Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
IMPLIKASI TIK TERHADAP STRATEGI PERTAHANAN
2014-07-02 13:14:32 - by : kusnadi

IMPLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI DAN MANAJEMEN PERTAHANAN


"If
the 1980′s were about quality and the 1990′s were about reengineering,
then the 2000′s will be about velocity". (Bill Gates, At the Speed of
Thought)


Pendahuluan


Saat ini, teknologi informasi sudah
menyentuh setiap aspek kehidupan manusia. Teknologi informasi tidak
hanya dipakai dalam bidang industri ataupun ekonomi, tetapi juga di
bidang pertahanan dengan implikasi yang sangat luas terutama di tinjau
dari perumusan strategi maupun penerapan manajemen. Implikasi teknologi
informasi dilihat dari sisi strategi dan perumusan doktrin menyebabkan
terjadinya pergeseran apa yang oleh Clausewitz disebut sebagai "
center of gravity " yaitu dari konsep penguasaan medan kritik menjadi
penguasaan informasi. Oleh karenanya hakekat ancaman pun, bergeser dari
ancaman yang datang dari negara (state threat) melalui penggunaan
senjata pemusnah massal menjadi kelompok (non state threat) dengan
penguasaan teknologi tinggi. Sedangkan dari sisi penerapan manajemen
terjadi pergeseran paradigma dari manajemen yang semula terfokus pada
kualitas bergeser menuju reengineering dan terakhir mengacu pada
kecepatan (velocity) melalui konsep Knowledge Management (KM).


Susjemen Rengarhan yang tengah berjalan
saat ini mengajarkan salah satu topik manajemen khususnya tentang
perencanaan strategik / PS (strategic planing). Inti dari kursus ini
adalah latihan praktek penyusunan dokumen strategik jangka pendek
berupa Daftar Usulan Kegiatan (DUK) dan Daftar Usulan Proyek (DUP). DUK
dan DUP merupakan aplikasi dari perencanaan strategis, yang merupakan
produk manajemen modern di era 80 an, yang saat ini sudah mulai
ditinggalkan. Dalam pelaksanaan kursus ini pun, sistem pengajarannya
masih menggunakan paradigma "murid belajar bila ada guru". Dengan
sistem ini maka outcome yang dicapai tidak akan maksimal apabila
dibandingkan dengan sistem "self paced study" yang mampu menjamin
transfer pengetahuan (knowledge) secara lebih baik.


Pusdiklatjemen dengan visinya sebagai
"center of excellent" dalam bidang manajemen hendaknya menyesuaikan
dengan teknologi informasi dan mengimpementasikannya dalam setiap
penyelenggaraan kursusnya. Ada beberapa kemungkinan implementasi
teknologi informasi mulai dari memanfaatkan teknologi dalam rangka
penyusunan bahan ajaran yang mengacu pada self paced study tutorial
menggunakan komputer / Computer Based Tutorial (CBT), sampai dengan
pembudayaan Knowledge Management (KM). Apabila Pusdiklatjemen tidak
memanfaatkan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pendidikannya
maka apa yang dicita-citakan menjadi center of excellent akan berhenti
sebagai slogan belaka.


Dalam orasi ini, kami peserta Susjemen
Rengarhan XXII TA 2003 akan memberikan gambaran tentang implikasi
teknologi informasi dalam mendukung manajemen modern dan sekaligus
memberikan kenang-kenangan kepada lembaga yang berbeda dari para
peserta kursus sebelmunya. Kenang-kenangan tersebut merupakan salah satu
contoh implementasi sederhana teknologi informasi dengan biaya yang
relatif murah namun dapat menunjang pengambilan keputusan berdasarkan
manajemen yang mengakomodasikan kecepatan (velocity)


Teknologi Informasi dan Strategi


Dewasa ini perkembangan teknologi
informasi bukan lagi merupakan evolusi tetapi sudah merupakan lompatan
sangat cepat (leap) yang mengagumkan. Data tahun 90 an menunjukan bahwa
peningkatan kemampuan komputer menjadi dua kali lipat setiap delapan
belas bulan, dan jumlah pengguna internet meningkat dua kali lipat
setiap setiap tahunnya. Serat optik tunggal mampu menghantar satu
setengah juta percakapan dalam waktu yang bersamaan, sedangkan compact
disk (CD) mampu menyimpan data sangat besar. Kemajuan semacam ini
tentunya membawa implikasi yang sangat luas dalam bidang pertahanan
terutama dalam perumusan strategi dan hakekat ancaman.


1. Perumusan Strategi.


Informasi merupakan aset yang strategis
bagi setiap organisasi. Inilah yang menyebabkan mengapa banyak
pemerintahan ataupun badan tertentu menghabiskan jutaan bahkan miliaran
dolar untuk mendapatkan informasi mengenai segala sesuatu yang
berkaitan dengan ancaman potensial bagi keamanan mereka. Tanpa
informasi yang tepat dapat menyebabkan kegagalan khususnya dalam bidang
pertahanan, sehingga kemampuan untuk menyediakan informasi potensial
merupakan faktor yang sangat menentukan dari kekuatan pertahanan suatu
negara.


Dalam doktrin militer, informasi
merupakan bagia integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci
setiap operasi. Dengan demikian maka setiap langkah yang diambil
ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi.


Kemajuan teknologi informasi menyebabkan
terjadinya pergeseran konsep memenangkan perang. Pada awalnya, cukup
dengan konsep Komando dan Kendali (Kodal / K2), yang pada prinsipnya
merupkan hubungan intern antara komandan dengan anak buahnya dalam
tugas operasi. Tetapi kemudian, ternyata komunikasi dengan kesatuan lain
dalam suatu operasi menjadi suatu keharusan. Maka lahirlah konsep baru
yaitu Komando, Kendali, dan Komunikasi [K3]. Dengan teknologi
komunikasi yang semakin mutakhir, keterangan atau data intelijen (K3I) /
Command, control, communications and intelligence (C3I). Di era 90 an,
dengan kemajuan teknologi komputer lahirlah konsep Komando, Kendali,
Komunikasi, Komputer dan Intelijen (K4I). Meskipun di Indonesia, K4I
masih menjadi angan-nagan tetapi paling menyiratkan adanya kuatu
pandangan bahwa sistem informasi yang berbasiskan komputer menjadi
fungsi yang sangat penting dalam peperangan. Saat ini menurut para
analis, ada konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer,
Intelijen, dan Manajemen Pertempuran (k4I / MP) sebagai satu kesatuan
yang bulat dalam rangka memenangkan pertempuran. (command, control,
communications, computers, intelligence and battle management -C4I /
BM). Hal ini menunjukan bahwa ternyata teknologi saja tidak cukup untuk
memenangkan pertempuran tetapi manajemen pertempuran juga memegang
peran penting dalam memenangkan perang.


Clausewitz dengan teori center of gravity
menyatakan barang siapa menguasai titik berat dialah yang memenangkan
perang. Berdasarkan teori ini, perang berkembang dari waktu ke waktu
sesuai perkembangan teknologi. Pada saat awal perkembangan teknologi,
barang siapa menguasai medan strategis, menguasai suatu wilayah, yang
dalam skala yang lebih luas, barang siapa menguasai daerah Eropa dan
Balkan (heart land), menguasai dunia. Dalam tahap selanjutnya, dengan
kemajuan teknologi kelautan, maka barang siapa menguasai lautan,
menguasau dunia. Setelah teknologi kedirgantaraan berkembang, maka
barang siapa menguasai udara, menguasau dunia. Ini terbukti dengan
perlombaan yang seru antara negara adi daya untuk memajuan Angkatan
Udaranya, sehingga doktrin perangnya pun berubah dengan mengedepankan
serangan udara strategis. Dengan perkembangan teknologi kedirgantaraan
yang semakin pesat, maka barang siapa menguasai udara dengan ketinggian
50.000 mil atau lebih, mengasai dunia. Terlebih lagi bila dapat
menguasai lunar libration points atau yang lebih dikenal dengan L4 dan
L5 yang merupakan tempat - tempat dimana gaya gravitasi bulan dan bumi
sama besarnya. Kemajuan teknologi ini mencetuskan konsep Perang Bintang
pada jaman presiden Ronald Reagan. Di era 90 an semenjak perkembangan
teknologi informasi menjadi sangat pesat, maka barang siapa menguasai
informasi, menguasai dunia. Inilah yang mendorong negara adi daya untuk
berlomba - lomba memasuki medan peperangan yang baru yaitu perang
informasi terutama dengan memanfaatkan media masa dan jaringan informasi
global. Hal ini dapat dibuktikan dengan kejatuhan pemerintahan seperti
Haiti dan Uni Soviet, yang tidak terlepas dari perang informasi global
tersebut.


Dengan adanya perubahan konsep perumusan
strategi maka sebagai konsekuensinya akan merubah manajemen terutama
dari sisi cara kerja organisasi, skala organisasi, dan integrasi
sistem.


Dari sisi cara kerja, organisasi militer
saat ini memerlukan personel yang "pintar", untuk mengawaki teknologi
yang cukup canggih. Konsekuensinya personel militer haruslah mengenyam
pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan orang bisnis. Sebagai bukti,
hasil survei yang dilaksanakan oleh Nort Carolina's Center for Creative
Leadership menyatakan hanya 19 persen dari manager di Amerika
mempunyai pendidikan post graduate. Jadi, dalam peperangan saat ini
terbukti bahwa tentara tidak hanya sekedar menarik platuk saja tetapi
harus mempunyai kemampuan yang cukup tinggi.


Dari sisi skala organisasi, Teknologi
Informasi membuat organisasi militer menjadi lebih flat, sehingga
pengendalian dapat dilakukan dengan lebih longgar. Konsekuensinya,
kekuasaan pengambilan keputusan dapat diserahkan pada tingkat serendah
mungkin.


Dari sisi integrasi sistem, Teknologi
Informasi membuat kompleksitas pada organisasi pertahanan lebih berat
dari pada sebelumnya. Kompleksitas ini dapat diatasi dengan menggunakan
peranti lunak yang dirancang untuk keperluan tersebut, terutama
peranti lunak Data Base. Dengan demikian integrasi sistem dalam
organisasi militer menjadi lebih baik.


2. Hakekat Ancaman


Kemajuan teknologi pun menyebabkan
terjadinya pergeseran hakekat ancaman. Saat ini hakekat bergeser dari
yang sifatnya berasal dari negara (state threat) berideologi tertentu
dengan kekuatan senjata menuju pada kelompok (non state threat) dengan
tingkat penguasaan teknologi yang tinggi. Menurut Robert D. Steele
dalam bukunya The Transformation of War and the Future of the Corps
saat ini lawan / hakekat ancaman dikelompokkan menjadi :


a. Militer dengan sistem yang canggih dengan dukungan logistik yang sangat kuat (the high - tech brute)


b. Gabungan antara para penjahat dan teroris seperti penyelundup narkoba (the low - tech brute)


c. Kelompok massa tanpa senjata yang biasanya didorong oleh faktor agama, ideologi / SARA (the low - tech seer)


d. Gabungan antara para penjahat informasi
dan spionase ekonomi dengan penguasaan teknologi yang tinggi seperti
para hacker (the high - tech seer)


Dilihat dari penguasaan teknologi saat ini
dunia terbagi menjadi dua kutub yaitu negara berteknologi tinggi dan
negara yang relatif tertinggal secara teknologi. Penguasaan teknologi
yang sangat maju justru menjadi ancaman bagi negara yang bersangkutan.
Sebagai contoh, Amerika Serikat sebagai negara yang menguasai teknologi
menyadari bahwa penguasaan teknologi berpotensi menjadi ancaman bagi
negaranya. Seperti yang dinyatakan dalam konferensi tahunan yang
diadakan oleh Army War College tahun 1998 dengan tajuk Challenging the
United State Symmetrically and Asymmetrically : Can America be Defeated
?. Dari hasil konferensi tersebut diperoleh jawaban yang jelas yaitu
bahwa Amerika tidak akan dapat ditaklukkan melalui serangan militer
yang simetris (seimbang), tetapi Amerika dapat ditaklukkan dengan
serangan yang asimetris (tidak seimbang).


Teknologi berpotensi menjadi ancaman
menonjol yang sifatnya asimetris (asymmetric threat). Ancaman asimetris
ini ternyata menjadi kenyataan dengan terjadinya serangan yang dikenal
sebagai 911 terhadap WTC (World Trade Center) oleh kelompok tertentu
(low tech seer) dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi transportasi.
Sasaran serangan teroris terhadap WTC dan Pentagon adalah untuk
menghancurkan simbol kedigdayaan teknologi Amerika. Dari kejadian ini
dapat ditarik kesimpulan bahwa teknologi canggih disamping merupakan
sarana mengungguli lawan dalam rangka memenangkan perang juga sekaligus
merupakan sumber ancaman yang potensial.


Masih berkaitan dengan teknologi, ancaman
yang menonjol pada saat ini dan jangka waktu ke depan justru berasal
bukan dari negara luar tetapi berasal dari kerawanan yang timbul akibat
kemajuan teknologi (non state threat). Sebagai contoh, pembelian
komputer dan peralatan berteknologi tinggi lainnya; pembangunan dam /
pusat listrik; industri; jaringan telekomunikasi; dan sebagainya.


Pemanfaatan dan pembangunan teknologi
tinggi seperti ini akan sangat potensial menjadi ancaman bagi negara
bila tidak disertai tindakan pengamanan yang memadahi. Ingat kejadian
911 dilakukan dengan menggunakan dua "peluru kendali raksasa berawak"
dengan kode boeing 767 yang merupakan bagian dari industri transportasi
Amerika.


Teknologi Informasi dan Manajemen


Alvin Toffler membagi sejarah peradaban
manusia dalam tiga gelombang yaitu era pertanian, era industri dan era
informasi. Dalam ketiga era tersebut, teknologi menjadi faktor
pendorong terjadinya perubahan (enabler). Dalam era pertanian karena
teknologi belum begitu berkembang maka faktor yang menonjol adalah
Muscle (otot) karena pada saat itu produktivitas ditentukan oleh otot.
Dalam era industri, faktor yang menonjol adalah Machine (mesin), dan
pada era informasi faktor yang menonjol adalah Mind (pikiran,
pengetahuan). Alvin juga melukiskan milenium ketiga ini sebagai terra
incognita, daerah yang tak dikenal. Dalam dunia semacam itu, maka
perspektif Newtonian mengenai perubahan yang linear dan dapat
diramalkan menjadi usang dan digantikan oleh teori kekacauan (chaos
theory). Perubahan yang terjadi menjadi tidak linear, discontinue dan
tak dapat diramal. Kondisi semacam inilah yang menjadi tantangan bagi
manajemen modern. Akibatnya, kondisi tersebut menyulitkan kita dalam
merencanakan masa depan. Karena itu, konsep perencanaan strategis (PS)
yang pernah amat populer hingga era 1980-an kini mulai ditinggalkan
orang. Pemikir manajemen termuka, Henry Mintzberg, menulis berita
kematian PS dalam artikel yang berjudul The Rise and Fali of Strategic
Planning (1994). Bahkan di Harvard Business School - Amerika Serikat
tumbuh anggapan bahwa PS menghambat manajemen yang baik.


Dalam praktek PS seperti penyusun DUK dan
DIK sering hanya menjadi ritual tahunan untuk merebut sebanyak mungkin
sumber daya dengan memperjuangkan program-program yang ditawarkan.
Kegagalan PS membuat banyak organisasi kembali menuangkan strategi masa
depannya dalam bentuk visi strategis, karena visi menentukan sasaran
utama organisasi dan mengilhami setiap orang untuk mengejar satu tujuan
bersama. Patricia Jones dan Larry Kahaner (1994) yang meneliti berbagai
perusahaan terkemuka di AS, menemukan banyak perusahaan yang menulis
kembali pernyataan visi dan misi mereka ketika melakukan
restrukturisasi dan rekayasa ulang. Namun demikian, banyak organisasi
yang menyatakan memiliki visi tetapi tak berdampak apapun bagi
organisasi, karena hanya diperlakukan sebagai slogan tak bermakna.
Padahal visi membutuhkan penghayatan dan menjadi dasar dari segala
tindakan dalam pengambil keputusan. Menjalankan visi secara benar akan
memberikan dampak yang sangat baik bagi organisasi. Hal ini disebabkan
oleh :


Pertama, visi memberikan sense of
direction yang amat diperlukan untuk menghadapi krisis dan berbagai
perubahan. Tanpa visi yang jelas, sulit bisa keluar dari krisis.
Sebagai contoh, Bangsa Indonesia tidak memperlakukan "Menciptakan
masyarakat adil dan makmur" sebagai suatu visi, tapi sebagai slogan
pembangunan. Karena itu, sampai saat ini banyak masalah yang tak jelas
arah penanganannya.


Kedua, visi memberikan fokus. Fokus
merupakan faktor kunci daya saing organisasi untuk tampil menjadi yang
terbaik. Dalam bisnis, hanya perusahaan yang fokus lah yang menjadi
pemenang. Sebagai contoh, group Modern mengalami banyak kemunduran
karena ketidak fokusannya dalam menjalankan core businessnya.


Ketiga, visi memberikan identitas kepada
seluruh anggota organisasi. Ini baru terjadi bila setiap individu
menerjemahkan visi tersebut menjadi visi dan nilai pribadi mereka.
Sebagai contoh, di perusahaan Fedex pernah terjadi seorang kurir surat
berani memutuskan memesan helikopter untuk menjamin sampainya barang ke
tujuan pada waktunya, karena ia yakin keputusannya itu mendukung
manajemen.


Keempat, visi memberikan makna bagi orang
yang terlibat di dalamnya. Orang menjadi lebih bersemangat dan
menghayati pekerjaan yang tujuannya jelas. Sebagai contoh, tukang sapu.
Tanpa visi, menyapu berarti sekedar memindahkan sampah dari satu
tempat ke tempat lain. Ini tentu amat membosankan, namun tukang sapu
yang bervisi menyadari akan hakikat pekerjaannya sebagai pekerjaann
yang bermakna.


Saat ini adalah momentum yang tepat bagi
Dephan untuk merumuskan kembali visi organisasi, karena dalam visi juga
terkandung kepemimpinan. Saat ini banyak organisasi yang terlalu
banyak dikelola (overmanaged) tapi kurang dipimpin (underled). Ini
terjadi karena pimpinan hanya pandai membuat berbagai kebijakan dan
prosedur, tapi kurang cakap menciptakan visi ke depan yang menarik dan
memberikan inspirasi kepada semua orang dalam organisasinya. Jadi terra
incognita antara lain dapat dihadapi dengan perumusan visi yang jelas.
Disamping diatasi dengan perumusan visi yang jelas, ketidak pastian di
jaman ini dapat pula diatasi dengan memanfaatkan teknologi informasi
dalam rangka memperoleh informasi secara cepat. Untuk memperoleh
informasi secara cepat diperlukan pengetahuan yang sudah tersusun
secara rapi dalam organisasi. Knowledge (pengetahuan) merupakan satu
hal yang sangat mutlak untuk mengantisipasi jaman yang mengandalkan
kecepatan (velocity). Dalam kaitan dengan hal ini, ada cabang manajemen
yang relatif baru yaitu Knowledge Management (KM).


Sebenarnya konsep pengelolaan pengetahuan
merupakan konsep lama, bahkan sama tuanya dengan umur manusia di dunia
ini. Hanya saja bedanya dengan KM memungkinkan kita untuk tidak perlu
memulai segalanya dari nol lagi. (We don't have to always reinventing
the wheel).


Konsep KM ini menjadi populer karena
kompetisi yang kian tajam dalam memperoleh keunggulan. Ketatnya
kompetisi menyadarkan orang bahwa penguasaan pengetahuanlah yang
menentukan keunggulan. Keunggulan pada saat ini dirumuskan dalam
formula : faster, cheaper and better. Sebagai contoh, Microsoft pada
awalnya hanya bermodalkan intelektual kini dapat menciptakan aset fisik
dan finansialnya secara luar biasa bahkan menjadikan Bill Gates salah
seorang terkaya di dunia. Inilah bukti dari hasil kapitalisasi
pengetahuan.


KM terdiri dari 3 komponen utama yaitu
people, place dan content. KM membutuhkan orang yang kompeten, tempat
untuk melakukan diskusi, dan isi dari diskusi itu sendiri. Dari ketiga
komponen tersebut peran teknologi informasi adalah mampu menghilangkan
kendala mengenai tempat melakukan diskusi. TI memungkinkan terjadinya
diskusi tanpa kehadiran kita secara fisik. Dengan demikian sinergi
dapat terus diadakan walaupun kita tidak bertatap muka. Dalam
pelaksanaan KM menghadapi masalah utama yaitu masalah perilaku. Pertama,
berkaitan dengan ketidakmauan orang untuk berbagi. Oleh karenanya
perlu ditumbuhkan mentalitas berkelimpahruahan (abundance mentality) ,
yang intinya adalah suatu keyakinan bahwa hasil yang maksimal hanya
dapat diciptakan dengan saling berbagi. Kedua berkaitan dengan ketidak
disiplinan untuk selalu menuliskan apa yang ktia dapatkan. Ini
merupakan suatu kendala karena budaya kita lebih cenderung pada budaya
lisan. Kita belum bisa mendisiplinkan diri untuk selalu menuliskan
pengetahuan dan pengalaman yang kita alami dalam suatu sistem sebagai
suatu aset organisasi.


Aset organisasi dalam manajemen dirumuskan
dengan 5M (man, money, method, machine, dan market). Manakah yang
terpenting diantara tiga aset yang dimiliki perusahaan : fisik,
keuangan, atau manusia? Banyak orang yang menjawab: manusia. Alasannya,
karena manusialah yang mengelola kedua aset yang lain, walaupun
faktanya, banyak yang lebih peduli aset fisik dan finansial daripada
manusia. Tetapi, benarkah semua orang dalam organisasi merupakan aset
organisasi? Thomas A. Stewart dalam bukunya Intelectual Capital, secara
tegas mengatakan "tidak". Menurut Stewart, yang benar-benar aset
hanyalah orang-orang tertentu, yang pekerjaannya berkaitan dengan
penambahan pengetahuan dalam organisasi. Stewart membagi karyawan dalam
empat kelompok, yaitu :


Pertama, pekerja yang tidak terampil dan
setengah terampil. Perusahaan memerlukan mereka, tetapi kesuksesan
perusahaan tak tergantung mereka.


Kedua, orang yang melakukan berbagai macam
aktivitas, tetapi tak menjadi faktor utama, seperti pekerja pabrik
yang terampil, sekretaris yang berpengalaman, bagian keuangan dan staf
pendukung lainnya. Mereka melakukan pekerjaan penting dan mungkin sulit
digantikan, tapi pekerjaan semacam itu tidak dipedulikan pelanggan.
Sebagai contoh, perusahaan periklanan yang menjadi faktor utamanya
bukanlah para pekerja seperti tersebut tetapi adalah tim kreatifnya.


Ketiga, para pekerja yang melakukan hal
yang dihargai tinggi pelanggan, tetapi sebagai individu mereka tidaklah
berguna. Sebagai contoh, buku membutuhkan desain sampul yang bagus,
sehingga memerlukan banyak perancang yang hebat. Namun untuk pekerjaan
semacam ini, perusahaan bisa melakukan outsourcing.


Keempat, sebagai kelompok yang disebut
Stewart sebagai the Stars, yaitu orang-orang dengan peran yang tidak
tergantikan sebagai individu. Mereka bisa saja peneliti, manajer
proyek, dan kelompol yang sejenis.


Mereka yang termasuk kelompok keempatlah
yang benar-benar merupakan aset bagi organisasi. Tanpa maksud
diskriminasi organisasi perlu memberikan perhatian penuh pada kelompok
ini, karena ditangan merekalah masa depan organisasi. Persoalannya,
bagimana memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga dapat
terakumulasi dan akhirnya menjadi aset organisasi.


Implikasi terhadap Pusdiklatjemen Dephan


Dari uraian diatas, maka untuk tetap
menyandang sebutan sebagai center of excellent dalam bidang manajemen
maka Pusdiklatjemen seyogyanya melakukan berbagai pembenahan yang
meliputi :


a. Membangun sistem informasi yang baik
dan menyusun bahan ajaran yang memungkinkan self paced study (ini tidak
harus menggunakan komputer)


b. Memanfaatkan teknologi informasi yang
meliputi pengembangan sistem informasi yang berbasiskan komputer
(computer based informatian system/CBIS) untuk mendukung kegiatan
operasional pendidikan, pembangunan peranti lunak pengajaran lewat
komputer (computer based tutorial/CBT) dan sistem pakar (expert
system/ES) dan digital library.


c. Menjadi pelopor dalam memperkenalkan
Knowledge Management di lingkungan TNI, sehingga organisasi tidak
terlalu tergantung pada personel tertentu tetapi tergantung pada sistem
yang baku.


d. Memanfaatkan peranti lunak yang
beredar di pasaran untuk lebih mengoptimalkan pelajaran seperti Network
Planning (NWP) yang dapat dibantu dengan memanfaatkan perangkat lunak
Manajemen Proyek seperti Microsoft Project, serta memanfaatkan peranti
lunak yang umum untuk menjamin kelancaran tugas yang sifatnya dapat
diotomatisasikan. Sebagai contoh, pembuatan template dalam tulisan atau
produk baku seperti surat menyurat dan produk tulisan dinas yang
lainnya.


e. Mengadakan evaluasi terhadap kurikulum
terutama dalam SBS manajemen yaitu memberikan pelajaran yang berkaitan
dengan reengineering dan yang berkaitan dengan prinsip akuntabilitas,
seperti pelajaran AKIP, karena pelajaran ini sangat penting bagi
kemajuan organisasi dan relevan dengan tantangan manajemen modern.
Sedangkan khusus dalam penyusunan dokumen strategis yang berkaitan
dengan manajemen pertahanan perlu diberi waktu yang lebih panjang agar
penguasaan terhadap praktek perencanaan strategis secara lebih baik.


Dengan implementasi teknologi informasi
seperti yang disebutkan secara singkat diatas, diharapkan
Pusdiklatjemen akan mampu mempertahankan diri sebagai center of
excellent di bidang manajemen di lingkungan Dephan dan TNI.


Demikianlah makalah "IMPLIKASI TEKNOLOGI
INFORMASI TERHADAP STRATEGI DAN MANAJEMEN PERTAHANAN" yang disusun
sebagai Orasi Ilmiah pada acara penutupan Kursus Menajemen Perencanaan
dan Penganggaran Pertahanan XXII TA 2003.


Pengertian :
a. Computer Based Information System /CBIS. Suatu sistem informasi
dalam suatu organisasi untuk keperluan pengambilan keputusan dengan
didukung oleh komputer sebagai alat utama.


b. Computer Based Tutorial /CBT. Salah
satu metode pengajaran yang menggunakan komputer sebagai sarana. Berisi
program-program pendidikan atau bahan ajaran yang pada umumnya dapat
dikerjakan secara interaktif antara siswa dengan komputer.


c. Manajemen adalah ilmu dan seni dalam rangka mengatur sumber daya dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.


d. Self Paces Study. Salah satu metode
pengajaran yang memungkinkan siswa belajar sesuai dengan minat dan
kemauannya, tanpa harus tergantung pada guru, dengan menggunakan buku
ataupun media yang lainnya.


e. Sistem Pakar (Expert System / ES).
Salah satu sistem pemanfaatan komputer untuk menggantikan peranan
tenaga ahli dalam suatu bidang. Sistem ini dapat pula digunakan untuk
membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan bidang yang
memerlukan keahlian khusus.


f. Strategi adalah suatu keputusan yang
berkaitan dengan bagaimana suatu masalah itu dipecahkan. Strategi
merupakan salah satu tingkat dari hirarki keputusan yaitu :


* Kebijakan (policy), yaitu keputusan yang berhubungan dengan apakah suatu masalah akan dipecahkan atau tidak.


* Strategi (strategy), yaitu keputusan yang berkaitan dengan bagaimana suatu masalah itu dipecahkan.


* Taktik (tactics), yaitu keputusan mengenai bagaimana strategi itu dapat diimplementasikan.


* Operasi (operation), yaitu keputusan mengenai bagimana taktik itu diimplementasikan.


g. Teknologi Informasi (TI) dapat
didefinisikan sebagai teknologi yang mempunyai kemampuan sedemikian
rupa untuk menangkap (capture), menyimpan (store), mengolah (process),
mengambil kembali (retrieve), menampilkan (represent) dan menyebarkan
(transmit) informasi. Perkembangan TI merupakan kombinasi antara
kemajuan pesat bidang ilmu komputer dan komunikasi.


Referensi


1. Alvin Toffler, Third Wave.


2. Alvin Toffler, War and Anti War.


3. Bill Gates, At the Speed of Thought.


4. Budiman SP, The Impact of Information Technology on Military Strategy.


5. Artikel dari Internet, Memulai Knowledge Management.


 


Perang modern tidak lagi dilakukan secara berhadap-hadapan antara dua pasukan di medan terbuka. Begitu
dimulai, perang ini akan lebih banyak dilakukan secara impersonal
dengan teknologi, dipersiapkan jauh-jauh hari, dikendalikan dari jarak
jauh, dan dilakukan malam hari. Pembantaian dibuat seperti play station, dan sang pembunuh tidak perlu mencium langsung bau anyir darah. Pada pembantaian di Iraq ini, perang sangat teroptimasi dengan teknologi informasi (IT) yang luar biasa.


IT pada pra-operasi militer


Jauh sebelumnya, intelijen AS akan memburu data dari semua penjuru. Satelit mata-mata AS membuat citra yang paling rinci yang pernah ada. Kalau
satelit sipil seperti Ikonos atau Quickbird hanya mampu membuat citra
dengan kehalusan pixel satu atau setengah meter, maka kita harus yakin
bahwa satelit mata-mata akan mampu membaca tulisan koran.


Sementara itu shuttle radar topographic mission telah memetakan topografi seluruh dunia dengan pixel lima meter. Ini data yang di-release untuk sipil. Berapa akurasi militer yang dirahasiakan, tidak kita ketahui.


Dengan citra dan topografi ini, AS bisa membuat
peta mutakhir daerah manapun tanpa perlu ijin atau sepengetahuan
pemerintah manapun. Memang, dari peta ini beberapa ciri bangunan atau nama-nama geografis belum bisa diketahui. Untuk
itulah AS akan mengirim spion untuk mengumpulkan informasi objek
terutama yang dianggap vital dan tak "terbaca" dari angkasa. Juga tempat-tempat yang diduga berranjau. Mereka akan "berwisata" sambil merekam objek-objek "menarik" dengan piranti sistem posisi global (GPS). Piranti ini begitu mungil, bisa ditaruh dalam jam tangan, atau korek api. Begitu melihat objek menarik, wisatawan gadungan ini akan mengaktifkan GPS, sehingga objek itu terekam beserta posisinya. Kalau spion ini salah, petanya juga salah. Akibatnya fatal. Di Beograd jet AS pernah membom kedubes Cina, yang dikiranya markas Slobodan Milosevic. Di Iraq juga ada apartemen yang disangka mes militer. Malah Saddam sendiri tak diketahui ada di mana.


AS memiliki peta yang lebih rinci dari otoritas nasional manapun di dunia. Dengan
data spasial tiga dimensi ini, pilot-pilot AS bisa melakukan simulasi
terbang yang sangat realistis atas kota-kota di dunia. Mereka juga bisa optimalkan rute gerak pasukan, baik di darat maupun udara. Model
elevasi digital (DEM) yang ada pada sistem ini juga yang menuntun
rudal jelajah Tomahawk atau pesawat Stealth ke sasaran dengan efisien,
tanpa takut menabrak gunung atau apapun.


Tapi itu semua belum cukup. AS juga ingin informasi tentang orang-orang yang perlu diawasi. Untuk
itu intelijen AS menyadap informasi yang lalu lalang via jaringan
telekomunikasi (dengan satelit AS), juga data perbankan dan data kartu
kredit. Dengan analisis database, maka kebiasaan orang-orang yang disorot dinas rahasia AS bisa diikuti. Ostrovsky (1990) dalam By Way of Deception melukiskan, bahwa dengan analisis database kartu kredit saja, CIA atau
Mossad bisa mempelajari penerbangan atau hotel apa yang sering dipakai
seseorang, berapa pengeluarannya, apa yang suka dibelinya, siapa yang
sering diteleponnya, siapa yang mengirim dana padanya, dan kapan dia ke
mana. Tak heran bahwa dinas-dinas rahasia itu punya background & insider information yang sangat rinci tentang tokoh-tokoh di negeri Islam. Mungkin di antara mereka ada yang berbakat jadi pengkhianat.


CIA-World-Fact-Book yang sering jadi referensi, adalah versi sipil dari bank data yang sangat lengkap. Di situ tersimpan data logistik di tiap daerah, yang di masa perang akan penting. Misalnya,
bahwa di suatu desa ada sekian penduduk, sekian yang bisa perang,
sekian janda (mungkin disiapkan untuk "hiburan" tentara AS), sekian ton
pangan, dan sebagainya. Informasi itu penting untuk manuver pasukan, evakuasi, ataupun menduga lokasi musuh dalam perang gerilya. Di Indonesia, data seperti ini dikelola Direktorat Topografi TNI-AD dengan memanfaatkan organnya sampai ke desa, yaitu Babinsa. Bedanya, AS mengumpulkan Laporan Geografi Militer dari seluruh dunia.


Dengan data yang begitu lengkap, AS bisa membangun sistem informasi geografis (GIS) yang luar biasa. Mereka
bisa simulasi berbagai skenario perang, berapa korban yang akan jatuh
dan kerugian yang ditimbulkan jika suatu senjata canggih seperti
gelombang mikro ataupun nuklir digunakan. Mereka juga bisa berhitung tentang "keuntungan" perang dalam jangka panjang.


Andaikata diijinkan dipakai untuk sipil, sistem
semacam ini sangat optimal untuk mempelajari pola bencana alam seperti
banjir, gempa tsunami atau kebakaran hutan. Kapasitas komputasi sistem ini bisa membantu mengetahui dengan akurat, apa action yang
tepat untuk misalnya mencegah banjir Jakarta: apa benar dengan
reboisasi Puncak?; dengan kanal banjir senilai 15 Trilyun?; dengan
pompanisasi?; dengan pembersihan tepi Ciliwung dari pemukiman liar?;
atau apa? Sayang sistem tadi justru dipakai untuk optimasi pembantaian kaum muslimin.


Perangkat ini dilengkapi sistem pakar (expert-system) yang akan membantu pengambilan keputusan. Bisa
jadi keputusan kapan perang dimulai, atau suatu rudal diluncurkan,
tidak di kepala George Walker Bush, apalagi PBB, melainkan pada sistem
pendukung keputusan (decission support system), yang tentu hanya mesin pintar berkapasitas besar, tanpa nurani.


IT pada saat perang


Ketika perang, pasukan di garis depan akan dilengkapi alat GPS-telemetri, inframerah dan telematika. GPS akan memandu ke sasaran. Komando di belakang bisa memantau posisi dan kondisi pasukannya dari laptopnya. Kalau ada prajurit yang terluka atau tertangkap, posisinya langsung bisa diketahui.


Sementara itu alat inframerah berguna untuk melihat di kegelapan. Alat
ini bisa mendeteksi manusia, yang tubuhnya memancarkan panas pada
spektrum tertentu, meski bersembunyi di balik semak-semak atau dinding
dengan ketebalan tertentu.


Mereka juga dilengkapi piranti telematika, yang
akan memasok data-data terakhir ke front, baik dari satelit, atau
analisis komputer atas data intelijen mutakhir. Agar jaringannya tidak disusupi hacker musuh, maka dilakukan enkripsi cryptografi yang sangat rumit.


Sementara itu senjata yang dipakai pun memiliki kandungan IT yang makin tinggi. Kini ada robot-robot mungil (dragon-runner) yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence). Robot ini bisa mengambil keputusan mandiri dan terus mengupdate diri dengan "pengalamannya". Ia dilengkapi kamera dan sejumlah sensor suara, panas atau bau. Dengan software pengenal pola, maka robot ini bisa mengenali musuh dan secara mandiri menyerangnya.


Sementara itu ada jenis robot lain yang dilengkapi bom dan piranti GPS. Bom itu diprogram untuk hanya meledak di lokasi yang koordinatnya ada pada daftar. Bom ini bisa juga dicurahkan dari "mother bomb" sebagai "bom satelit" atau diluncurkan sebagai "position guided missile" (PGM).


Jenis senjata lain adalah senjata radio yang bisa merebut kontrol atas piranti elektronik. Pesawat-pun bisa dibajak secara elektronik (electronic hijacked) - hal mana diduga kuat terjadi pada pesawat yang menabrak WTC 11 September 2001. Masih dengan radio adalah gangguan frekuensi (jamming) sehingga seluruh piranti telekomunikasi musuh terganggu.


Namun teknik jamming ini bisa pula digunakan musuh untuk melawan. Kalau
ada ahli elektronik muslim yang mampu membuat pemancar yang kuat, bisa
jadi pasukan AS yang dipandu GPS akan kehilangan arah, karena sistem
GPS-nya ngaco. Karena itu pasukan AS juga dilengkapi sistem navigasi inersia (INS), yang tidak tergantung pada gelombang radio.


IT kaum muslimin


Apakah Iraq mampu mengatasi keunggulan IT AS itu? Boro-boro. Jangankan membungkam sistem GPS AS, pasokan listrik saja mungkin sudah byar pet. Dalam perang modern, instalasi listrik dan telekomunikasi adalah objek yang sering dihantam dulu. Iraq
bahkan sebelumnya sudah melatih rakyatnya untuk biasa "bekerja seperti
di zaman Khalifah Harun Al Rasyid", tanpa listrik, tanpa komputer,
tanpa radio.


Maka di atas kertas, Iraq atau negara manapun yang mencoba "berani" melawan AS sudah akan keok. Meski demikian, dalam perang manapun, yang terpenting bukanlah senjata, tapi "man behind gun" atau bahkan "God behind gun". Di Vietnam dan Somalia pun AS tak begitu sukses. Jadi
kalau Allah menghendaki bisa saja, seluruh sistem IT AS itu ternyata
ditanami virus oleh programmernya, yang kesal dengan arogansi Bush. Atau Chief Information Officer (CIO) Pentagon sendiri - sebagai orang yang de facto paling berkuasa atas
sistem IT ini - terketuk nuraninya, lalu menembak ke "gawang" sendiri. Atau di lapangan, serdadu AS yang stress pada mabuk, lalu ribut sendiri. Yang jelas, makin canggih teknologi, ia makin rentan, dan "kecerdasan bertahan hidup" (survival quotient) dari pasukan akan turun. Sementara rakyat Iraq yang bertahan dengan ruh jihad siap menghabisi pasukan AS di perang kota. Banyak yang bisa terjadi. Allah juga pernah mengirim burung Ababil untuk menghancurkan pasukan Abrahah.


Kenyataan ini seharusnya membuka mata kita, bahwa
untuk melawan negara sekuat Amerika, kaum muslimin tidak bisa
mengandalkan Iraq, apalagi yang dipimpin seorang tiran, dan setelah
diembargo dan dilucuti. Kaum muslimin memerlukan sebuah
negara yang lebih kuat dari Amerika, negara yang mempersatukan seluruh
potensi kaum muslimin di dunia. Negara seperti itu adalah
Daulah Khilafah, yang pernah meruntuhkan adidaya Persia dan Romawi,
namun sayang telah tiada sejak pasca Perang Dunia I. Untuk
itulah, respon kita terhadap serangan AS atas Iraq tidak cukup hanya
jangka pendek seperti aksi protes, boikot, bantuan kemanusian atau pun
qunut nazilah.


Kita harus punya agenda jangka panjang, membangun
kembali persatuan ummat Islam sedunia, dalam wadah Daulah Khilafah,
karena hanya negara ini yang pernah menjadi adidaya. Dan
negara ini pula yang nanti akan mengembangkan teknologi yang lebih kuat
berdasarkan syariat, sehingga tak hanya menandingi arogansi AS, tapi
bahkan menundukkannya, dan lalu menjadikan teknologi itu sarana
mewujudkan keadilan, kemakmuran dan rahmat di seluruh alam.


 


Antisipasi Menghadapi Perang Modern
"Asymmetrical Warfare"
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah dijadikan grand strategy oleh sejumlah negara untuk membangun kekuatan tempurnya. Pemanfaatan unsur informasi menyebabkan terbukanya peluang terjadinya perang informasi atau information warfare di masa yang akan datang. Untuk mengantisipasi menghadapi perang informasi, Mabes TNI melaksanakan seminar sehari tentang C4ISR (Command,Control, Communication, Computers, Intelligence, Survellance &Reconaisence) di Gedung Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap.
Menurut Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto, pertempuran informasi dengan penguasaan informasi sebagai bagian dari asimmetrical warfare dianggap banyak ahli strategi perang sebagai kiat persiapan perang berbiaya rendah dengan dampak yang sangat luas. Kiat pengumpulan data dan informasi menjadi penting, curi mencuri informasi kemudian merupakan hal yang pasti. Kemampuan untuk dapat
menjaga data dan informasi menjadi sangat mutlak, sama mutlaknya dengan kebutuhan untuk mengacaukan system informasi lawan dengan cara menyusup data dan informasi salah.
Menghadapi kecenderungan ini, TNI harus mulai berpikir dan mengambil tindakan antisipasi yang pasti, bukan hanya terhadap potensi ancaman perang secara tradisional tetapi juga mengantisipasi kemungkinan penggelaran perang modern yang mengacu pada gaya asymmetrical warfare khususnya melalui kiat perang informasi yang datangnya kerap tidak bisa dilihat atau dirasakan kecuali setelah menimbulkan kerugian yang pasti. Ancaman permanen atas keutuhan wilayah kedaulatan NKRI seperti pada penggeseran patok batas wilayah kedaulatan dan persengketaan tapal batas hingga penguasaan/pendudukan wilayah secara illegal, penyusupan manusia dan ideologi asing, penyelundupan uang, bahan peledak dan senjata, pengacau keamanan melalui kiat lintas batas negara termasuk aktifitas terorisme serta kebocoran rahasia penting negara adalah bagian dari hal-hal yang secara langsung harus ditangani lebih serius. Kegiatan perang informasi yang digelar lawan, dapat menyebabkan misalnya, pergeseran patok-patok batas wilayah NKRI tidak dilakukan oleh negara asing, tetapi oleh warga negara sendiri yang sudah terkecohkan oleh informasi salah satu melalui kiat operasi psikologi.
      Contoh lain penyelundupan uang untuk melancarkan suatu operasi social engineering melalui media elektronik adalah hal kini sangat dimungkinkan. Saat ini menurut Panglima TNI makin terasa bahwa dalam konteks pelaksanaan tugas, peran dan tanggung jawab insan dan institusi TNI dalam kegiatan pertahanan hingga pelaksanaan operasi-operasi militer, sangat membutuhkan suatu peningkatan kapasitas dan kapabilitas di bidang sarana dan prasarana termasuk SDM, khususnya dibidang yang berkaitan dengan kiat-kiat intelijen. Untuk itu, SDM kita harus bisa mengantisipasi, mengikuti dan mengimbangi secara taktis perkembangan dan pertumbuhan teknologi intelijen yang semakin pesat dan modern. Bukan satu hal yang aneh bila SDM TNI perlu dilatih untuk dapat mempelajari kemampuan fasilitas tempur lawan dalam suatu misi militer dan menggunakannya untuk menghancurkan lawan. Inilah sebabnya, perhatian terhadap fasilitas alut sista dan kesiapan SDM khususnya yang berkenaan dengan peralatan dan optimalisasi pemanfaatan fasilitas K3I yang saat ini masih dijadikan salah satu andalan sistem pertahapan TNI, perlu diprioritaskan dan disiasati dengan tepat dan benar sehingga bisa menunjukkan potensi manfaat yang pasti, dimana selanjutnya harus mampu memunculkan deterrence factor yang baru.
      Fasilitas K3I yang sudah ada saat ini secara bertahap harus ditingkatkan menjadi C41SR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance & Resonance) dan dikemudian hari bisa ditingkatkan lagi menjadi architecture framework system yang lengkap dan berdaya. Kebutuhan peningkatan ini muncul bukan hanya dari antisipasi terhadap faktor ancaman di depan, akan tetapi untuk
mengantisipasi perubahan teknologi yang tidak bisa dihindari, dimana sekali waktu sistem yang masih dipergunakan TNI saat ini tidak lagi dapat diperbaiki atau diperbaharui karena sudah tidak lagi dibuat oleh pabriknya dan sudah terlalu kuno yang tentunya akan menjadi kendala tersendiri.
        Fasilitas-fasilitas TNI saat ini seperti ; Surveillance and Reconnaissance System, Special Target Movement Monitoring System, Terrestrial Border Monitoring Systems, dan UAV, masih bisa ditingkatkan dengan fasilitas tambahan seperti Unmanned Operated Surveillance and Reconnaissance System, maritime Un-manned Vehicle hingga Robotic Operation System yang disebut-sebut sebagai The Future Combat System. Namun terlepas dari peran masing-masing instumen dimaksud, saat ini dibutuhkan kemampuan pengintegrasian sistem-sistem yang telah dimiliki TNI secara tepat dan benar. Pengembangan dan peningkatan pemberdayaan system K3I dalam lingkungan Mabes TNI
yang telah ada saat ini menjadi sistem C4ISR berbasis jaringan terpusat (network centric), perlu untuk direncanakan dengan baik. Pemanfaatannya dikemudian hari harus bisa memungkinkan dilakukannya kegiatan yang tidak terbatas hanya pada komando, control, komunikasi dan intelijen saja, akan tetapi lebih jauh memastikan terjadinya kemampuan koordinasi serta peningkatan kinerja intelijen
yang boleh jadi ditambah pemanfaatan system Surveillance and Reconnaisancenya secara real time.
     Sementara menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, bidang TIK baik pengembangan maupun pemanfaatannya mempunyai peran penting dalam pembangunan suatu negara. Sektor TIK, selain menawarkan berbagai peluang untuk menciptakan nilai tambah di sektornya, juga merupakan "enabler" di semua sektor lainnya, yang langsung berpengaruh pada tingkat daya saing suatu negara, termasuk didalamnya daya saing pada sektor pertahanan dan keamanan.  Menyadari luasnya dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan bidang informasi dan komunikasi, sudah sewajarnya setiap negara termasuk Indonesia perlu menyiapkan masyarakatnya untuk mampu menghadapi pergeseran ini serta memanfaatkan berbagai peluang dan siap menghadapi berbagai ancaman baru yang muncul dari perkembangan ini.
        Kecepatan bertindak serta keputusan berdasarkan data akurat kian menjadi unsur penting dan signifikan dalam membangun suatu sistem Hankam di saat ini dan dimasa mendatang. Dipihak lain, jumlah data dan informasi yang perlu dilibatkan dalam suatu keputusan menjadi kian besar dan kompleks. Menghadapi dua kenyataan ini, berbagai negara saat ini berlomba-lomba ingin membangun suatu sistem C4ISR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance & Reconnaisance) yang terintegrasi dengan memanfaatkan TIK.  Dengan TIK yang berkembang saat ini, suatu jaringan sistem intelligence, surveillance & reconnaissance, dapat dengan mudah dapat mengirimkan berbagai informasi secara digital dan real time ke berbagai unit lainnya untuk mendapatkan keputusan lebih lanjut dengan cepat dan akurat, jelas Kusmayanto.
       Konvergensi yang terjadi di sektor TIK dapat dimanfaatkan untuk membangun suatu sistem C4ISR secara nasional yang terintegrasi secara luas dari mulai sistem sensor paling depan, sistem pengolahan, sistem pengendalian sampai dengan sistem persenjataannya, untuk menjawab berbagai kebutuhan yang muncul baik saat ini maupun dimasa mendatang. Dalam bidang pertahanan keamanan menurut Menristek, dapat dikategorikan sebagai suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara-cara berfikir yang tidak lazim dan diluar aturan-aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup seluruh aspek. Pilihan ini sebagai dasar untuk mengembangkan strategi keamanan nasional dan tanpa diimbangi dengan pengembangan kekuatan non phisik akan menghadapi resiko kehancuran terhadap ancaman asimetri [asymmetric threat].
        Dengan meningkatnya berbagai peluang sekaligus ancaman di era globalisasi ini, sudah sewajarnya Indonesia menikatnya kemampuan untuk menjaga pertahanan dan keamanannya dengan membangun system yang handal dan terintegrasi memanfaatkan berbagai teknologi yang tersedia untuk menjawab berbagai kebutuhan yang dihadapi, antara lain untuk mengatasi :
§ Penangkapan ikan dan penebangan kayu illegal.
§ Early warning system menghadapi bencana alam dan ancaman
§ Maritime surveillance.
§ Ancaman terhadap daerah perbatasan dan lain-lain.
Tanpa usaha untuk membangun sistem terintegrasi demikian, kemampuan untuk mengatasi ancaman terhadap berbagai kegiatan pembangunan akan kian melemah, yang tentunya akan berakibat pada lemahnya daya saing Indonesia dalam menghadapi kompetisi di era global saat ini. Perlu disadari bahwa pembelajaran teknologi tidak berlangsung di ruang hampa dan otomatis tapi membutuhkan kesadaran dan kemauan kuat serta terkait erat dengan sistem insentif yang memacu semua pelaku untuk melakukan pembelajaran teknologi.
      Kesemuannya ini menyangkut aspek perluasan industri, pengembangan kemampuan SDM, pengokohan system inovasi serta penciptaan lingkungan bisnis yang kompetitif. Kepakaran, keahlian serta kreatifitas yang dikembangkan oleh LPND, perguruan tinggi serta berbagai institusi litbang haruslah dapat dimanfaatkan oleh sektor Hankam sebagai suatu kekuatan dalam mengembangkan berbagai sistem yang dibutuhkan. Dan sebaliknya pengalaman dan kemampuan di lingkungan Hankam haruslah dapat dimanfaatkan oleh seluruh institusi litbang untuk meningkatkan kemampuannya.


     Sedang menurut Asops Kasum TNI Mayjen TNI Bambang Darmono, untuk membangun kekuatan TNI dimasa mendatang harus mempertimbangkan perkembangan teknologi informasi. Untuk kepentingan militer seperti Kodal, intelijen, pengintaian dan pengamatan, bentuk platform persenjataan telah memanfaatkan teknologi informasi baik teknologi telekomunikasi maupun teknologi computer. Hal ini perlu diantisipasi dalam rangka menghadapi perang informasi pada masa ini dan masa mendatang. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagian integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian setiap langkah yang diambil harus ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi.
      Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep memenangkan perang. Pada awalnya, cukup dengan konsep Komando dan Kendali (Kodal/K2), yang pada prinsipnya merupakan hubungan intern antara komandan dengan anak buahnya dalam tugas operasi. Dan dalam perkembangan selanjutnya, komunikasi dengan kesatuan lain dalam operasi menjadi suatu keharusan. Maka lahirlah konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi dan Informasi (K3I). di era 90-an, dengan kemajuan teknologi computer lahirlah konsep baru berupa Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengamatan dan Pengintaian (K4IPP). Meskipun di Indonesia, K4IPP masih menjadi angan-angan, tetapi paling tidak sudah menyiratkan adanya suatu pandangan bahwa sistem informasi yang berbasiskan computer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan, jelas Bambang Darmono.
      Pembangunan kekuatan TNI baik matra darat, laut dan udara, harus direncanakan secara terarah dan berlanjut baik dalam renstra jangka menengah maupun jangka panjang yang diharapkan mampu untuk menghadapi segala ancaman yang timbul baik ancaman militer maupun nonmiliter yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Oleh karena itu pembangunan kekuatan TNI harus dipertimbangan perkembangan lingkungan strategis dan perkiraan ancaman yang mungkin terjadi. Kemajuan Teknologi Informasi (TI) membawa dampak yang sangat luas bagi kehidupan masyarakat saat ini. Yaitu dapat merubah cara berorganisasi, merubah cara perdagangan antar perusahaan, mengubah cara pemerintahan dan negara bahkan mengubah cara untuk berperang.
      Penggunaan TI dalam sistem informasi modern memaksa pihak militer untuk meninjau kembali doktrinnya, sebab perkembangan teknologi informasi membawa perubahan mendasar bagi kepentingan intelijen, sistem pengintaian dan pengamatan, sistem komando dan kendali sehingga pola penataan strategis perangkat perang dalam perang modern perlu disesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi tersebut. Pemanfaatan teknologi informasi diberbagai kehidupan, khususnya dibidang militer perlu diantisipasi perkembangannya karena disatu sisi dapat membawa dampak untuk kebaikan tapi disisi lain berdampak untuk pengrusakan. Konsep-konsep pengrusakan pada sistem informasi inilah kemudian berkembang untuk dijadikan dasar bagi kepentingan perang informasi. Munculnya perang informasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, karena sifat penggunaan sistem secara bersama (sharing), sehingga memungkinkan pihak-pihak yang tidak berkompeten pada suatu sistem dapat melakukan akses ke pihak lain tanpa mengalami kendala. Seperti diketahui teknologi informasi merupakan perpaduan dari teknologi telekomunikasi dan computer. Dengan perkembangan kedua teknologi tersebut memungkinkan orang dapat berinteraksi dari satu tempat ke tempat lain tidak perlu melihat batasan wilayah ataupun negara. Permasalahan muncul ketika pemanfaatan teknologi tersebut digunakan untuk kepentingan yang tidak pada semestinya (diselewengkan) seperti pencurian data, perusahaan data bahkan penghilangan data milik orang lain.
      Dewasa ini hampir seluruh sistem yang digunakan untuk kepentingan militer seperti komando dan kendali, intelijen, pengintaian dan pengamatan, bentuk platform persenjataan telah telah memanfaatkan kedua teknologi tersebut.  Tentunya untuk menjaga faktor keamanan pada sistem tersebut perlu ada upaya untuk melindunginya terhadap pihak-pihak yang berupaya untuk mengacaukan sistem tersebut. Konsep perlindungan sistem perlu ditempuh mengingat sistem tersebut selain membentuk suatu jaringan juga memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang rawan terhadap gangguan penyadapan dan pengrusakan data pada saat terjadi proses interaksi. Mengingat lompatan kemajuan teknologi informasi demikian pesatnya, maka perkembangan kedua teknologi perlu disimak secara seksama sebagai bahan antisipasi dalam menghadapi perang informasi pada abad ini.   Penguasaan perang informasi bagi suatu angkatan bersenjata mutlak diperlukan mengingat perang dimasa mendatang akan didominasi oleh strategi, teknik dan taktik pemanfaatan Perang Informasi. Seperti ada pepatah "Siapa yang mengusai informasi, dialah yang akan mengusai dunia", tambah Asops Kasum TNI.
      Perang modern. Perang dimasa kini dan dimasa mendatang merupakan perang modern yang cepat dan mematikan. Hal ini diperlukan kepekaan dan kecepatan dalam komando dan pengendalian. Pada era perang modern dituntut suatu pertahanan yang mendekati waktu nyata (real time) atas keadaan taktis dan mampu mengkomunikasikan secara on line ke seluruh unsur kekuatan pertahanan nasional yang ada. Perang modern juga menuntut suatu kesatuan komando yang jelas dan tertata rapi, dimana Panglima Tertinggi pemegang otoritas pertahanan harus dapat mengetahui situasi yang berlaku serta dapat mengambil keputusan secara tepat dalam waktu singkat.
      Hal yang terpenting dari sistem K4IPP yaitu memberikan informasi situasional kepada pimpinan tentang lokasi dan status dari kekuatan musuh dan kekuatan kita yang perlu mendapatkan perhatian. a. Kemampuan dari K4IPP. Kemampuan dari sistem K4IPP terdiri atas :


1) Situational Awareness. Situasi dimana seluruh informasi unsur-unsur kekuatan sendiri berada pada lokasi tertentu dan data statusnya serta kedudukan musuh berada, 2) Information Superriority. Informasi merupakan aset yang strategis bagi setiap organisasi. Inilah yang menyebabkan kegagalan khususnya dalam bidang pertahanan, sehingga kemampuan untuk menyediakan informasi potensial merupakan faktor yang sangat menentukan dari kekuatan pertahanan suatu negara. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagian integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi.  Dengan demikian maka setiap langkah yang diambil ditujukan untuk mencapai
keunggulan informasi. b. Penggunaan Sistem K4IPP. Sistem K4IPP dipergunakan bagi pimpinan sebagai sistem komando dan pengendalian secara global, kontijensi sistem perencanaan daerah militer, sistem komando gabungan maritim dan sistem manuver.  Aplikasi K4IPP (C4ISR) dalam Medan Pertempuran. C4ISR adalah singkatan dari Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconaissance. Komando dan kendali lebih menjurus pada pembuat keputusan bersifat arahan yang dilaksanakan oleh komandan guna mengatur gerak pasukannya dalam menyelesaikan misi. Peran itu didukung oleh teknologi informasi dimana computer komunikasi merupakan bagian dari C4ISR. Sistem C4ISR menyediakan kemampuan utama untuk mewujudkan situasi kesiapan komando yaitu informasi mengenai kedudukan dan kekuatan pasukan musuh dan pasukan sendiri. Oleh karenanya, C4ISR menjadi komponen yang praktis dan diperlukan untuk mencapai keunggulan ketika keputusan dibuat.


Menurut Penasehat Panglima TNI Bidang K4ISR Dr.Yono Reksoprodjo, ST.DIC, perang informasi atau information warfare adalah serangkaian kegiatan pemanfaatan dan pengaturan dari suatu informasi yang dipergunakan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif atas lawan. Hal-hal yang berkaitan dalam bentuk data dan informasi secara kolektif, upaya memastikan keabsahan suatu data atau informasi, penyebaran informasi propaganda dan informasi fitnah atas lawan, dengan tujuan untuk melemahkan kekuatan musuh hingga pencegahan atau penolakan keperluan pertukaran informasi musuh adalah kiat-kiat yang dimasukkan ke dalam kegiatan perang informasi. Bentuk-bentuk nyatanya adalah semacam kiat upaya pemanfaatan komunikasi pertukaran informasi yang dapat berakibat terpengaruhnya suatu sikap, terjadinya suatu penyangkalan atau perlindungan, suatu bentuk penipuan, atau pun suatu bentuk eksploitasi hingga penyerangan.
Informasi Saat Perang atau Information In Warfare yang juga dikenal dengan sebutan Battle Field Warfare adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan kepentingan mendapatkan dan menyampaikan data dan informasi disaat terjadinya pertempuran.  Hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan ini biasanya mencakup kiat-kiat operasi Surveillance, Reconnaissance, Intelligence, dan hal-hal yang berkaitan langsung dalam suatu pertempuran termasuk didalamnya kegiatan pemantauan dan peramalan cuaca, strategi logistik, kondisi geografis, hingga kiat upaya pelancaran suatu bentuk perang informasi.
      Lepas dari segala kemiripan dari istilahnya masing-masing, benang merah yang dapat ditarik dari semuanya adalah digunakannya "informasi" sebagai amunisi dan senjata utama untuk mencapai tujuan memenangkan pertempuran atau lebih jauh lagi suatu peperangan, dan kunci utama dari keberhasilannya terletak dari kiat pengusaan dan pengaturan dari informasi tersebut. Disinilah kemudian letak pentingnya suatu operasi informasi atau juga dikenal sebagai Operation Information, yaitu rangkaian dari kiat-kiat taktis pemanfaatan dan atau manipulasi data serta informasi melalui media atau jaringan dan infrastruktur sistem informasi.
      Dr. Yono Reksoprodjo SI.DIC mendefinisikan Information Warfare (IW) atau Perang Informasi dalam tiga cakupan. Pertama, segala bentuk penyerangan terhadap fungsi-fungsi informasi, tidak peduli bagaimana caranya. Melakukan perusakan misalnya pada fasilitas piranti lunak switching telpon publik sudah dapat dikatagorikan sebagai perang informasi. Kedua, setiap upaya dalam menjaga fungsi-fungsi informasi, tidak perduli apapun caranya, terhadap potensi penyerangan, misalnya untuk pencegahan virus computer, sudah bisa dikatagorikan sebagai perang informasi. Ketiga, perang informasi adalah upaya dan bukan hasil seperti juga pengertian akan perang laut, yang bukan berupa hasil tetapi serangkaian langkah-langkah taktis. Karenanya, perang informasi adalah juga upaya untuk melaksanakan siasat penyerangan dan penjagaan yang serupa dengan perang laut dimana dilaksanakan juga kiat siasat penyerangan dan penjagaan yang
taktis.
      Pengertian akan Information Inf Warfare (IIW) atau Informasi Saat Perang adalah serangkaian kiat militer yang berkenaan kegiatan Intelligence, Surveillance and Reconnaisance (ISR), Ketetapan Posisi dan Navigasi, Operasi Cuaca, Operasi Hubungan Kemasyarakatan, serta berbagai kegiatan saat pertempuran seperti Combat Camera Operation dan sebagainya. Inti dari IIW adalah hal-hal yang bersifat taktis namun berpengaruh terhadap kesuksesan misi-misi strategis. Kini pengertian tentang IIW telah diadopsi oleh kepentingan sipil khususnya dalam kinerja bisnis sehari-hari. Hal ini juga telah merancukan pemakaian fasilitas-fasilitas sekaligus lintas disipliner. Pada kenyataannya, berbagai kinerja Perang Informasi yang berkenaan dengan IIW, sering dilakukan di bawah seragam masyarakat sipil.  Pengertian akan Information Operation atau Operasi Informasi adalah kegiatan yang ditujukan untuk menggelar perlawanan dengan memanfaatkan data dan
informasi ataupun sistem serta jaringan informasi. Nilai sukses dari suatu operasi militer tergantung pada kiat mendapatkan dan menyusun informasi berharga termasuk mencegah perlawanan dengan cara sebaliknya. Suatu Institusi Militer bertanggung jawab untuk melaksanakan kiat pertahanan dan penyerangan melalui serangkaian Operasi Informasi.
       Tanggung jawab ini termasuk tindakan menjaga informasi atas apa yang boleh dan tidak boleh keluar serta secara agresif berkemampuan untuk menyerang fasilitas system informasi lawanan untuk tujuan pre-emptive atau untuk suatu perlawanan. Bentuk-bentuk bagian dari Operasi Informasi antara lain kamuflase, operasi psikologi, operasi khusus, operasi jaringan komputer, perang elektronika. Berbagai sumber baik insan sipil maupun militer dapat menjadi sumber ancaman karena mereka dapat melaksanakan perang informasi antara dengan melaksanakan unauthorized users, seperti Hackers, melakukan penyerangan atas system informasi walau disaat damai. Bermula dari penyerangan terhadap personal computers, namun belakangan meningkat ke jaringan dan computer terpusat. Insiders, individual yang memiliki hak akses masuk ke sistem, menimbulkan kesulitan yang sangat menyulitkan khususnya dalam memilih mana yang musti diamankan. Insiders bisa berupa karyawan tetap bisa bukan atau hanya seolah sebagai karyawan tetap.
      Insiders bisa menyerang system setiap saat dan setiap sudut selama ia berada di dalam instalasi atau jaringan. Hal ini mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas rancang bangun, produksi, transportasi dan jadwal perawatan setiap sarana dan prasarana termasuk bagaimana dan siapa yang melakukan pembangunannya. Terrorisme meningkatkan melalui fasilitas system informasi komersial yang tidak
khusus. Tindakan mereka mencakup kiat hacking melalui kinerja destruktif atau infrastruktur strategis. Kegiatan para teroris telah dipantau memanfaatkan computer bulletin boards untuk bertukar informasi intelijen dan data teknis di atas batas wilayah internasional. Non-state groups (the "New Warrior Class") telah mengambil keuntungan dari berbagai kesempatan yang tersedia di era Information Age. Mereka selalu mendapatkan jalan mendapatkan cara-cara memanfaatkan mulai akses komersial hingga secured communication infrastructures, dari suatu tempat yang aman bagi mereka yang bisa jadi tempat itu adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain melakukan penyerangan terhadap lawan diluar medan tempur, kelompok ini juga pandai memanfaatkan international news media dalam mempengaruhi opini publik dun

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/545/implikasi-tik-terhadap-strategi-pertahanan.html