Politeknik TNI-AD
Rubrik : TEKNOLOGI PERSENJATAAN
PT. PINDAD Produksi Rudal Dalam Negeri Tahun 2012
2011-07-26 12:01:57 - by : kusnadi

PT.PINDAD PRODUKSI RUDAL DALAM NEGERI TAHUN 2012


Teknologi roket buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(Lapan) mengalami kemajuan pesat. Setelah sebelumnya meluncurkan RX320
pada 2008,kini berhasil meluncurkan RX420.


SUKSES mengembangkan RX420, bukan lantas Lapan berpuas diri. Akhir
tahun ini, Lapan kembali mendesain RX520. Roket yang lebih besar dan
memiliki daya jangkau lebih jauh dibanding RX420.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienata mengatakan, RX520 siap terbang
akhir 2010. RX520 ini memiliki spesifikasi yang lebih hebat ketimbang
RX420.Sesuai desain awal,RX520 memiliki kecepatan maksimal 1,7 km/detik.
RX520 ini memiliki panjang hingga 8,8 meter dengan bahan bakar propelan
padat seperti jenis roket lain.

"Daya jangkau roket RX520 mencapai 200 km.Ini lebih jauh dua kali lipat
dibanding RX420," ujar Soewarto kepada Seputar Indonesia. Hanya saja,
teknologi roket yang dikembangkan Lapan tidak untuk kebutuhan alat utama
sistem persenjataan (alutsista). Roket buatan Lapan hanya untuk
keperluan sipil yang akan digunakan sebagai penunjang dalam mengorbitkan
satelit.



Untuk diketahui, Kamis (2/7), Lapan berhasil meluncurkan RX420,roket
terbesar yang dibuat lembaga antariksa Indonesia. Roket RX-420 adalah
roket dengan diameter 420 mm,panjang 6 m dan berbobot 1 ton.Roket ini
menggunakan bahan bakar solid-komposit yang ketika diluncurkan ke
angkasa memiliki jangkauan 100 km dengan kecepatan hingga 4,5 mack atau
4,5 kali kecepatan suara.


Saat peluncuran, roket eksperimen RX420 berdiri dengan sudut elevansi
70 derajat di lapangan desa Cilautereun Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten
Garut. Tak beberapalama,suararoketmenderu, diiringi kepulan asap putih
membumbung. Hanya dalam hitungan detik,roket melesat ke angkasa. Lapan
sendiri konsentrasi dalam pembuatan roket untuk keperluan sipil.
Nantinya roket-roket buatan Lapan tersebut akan digunakan sebagai
penunjang dalam mengorbitkan satelit milik Indonesia.


"Kapasitas roket buatan Lapan memang untuk keperluan sipil. Jadi kami
fokus dalam membuat roket untuk mengorbitkan satelit,"tandasnya. Meski
demikian, teknologi roket yang dibuat Lapan ini sudah bisa dikembangkan
untuk membuat senjata pelindung alutsista. Jika Departemen Pertahanan
(Dephan) mau mengadopsi teknologi yang dimiliki Lapan sebagai roket
berhulu ledak, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi satu kekuatan
yang ditakuti oleh bangsa-bangsa lain.


Soewarto sendiri secara terbuka menerima jika Dephan ingin bekerja
sama mengembangkan dalam pembuatan rudal balistik dengan jangkauan yang
lebih jauh. Untuk saat ini,sesuai dengan tugasnya, Lapan hanya membuat
roket untuk keperluan sipil. Teknologi roket yang dikembangkan Lapan,
pada dasarnya merupakan dual use, di mana bisa dipakai untuk keperluan
sipil maupun militer.


Namun, Lapan sendiri hanya mengembangkan roket untuk keperluan sipil
karena sesuai dengan kewenangannya. Sementara itu, jika untuk keperluan
militer diserahkan kepada Dephan. "Kami memang pernah bekerja sama
membuat roket kaliber 122 untuk TNI AL, tapi kewenangan dari Lapan
sejatinya bukan itu. Kami hanya mengembangkan roket pendorong untuk
satelit. Untuk keperluan militer, biar Dephan yang bicara,"paparnya.


Jika saja Lapan dan Dephan bersinergi membuat rudal balistik memakai
RX520, bukan tidak mustahil rudal tersebut mampu menjadi senjata yang
takuti. Dengan daya jelajah mencapai 200 km,senjata balistik ini akan
mampu melindungi pulau-pulau di Indonesia.Bahkan jika peluncuran di
lakukan di Batam, bukan tidak mustahil bisa menembus hingga Malaysia dan
Singapura. Ketua Pokja Pertahanan Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin
mengatakan Indonesia memang sudah saatnya memiliki rudal berhulu ledak
buatan sendiri.


Teknologi yang dimiliki Lapan, sudah bisa dipakai untuk membuat rudal
balistik jarak menengah."Indonesia harus mandiri. Dephan harus bekerja
sama dengan Lapan membuat rudal berhulu ledak,"tuturnya. Tubagus
mengatakan, keberhasilan Lapan menguji coba roketroketnya membuat
Indonesia semakin ditakuti. Roket buatan Lapan tinggal dibekali hulu
ledak di ujungnya dan menciptakan direksi untuk mengarahkan koordinat
sasaran.

"Sebagai negara kepulauan,tentu dibutuhkan rudal yang mampu melindungi
pulau - pulau tersebut dari serangan musuh," lanjutnya. Roket buatan
Lapan merupakan teknologi hasil ciptaan ilmuwan Indonesia. Lapan bahkan
menciptakan bahan bakar racikan ilmuwan Indonesia yang tak kalah
dibanding buatan ilmuwan luar negeri. Bahan bakar racikan ilmuwan Lapan
tersebut bahkan telah diuji coba di rudal exocet TNI yang tak terpakai.
Hasilnya, kecepatan rudal menjadi 2 kali lipat dibanding kecepatan
dengan menggunakan bahan bakar rudal asal Prancis.


Amunisi Kaliber Besar


Sementara itu, PT Pindad sudah menguasai teknologi untuk amunisi
kaliber kecil. Tahun tahun mendatang, PT Pindad akan mengembangkan
amunisi kaliber besar. Menurut juru bicara PT Pindad Timbul Sitompul,
amunisi kaliber 20 mm dan kaliber 120 mm telah dilakukan pengembangannya
pada tahun 2009 ini. Kemudian pada 2010, PT Pindad merencanakan akan
memproduksi amunisi kaliber 105 mm.


Selanjutnya pada 2011, akan dikembangkan warhead dan rudal dengan
mode proximity fuse. Proximity fuse menyebabkan kepala rudal akan
meledak pada jarak yang telah ditentukan dari target. Teknologi
proximity fuse ini menggunakan kombinasi dari satu atau beberapa sensor
di antaranya radar, sonar aktif, infra merah, magnet, foto
elektrik.Tidak hanya itu, PT Pindad juga merencanakan akan memproduksi
rudal darat pada tahun 2012 mendatang.
(Sumber : Sindo)

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/63/pt-pindad-produksi-rudal-dalam-negeri-tahun-2012.html