Politeknik TNI-AD
Rubrik : Teknologi
MENGUKUR TINGKAT KEMATANGAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK INSTITUSI PENDIDIKAN
2015-03-22 18:42:38 - by : Msuhari


MENGUKUR TINGKAT KEMATANGAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK
INSTITUSI PENDIDIKAN


By : My Arh M.Suhari


 


 


Salah
satu ciri institusi pendidikan modern dewasa ini adalah dilibatkannya teknologi
informasi dalam proses penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Telah banyak
ditemukan di mana-mana lembaga pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak
hingga perguruan tinggi yang berlomba-lomba memanfaatkan teknologi ini dalam
rangka meningkatkan kinerja belajar mengajar yang dilakukan. Terlepas dari
berbagai spektrum pemanfaatan teknologi informasi pada sistem pendidikan - yang
menurut teori paling tidak terdiri dari tujuh peranan utama dan sejumlah fungsi
pendukung - kunci utama keberhasilannya terletak pada kesiapan para pemegang
kepentingan (stakeholder) terkait. Dalam konteks ini, paling tidak peranan dan
pandangan pemerintah, orang tua, kepala sekolah, pengajar, karyawan, dan
peserta ajar akan sangat menentukan akselerasi implementasi teknologi tersebut
di sebuah lembaga pendidikan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sebuah
institusi pendidikan dapat mengukur tingkat keberhasilan pencapaian pemanfaatan
teknologi informasi yang ada. Dengan berpegang pada prinsip bahwa semakin
tinggi tingkat keperdulian (awareness) para stakeholder institusi pendidikan
akan semakin mempercepat implementasi dan mempertinggi manfaat teknologi
informasi yang dimiliki, maka perlu dikembangkan sebuah kerangka pengukuran
tingkat kematangan pihak pemegang kepentingan tersebut. Artikel ini memberikan
suatu usulan bagaimana caranya mengukur secara kuantitatif tingkat kesiapan
para stakeholder yang dimaksud dengan menggunakan metode kematangan (maturity
model) yang banyak dipergunakan dalam berbagai kasus yang membutuhkan hal
serupa. Kata kunci: tingkat kematangan (maturity model), pendidikan,
pemilik kepentingan (stakeholder).


1.    
KONTEKS TI  DALAM SISTEM PENDIDIKAN


Fenomena
keterlibatan TI (baca: Teknologi Informasi) di dunia pendidikan telah
menggejala di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Belajar dari penerapan
teknologi ini di beragam lembaga pendidikan yang ada, paling tidak diketemukan
tujuh konteks atau peranan TI yang dimaksud


Pertama,       Berasal dari kesadaran bahwa
TI merupakan sumber dari ilmu pengetahuan. Kenyataan ini dipicu dari
dihubungkannya berbagai sumber dan pakar ilmu pengetahuan melalui sebuah
jejaring raksasa yang difasilitasi oleh teknologi internet.


Kedua,          
Adalah fungsi TI sebagai alat bantu atau sarana penyelenggaraan kegiatan
belajar mengajar maupun aktivitas pembelajaran. Hal ini terkait dengan semakin
banyaknya para guru dan dosen menggunakan berbagai peralatan teknologi untuk
membantu mereka memberikan penjelasan materi ajar yang ada dalam berbagai
bentuk ilustrasi visual atau multi media yang menarik.


Ketiga,          
Merupakan sebuah kondisi dimana pemahaman dan keterampilan memanfaatkan TI
dalam meningkatkan kinerja penyelenggaraan pendidikan menjadi prasyarat
kompetensi yang harus dimiliki oleh sejumlah actor utama pendidikan, seperti
guru, dosen, siswa, peneliti, dan manajemen institusi pendidikan. Dalam
kerangka inilah maka sejumlah sekolah telah mengharuskan pemberi maupun
penerima mata ajar pengetahuan untuk memiliki kompetensi dan keahlian minimum
dalam menggunakan peralatan berbasis TI.


Keempat       Bermula dari kemampuan
TI dalam mentransformasikan berbagai bentuk organisasi yang banyak bergantung
pada sumber daya fisik menjadi institusi virtual dengan dominasi sumber daya
elektronis. Konsep e-library, virtual class, digital dashboard, distance
learning, dan electronic laboratory merupakan sejumlah contoh penerapan TI
pendidikan yang mampu mentransformasikan konsep pendidikan masa kini.


Kelima          
Merupakan konteks yang dilihat dimana TI dipergunakan sebagai teknologi untuk
membantu manajemen atau tata kelola rangkaian aktivitas pendidikan. Seperti
halnya sebuah organisasi komersial semacam perusahaan, institusi pendidikan
moderen akan menerapkan sistem administrasi berbasis teknologi digital, seperti
untuk melakukan beraneka ragam kegiatan seperti: mencatat absensi guru dan
siswa, merekam aktivitas pembelajaran sehari-hari, memperbaharui rekam jejak
guru dan kemajuan siswa, mengalokasikan sumber daya terbatas seperti kelas dan
sarana penunjang lainnya, menginformasikan hasil ujian ke siswa via multi kanal
(internet, telepon genggam, dan lain-lain), melakukan komunikasi secara
interaktif antar pemegang kepentingan (melalui email, mailing list, newsgroup,
dan lain-lain), dan aktivitas terkait lainnya.


Keenam,       Mengambil posisi dari
dipergunakannya beragam aplikasi TI untuk menganalisa kinerja penyelenggaraan
pendidikan guna diproduksinya sejumlah keputusan maupun kebijakan demi
peningkatan kinerja institusi Aplikasi semacam sistem informasi eksekutif,
decision support system, dashboard management, sistem akar, sistem informasi
manajemen, dan lain sebagainya merupakan sejumlah ragam penerapan TI yang
dimaksud.


Ketujuh,        Merupakan muara
dari keenam konteks yang ada, yaitu disadarinya TI sebagai sebuah infrastruktur
pendidikan moderen. Dengan kata lain, peralatan berbasis digital ini mau tidak
mau harus mampu dimiliki atau diakses oleh setiap lembaga pendidikan yang
dimaksud. Terkait dengan hal ini, kesadaran dalam mensisihkan sejumlah sumber
daya finansial untuk alokasi investasi TI dianggap sebagai sebuah keharusan.


 


2.    
TUNTUTAN PEMEGANG KEPENTINGAN


 


Dengan
memperhatikan trend global di dunia pendidikan, maka jika dilihat secara
cermat, masing masing konteks atau peranan TI yang telah dikemukakan di atas
memiliki pemilik kepentingannya (stakeholder) masing-masing. Berikut adalah
inti sari dari posisi stakeholder yang dimaksud terkait dengan posisi
masing-masing konteks TI dengan tipe stakeholder: •


a.        
Orang tua atau mereka yang mensponsori peserta didik untuk masuk ke sebuah
institusi tertentu akan melakukan seleksi terhadap berbagai lembaga pendidikan
sejenis yang menawarkan jasa-jasanya. Dianutnya paradigma TI sebagai sumber
ilmu pengetahuan akan menjadi salah satu criteria utama yang dipakai oleh
mereka dalam menentukan pilihannya. •


b.        
Siswa yang masuk ke sebuah institusi pendidikan akan menilai kualitas
penyelenggaraan pendidikannya dari dipergunakannya beragam aplikasi TI oleh
para pengajar atau tidak, karena hal itu merupakan ciri pendidikan moderen masa
kini•


c.        
Yayasan atau pemilik institusi pendidikan yang ada tentu saja akan
mengalokasikan sejumlah sumber daya keuangannya untuk diinvestasikan dalam
bentuk pengembangan ragam aplikasi TI sebagai bagian dari transformasi bentuk
penyelenggaraan pendidikan.•


d.        
Tenaga pengajar yang akan direktrut oleh sebuah lembaga institusi pendidikan di
masa mendatang tentu saja yang harus memiliki kompetensi dan keahlian dalam hal
menggunakan dan memanfaatkan computer dan peralatan teknologi terkait lainnya •


e.        
Karyawan lembaga pendidikan pun harus terampil menggunakan beragam aplikasi TI
untuk mendukung tugas dan aktivitas operasional mereka sehari-hari dalam
mengelola berbagai hal dan keperluan terkait dengan penyelenggaraan kegiatan
belajar mengajar.


f.         
Pimpinan lembaga pendidikan, yang memiliki tanggung jawab tertinggi dalam hal
efektivitas penyelenggaran jasa yang ditawarkan, harus mampu melakukan analisa,
pengawasan, dan penilaian terhadap jalannya institusi yang dipimpin. Pemerintah
dalam hal ini, sebagai pemegang kebijakan tertinggi dalam sistem pendidikan di
tanah air, harus mampu membuat terobosan agar setiap institusi pendidikan
nantinya tidak mengalami kesulitan dalam mengadakan atau mengakses berbagai
infrastruktur teknologi yang diperlukan dalam meningkatkan kinerja penyelenggaraan
belajar mengajar tersebut .


 


3.   
PENGUKURAN TINGKAT KEMATANGAN STAKEHOLDER


Dengan
berpegang pada ketujuh tipe stakeholder tersebut, maka dapat dibuat sebuah
pendekatan ringkas pengukuran tingkat kematangan para stakeholder tersebut.
Mengacu pada standar tingkat kematangan yang diprakarsai oleh Software
Engineering Institute - ketika yang bersangkutan memperkenalkan konsep
Capability Maturity Model - dan diadopsi oleh sejumlah pakar dan praktisi dalam
berbagai pendekatan konsep serupa, ada enam  level kematangan yang
dimaksud. Dalam konteks implementasi TI bagi pendidikan, keenam tingkatan yang
dimaksud adalah sebagai berikut:


 Tingkat
Istilah Keterangan


0
Ignore Tidak perduli


1
Aware Perduli, tanpa aktivitas.


2
Plan Ada rencana, tanpa aksi.


3
Execute Menerapkan aplikasi.


4
Measure Mengukur kinerja.


5
Excel Meningkatkan kualitas.


Seorang
pemegang kepentingan atau stakeholder dikatakan berada pada level  0 jika
yang bersangkutan sama sekali tidak perduli dengan konteks TI dalam dunia
 pendidikan. Sementara nilai 1 diberikan kepada mereka yang secara
paradigmatik sepakat akan pentingnya TI untuk pendidikan, namun tidak
memperlihatkan sejumlah usaha atau aktivitas yang mendukung prinsip tersebut.
Selanjutnya angka 2 diberikan kepada stakeholder yang telah memiliki rencana
untuk menjalankan sejumlah aksi terkait dengan pengadaan dan implementasi
aplikasi yang ada sesuai dengan peranannya, namun belum melakukan kegiatan
nyata apapun (baca: rencana di atas kertas). Tingkat minimum yang ditargetkan
adalah 3, dimana stakeholder yang dimaksud telah secara sungguh-sungguh
menerapkan aplikasi atau peranan TI yang dimaksud dalam wilayah kepentingannya.
Level berikutnya adalah 4, dimana sang stakeholder telah berani melakukan
pengukuran secara kuantitatif maupun kualitatif terhadap tingkat efektivitas
atau kesuksesan penerapan TI yang ada. Dan akhirnya nilai tertinggi 5 diberikan
kepada stakeholder yang secara kontinyu dan berkesinambungan berusaha untuk
meningkatkan kualitas implementasi TI-nya (baca: best practice). Memperhatikan
bahwa setiap stakeholder memiliki sifat dan karakteristik yang unik, maka table
kematangan yang ada perlu dikembangkan lebih lanjut agar lebih mencerminkan
keadaan perilaku yang sebenarnya..


-          
Contohnya misalnya untuk stakeholder orang tua atau sponsor siswa. Arti dari
angka kematangan tersebut jika diimplementasikan dalam konteks kebutuhan mereka
adalah sebagai berikut:


0.
Jika yang bersangkutan tidak perduli apakah siswa yang disponsorinya akan
diserahkan kepada lembaga yang menerapkan TI atau tidak.


1.
Jika yang bersangkutan perduli akan perlu adanya TI dalam sebuah institusi
pendidikan, namun tidak dijadikan criteria signifikan dalam pemilihan lembaga
pendidikan bagi siswa.


2.
Jika yang bersangkutan memberikan nasehat kepada siswa untuk memilih hanya
institusi pendidikan yang di dalamnya telah memanfaatkan TI sebagai fasilitas
dan sarana penunjang kegiatan belajar mengajar.


3.
Jika yang bersangkutan mengharuskan siswa yang disponsorinya untuk melamar
hanya pada institusi pendidikan yang telah menerapkan TI.


 4.
Jika yang bersangkutan mengadakan komparasi antara satu institusi dengan
lainnya dalam hal efektivitas penerapan TI di lembaga tersebut.


5.
Jika yang bersangkutan hanya mau mensponsori siswa terkait dapat institusi
pendidikan yang dikenal  .


4.
   NILAI STRATEGIS PENGUKURAN


Seperti
halnya pada konsep yang lain, mengukum tingkat kematangan pemanfaatan TI di
dunia pendidikan akan memberikan sejumlah manfaat sebagai berikut: • Mengetahui
sejauh mana sebuah institusi telah memanfaatkan secara penuh potensi TI
bagi  kebutuhan peningkatan kinerja pendidikan tinggi; • Mengkaji kesiapan
stakeholder sebuah institusi pendidikan saat ini untuk dipersiapkan manajemen
perubahan yang cocok; • Memperkirakan resiko yang akan dihadapi dalam proses
sosialisasi pemanfaatan TI di insitusi pendidikan dilihat dari sisi tinggi
rendahnya resistensi; • Mengetahui target pola pikir dan pola tindak yang harus
dimiliki oleh setiap stakeholder terkait dalam sebuah institusi pendidikan. • Menjadi
indikator aktivitas peningkatan kinerja TI di sebuah institusi pendidikan dari
waktu ke waktu; dan • Merupakan alat ukur perbandingan antara satu institusi
pendidikan dengan lainnya.


 


Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/610/mengukur-tingkat-kematangan-pemanfaatan-teknologi-informasi-untuk-institusi-pendidikan.html