Krakatau Steel pada pembukaan Indo Defense 201.
Baja kualitas militer ini menjadi krusial karena Pindad berulangkali masih
harus mengimpor baja dari luar negeri dalam proses yang tidak ekonomis karena
harus membayar pajak bea masuk atas lembaran baja tersebut, belum lagi ditilik
dari segi kemandirian pembuatan alutsista. Yang kedua, Pindad juga dijanjikan
akan melakukan perakitan sistem kubah CSE90LP, sehingga nama kubah ini kelak
menjadi CSE90LP- P untuk Pindad. Yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi
Pindad dan Kementrian Pertahanan adalah membangun industri mesin yang aplikatif
untuk kendaraan besar termasuk kendaraan militer, karena Indonesia sama sekali
tidak memiliki dan bahkan masih sangat tergantung dengan impor. Begitu pula
dengan industri sistem optik dan kendali penembakan untuk kendaraan darat.


                                                        



Walaupun dari segi kemampuan kanon 90mm Low Pressure sudah termasuk ketinggalan
jaman, tetapi pemakainya masih banyak, seperti tank Scorpion dan panser V150
kanon milik TNI AD, ataupun Sibmas dan Scorpion milik AD Diraja Malaysia, dan
jangan lupa V300 milik AD Filipina. Dengan anggaran militer pas-pasan dari
negara penggunanya, diperkirakan masih akan ada pasar untuk sistem senjata ini setidaknya
15-20 tahun kedepan.

Kanon 90mm Low Pressure Cockerill MkIII memiliki varian munisi yang cukup
banyak, mulai dari HE, HEAT, dan bahkan APFSDS dengan rating penetrasi 100mm
RHA pada kemiringan 60o pada jarak 1.000m, jadi jangan mengharapkannya atau
bermimpi menjebol Main Battle Tank. Untuk operasi anti gerilya menghadapi
insurjen yang lari di balik rerimbunan pohon, bolehlah. Akurasinya juga oke
punya, pengujian internal Kavaleri atas sistem senjata serupa di atas Tarantula
mampu menghasilkan bullseye, berkat akurasi sistem laser rangefinder dalam
memberikan pembacaan jarak. Pindad sendiri telah mampu membuat sebagian munisi
90mm ini, jadi kesempatan dan peluang pasar untuk Pindad sebagai centre of
excellence dari sistem senjata 90mm MkIII tersebut masih terbuka lebar.


                            
Nah, kembali ke soal hull, Pindad meracik Badak sedikit berbeda dengan dua
purwarupa pendahulunya. Bentuk glacis di sisi atas terlihat sangat melandai,
untuk memberikan kemampuan menahan impak peluru dengan lebih baik, bahkan memaksanya
memantul. Pindad memberi jaminan bahwa Badak dengan kulitnya yang keras
memenuhi standar NATO STANAG 4569 Level III, atau mampu menahan impak peluru
7,62x51mm AP (Armor Piercing) standar NATO dari jarak 30 meter. Seperti
kebiasaan Pindad yang sebelumnya mendandani Anoa dengan lapisan applique
tambahan, Badak juga bisa ditingkatkan perlindungannya, setidaknya mampu
menahan impak peluru 14,5mm. Bentuk glacis atas yang melandai ini juga membantu
memberikan sudut tunduk laras yang lebih besar, sehingga apabila Badak ada di
atas perbukitan, meriam masih mampu menyasar sasaran dibawahnya.

Bentuk glacis yang melandai ekstrim ini juga membawa pengaruh pada posisi duduk
pengemudi yang ditempatkan di sebelah kanan depan. Tidak menggunakan tutup
palka biasa, pada Badak palka pengemudi dibuat tidak flush alias sedikit
menonjol dari pelat atas kendaraan, untuk memberikan ruang pandang yang
memadai. Tersedia tiga periskop panoramik untuk pengemudi, sesuatu yang cukup
‘wah’ untuk ranpur semacam ini yang biasanya hanya dilengkapi satu periskop
prisma. Tersedia kamera di sisi belakang yang terhubung ke display untuk
pengemudi, membantu saat memundurkan kendaraan.

Di sebelah kiri pengemudi terdapat mesin Diesel inline 6 silinder yang
dilengkapi turbocharger, mampu menyemburkan daya sampai dengan 320hp. Dengan
bobot kendaraan hanya pada kisaran 11 ton, power to weight rationya mencapai
29hp/ ton, tidak heran Badak bisa dipacu dengan sangat kencang sampai kecepatan
90km/ jam di jalanan aspal mulus dan rata. Di tengah kendaraan terpasang kubah
CSE90LP, dimana (dari atas) komandan duduk di sebelah kiri, dan juru tembak
duduk di sebelah kanan. Komandan memiliki lima periskop prisma dan satu
periskop besar hadap depan, sementara juru tembak memiliki empat periskop dan
satu periskop bidik besar yang bisa dilengkapi dengan beragam sistem mulai dari
kamera pandang malam, kamera termal, sampai dengan kamera infra merah. Meriam
berulir 90mm ditemani oleh senapan mesin koaksial 7,62x51mm NATO di sebelah
kiri untuk menyapu habis ancaman pasukan infantri. Untuk fungsi anti infantri/
helikopter, disediakan pintle mount pada sisi komandan untuk memasang senapan
mesin sedang seperti FN MAG, MG3, atau bila diperlukan, opsi dudukan senapan
mesin berat seperti CIS 50MG.


 


                                     


 


Potensi sang Badak

Sebagai ranpur kelas 10 ton, Pindad sudah dapat diacungi jempol mengingat hasil
kerja keras mereka akhirnya terwujud dalam kendaraan produksi final. Melihat
kemampuannya, Badak boleh dikatakan setara atau bahkan melebihi kemampuan 22
unit Tarantula yang kadung dibeli oleh TNI AD, menandakan bahwa untuk kelas
kendaraan panser kanon, Indonesia sebagian besar sudah mampu mandiri dan tidak
tergantung dari Negara luar lagi. Yang patut disayangkan adalah sistem senjata
yang dipilih. CMI sebagai pemasok memiliki banyak varian kubah dan meriam, dan
boleh dikatakan CSE90LP kelasnya ada di bawah Badak. Meriam 90mm Low Pressure
sewajarnya merupakan senjata bagi ranpur kelas 4x4 seperti V150 (versi
modernnya saat ini dikenal sebagai Textron COMMANDO Select), bukan 6x6. Pindad
harus berani melirik meriam 90mm medium pressure seperti yang terpasang pada
kubah CMI CT-CV 90MP/ LCTS 90MP. Meriam yang merupakan turunan dari Cockerill
Mk8 KEnerga ini mampu menggasak tank sekelas T-72 (generasi awal) dan M60.
Apalagi CMI sudah menyebut bahwa LCTS 90MP mampu digotong oleh ranpur kelas 10
ton, dan sudah dibuktikan pada SIBMAS 6x6. TNI sebagai user juga sudah harus
membuka mata dan melakukan update atas pengetahuan yang mereka miliki, jangan
melulu terpaku pada kanon 90mm low pressure yang sudah usang dan kalah dari
kanon tembak cepat 25/30/40mm. Ayo Pindad, tunggu apa lagi? (ARY)

PINDAD BADAK 6x6
Dimensi (pxlxt)            :
6x2,5x2,9m
Wheelbase       
          : 1,5m
Bobot           
             
: 11 ton
Power to weight ratio    : 22,85-29hp/ ton
Ground clearance         : 400mm
Max speed       
          : 90km/ jam
Sudut tanjakan            :
60o
Sudut kemiringan         : 30o
Arung air       
             : 1m
Halangan parit             :
max. 0,75m
Radius putar       
       : 10m
Jarak tempuh       
      : 600km
Mesin           
             :
Diesel inline turbocharger intercooler 6 silinder daya 320hp dengan transmisi
otomatis 6 maju dan 1 mundur

Sistem senjata
?    Kubah CSE 90LP dengan kanon 90mm rifled dan koaksial 7,62mm
?    Pintle mount 7,62mm
?    66mm smoke discharger

* ARC


 


 


 


 


 


 

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/637/sang-badak-andalan-pindad.html