Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
PROXY WAR
2015-03-09 11:47:40 - by : Msuhari


PROXY WAR


(PERANG BONEKA/PERANG ADU DOMBA)


By : Pns Yudo



 


1.         Apa itu
Perang Proxy


            Menurut Wikipedia
Bahasa Indonesia Perang proksi
adalah perang yang terjadi ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga
sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung. Sementara kekuasaan
kadang-kadang digunakan pemerintah sebagai proksi, aktor non-negara kekerasan,
dan tentara bayaran, pihak ketiga lainnya yang lebih sering
digunakan. Diharapkan bahwa kelompok-kelompok ini bisa menyerang lawan tanpa
menyebabkan perang skala penuh. Menurut KASAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo "Proxy war adalah sebuah konfrontasi
antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari
konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi resiko konflik yang
beresiko kehancuran fatal."


KASAD mengatakan, perang proxy biasanya dimanfaatkan
oleh pihak ketiga.  Yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara
kecil, namun kadang pemain itu bisa pula berupa non state actors, seperti LSM,
Ormas, kelompok masyarakat atau perorangan. "Proxy merupakan kepanjangan
tangan dari suatu negara yang berupaya mendapatkan kepentingan strategisnya
namun menghindari keterlibatan langsung suatu perang yang mahal dan
berdarah," katanya.


2.         Indikasi
Perang Proxy di Indonesia.    
Menurut Jendral TNI Gatot Nurmantyo indikasi adanya
proxy war di Indonesia diantaranya:


a.   
Gerakan separatis


b.   
Demonstrasi massa


c.   
Sistem regulasi yang
merugikan


d.   
Peredaran narkoba


e.   
Pemberitaan media
yang provokatif


f.    
Penyebaran pornografi
dan seks bebas


g.   
Tawuran pelajar, dan


h.   
Bentrok antar
kelompok.


Menurut para pengamat politik
dan pakar ilmu strategy global negara adikuasa di dunia ini sebuah fakta nyata
ataukah hanya sebuah ilusi dan paranoid. Terdapat hasil diskusi akademis yang dikeluarkan oleh :


 


a.            Universitas
Indonesia, Depok, Jawa Barat, 10 Maret 2014
. Proxy War dapat dilakukan pihak asing terhadap
Indonesia dalam bentuk:


1)   
Menjadikan Indonesia
sebagai pasar produk pihak asing.


2)           
Menghambat
pembangunan dan pengembangan kwalitas Sumber Daya Manusia Indonesia agar kalah bersaing dalam era Pasar
Bebas Dunia.


3)           
Merekrut generasi
muda Indonesia dengan indoktrinasi disertai fasilitas pendidikan dan materi,
agar mau jadi agen negara asing, agar kalau mereka jadi pemimpin bangsa
Indonesia dikemudian hari, akan bisa dikendalikan oleh pemerintah negara asing
tersebut.


4)           
Negara asing akan
melakukan investasi besar besaran di bidang industri strategis, agar menguasai
sektor industri strategis di Indonesia (Migas, Pertambangan, Listrik,
Komunikasi, Satelit, Alat Utama Sistem Senjata Militer RI, Saham Bluechip, dll).


5)           
Pihak asing berusaha
menciptakan Pakta Pasar Bebas Regional dan Dunia, agar produk lokal Indonesia
menjadi tertekan dan hancur. Melakukan penetrasi, penyusupan, suap, kolusi
dengan pihak anggota legislatif Indonesia, agar produk hukum strategisnya akan
menguntungkan pihak asing.


6)           
Menciptakan kelompok
teroris di Indonesia, agar dengan dalih untuk memerangi terorisme dunia, pihak asing dapat leluasa melakukan
intimidasi dan campur tangan masuk ke Indonesia dengan dalih untuk
menghancurkan terosrisme dunia.


7)           
Membeli dan menguasai
media massa, baik cetak maupun elektronik, untuk membentuk opini publik yang
menguntungkan pihak asing. Menguasai industri teknologi komunikasi tingkat tinggi, seperti satelit komunikasi
dan sateli mata mata, agar dapat menyadap dan memonitor seluruh percakapan
pejabat penting Indonesia, juga lokasi kekuatan militer Indonesia, serta
kekayaan tambang Indonesia.


8)         Memecah belah dan mengahancurkan generasi muda
Indonesia dengan narkoba, pergaulan
seks bebas, budaya konsumtif, bermalas malasan.


 


b. Universitas
Brawijaya, memberikan hasil diskusi tentang Proxy War di Indonesia, hampir sama
dengan hasil dari Universitas Indonesia.


 


c.  Hasil Diskusi ilmiah Institut Teknology Bandung, juga
hampir sama.


 


d. Hasil diskusi
ilmiah dari Lembaga Ketahanan Nasional jakarta, 19 Juni 2014, juga hampir sama.


 


3.         Upaya
Mengatasi Proxy War


a.         Kepada TNI
AD
.      Dalam Amanat
Kepala Staf Angkatan Darat pada upacara pengibaran bendera yang dilaksanakan
setiap tanggal 17 setiap bulannya yang berlangsung di lapangan Olah Raga Pusdik
Arhanud pada bulan Pebruari 2015 mengatakan "Ancaman proxy war, dalam konteks
kepentingan nasional Bangsa Indonesia, harus terus diwaspadai dan disikapi
secara bersungguh-sungguh. Dalam Kaitan itu, kepada seluruh prajurit TNI AD
saya perintahkan agar senantiasa membentengi diri, keluarga dan satuan
masing-masing dari pengaruh dan ancaman bahaya proxy war dengan :


1)         Perkuat iman dan taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa


2)         Jaga soliditas satuan,
serta


3)         Jadikan selalu Sapta Marga, Sumpah
Prajurit dan 8 Wajib TNI sebagai landasan dalam berfikir, berbuat dan bertindak
dalam bentuk kehidupan para Prajurit".


Kepala Staf Angkatan Darat menegaskan, agar kita pedomani pesan Panglima
Besar Jenderal Soedirman yang disampaikan puluhan tahun yang lalu, yang masih
tetap sesuai untuk kita terapkan dalam menghadapi bahaya dan ancaman proxy war


Janganlah mudah tergelincir dalam saat yang akan menentukan nasib bangsa
dan negara kita, seperti yang kita hadapi pada dewasa ini, fitnah yang besar
atau halus, tipu muslihat yang keras atau lemah, provokator yang tampak atau
sembunyi, semua itu insya Allah dapat kita lalui dengan selamat, kalau saja
kita tetap awas dan waspada, memegang teguh pendirian cita-cita, sebagai
patriot Indonesia yang sejati.


 


b.         Kepada Mahasiswa/Pemuda.     Menurut KASAD Jenderal TNI
Gatot Nurmantyo dihadapan para mahasiswa Universitas Sumatera Utara bahwa pemuda sebagai tulang punggung bangsa harus menyadari
bermacam tantangan dan ancaman bangsa tersebut untuk kemudian bersatu padu dan
bersinergi menjaga keselamatan bangsa dan negara. Sejumlah aksi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa
untuk menangkal proxy war diantaranya dengan:


1)   Selalu mengidentifikasi
dan mengenali masalah


2)   Ahli dalam bidang
disiplin ilmu masing-masing


3)   Melakukan gerakan
pemuda berbasis wirausaha, dan


4)  Mengadakan komunitas
belajar serta merintis program pembangunan karakter.


Untuk itu pemuda, dalam hal ini mahasiswa, harus membekali
diri dengan ilmu, keahlian, dan keterampilan sesuai bidangnya. Wawasan luas,
berpengalaman untuk membentuk karakter dan berwawasan kebangsaan sehingga mampu
melawan dan menghancurkan proxy war di Indonesia.


Di masa yang akan datang, lanjut Scharmer,
dunia, negara, provinsi, kabupaten/kota, komunitas, dan lembaga akan
bersama-sama membentuk "global forum" :


1)           
Dalam semangat dan komitmen memilih tanpa harus menghakimi


2)           
Menentukan tanpa harus menyalahkan


3)           
Memutuskan tanpa harus merendahkan


4)           
Menonjolkan tanpa harus meniadakan


5)           
Unity in diversity (Bhinneka Tunggal Ika), dan


6)           
Semangat gotong royong.


 


4.         Kesimpulan.                        Menurut KASAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dalam
bukunya yang berjudul: "PERAN PEMUDA DALAM MENGHADAPI PROXY WAR", Proxy War
adalah sebuah konfrontasi antara dua negara yang menggunakan "Peran
Pengganti/boneka/antek antek", dalam berkonfrontasi dan memenangkan
konfrontasi, agar tidak berkonfrontasi secara frontal, terbuka dan berisiko
kehancuran yang fatal,


Biasanya pihak yang dijadikan
boneka/antek dalam Proxy War, adalah LSM, Ormas, Kelompok Masyarakat ataupun
tokoh masyarakat perorangan, yang eksis dinegara sasaran, yang memiliki
kemampuan dan jaringan luas dan pengaruh kuat dikalangan masyarakat negara
sasaran tapi mereka bisa
dibeli dan mau menghianati bangsanya untuk mendapatkan kekuasaan, jabatan dan
kekayaan dari pihak negara penyerang.


Melalui Proxy War ini, tidak
dapat dikenal dengan jelas siapa lawan dan siapa kawan, karena negara penyerang
mengendalikan "Boneka/Non State Actors" ini dari luar negeri. Negara penyerang
akan membiayai semua dana operasi dan imbalan bagi para non state actors ini,
dengan syarat mereka mau melakukan semua keinginan penyandang dana Proxy War
ini.


 


 


Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/601/proxy-war.html