Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
SAATNYA INDONESIA MENUJU ERA MOBIL LISTRIK
2014-01-29 11:35:01 - by : kusnadi

                                                          SAATNYA IDONESIA MENUJU MOBIL LISTERIK


                                                                               Mayor Arh Kusnadi,ST.,MT
 
 
Harapan
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono agar Indonesia dapat Mengembangkan
mobil listrik direspons serius oleh menteri Riset dan Teknologi. Hal ini
didorong oleh sikap antisipatif terhadap ancaman kelangkaan bahan bakar
minyak Indonesia di masa depan, juga untuk mewujudkan kendaraan yang
ramah lingkungan.
 
Harapan tersebut boleh jadi akan terwujud,
sebab jajaran di Kementerian Riset dan Teknologi yang menaungi tujuh
LPNK Ristek sudah bergerak serempak. Program ini memang tidak boleh
bergerak lamban. Terbukti program pengembangan kendaraan berbasis
listrik telah diluncurkan dengan melibatkan lembaga-lembaga penelitian
dan perguruan tinggi.
 
Meskipun mobil listrik bukanlah sesuatu
yang baru di dunia. Namun langkah yang ditempuh pemerintah tidak juga
dapat dianggap terlambat. Sebab beberapa negara maju pun masih belum
siap untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, apalagi untuk memenuhi
pasar dunia. Pemerintah Amerika Serikat, misalnya, telah merancang
program untuk mewujudkan satu juta kendaraan bertenaga listrik di
jalanjalan AS pada 2015.
 
Indonesia pada 2014 diharapkan sudah
siap dengan fondasi pengembangan secara terintegrasi dan mulai
diproduksi tahun 2015. Sementara negara-negara berkembang lainnya,
seperti Tiongkok, Brasil, Meksiko, dan Malaysia sudah mengantisipasi
kelangkaan bahan bakar minyak sejak beberapa tahun lalu dengan
mengembangkan mobil listrik.
 
Kegiatan Terintegrasi
Beberapa
lembaga riset di Indonesia pun sebenarnya sudah mengembangkan mobil
listrik sejak lebih kurang 10 tahun lalu. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan
beberapa perguruan tingggi telah menghasilkan beberapa prototipe
kendaraan berbasis listrik. Hanya sayang, upaya lembaga-lembata tersebut
kurang mendapat dukungan anggaran yang memadai, sehingga penelitian pun
tertatih-tatih.
 
Malaysia tahun ini menjadikan tahun listrik.
Pada kuartal pertama, Mitsubishi Malaysia meluncurkan Mitsubishi-MIEV.
Sementara beberapa negara maju umumnya menetapkan tujuan jangka menengah
terkait program kendaraan listrik hingga diharapkan mampu memenuhi 20%
dari seluruh armada kendaraan penumpang pada 2030, atau sekitar 30 juta
kendaraan listrik .
 
Program yang dikembangkan Kementerian Riset
dan Teknologi kali ini memperkuat aspek pengintegrasian kegiatan
penelitian yang sudah dilakukan beberapa lembaga litbang dan perguruan
tinggi. Ini akan menggerakkan efisiensi penggunaan anggaran yang sangat
bagus. Diharapkan pemerintah dapat lebih melihat kebutuhan serta
kemampuan unggulan masing-masing lembaga litbang dan perguruan tinggi.
Kegiatan tumpang tindih yang gagal diintegrasikan sudah saatnya
disudahi.
 
LIPI sejak 1997 hingga 2005 telah mengembangkan
beberapa prototype mobil listrik yang diberi nama Marlip dengan
menggunakan listrik DC Series. Bahkan tahun 2009 lembaga ini
mengembangkan prototipe sedan hibrid. Sedangkan ITS mengembangkan mobil
listrik yang diberi nama EC ITS yang bisa mencapai kecepatan 150 km/jam.
Namun, masih diperlukan waktu yang cukup lama untuk charging baterai
sekitar 9 jam. UGM juga meluncurkan mobil hibrid berkapasitas 4 sampai 8
penumpang.
 
Sementara BPPT sejak tahun 80-an mengembangkan
energi baru dan terbarukan termasuk solar cell. Sudah barang tentu ini
dapat menjadi bagian integral dari pengembangan mobil listrik ini.
Bahkan selain punya pengalaman dalam pengembangan mobil konvensional
yang hemat energi, BPPT juga sedang mengembangkan mobil pantograph,
kendaraan massal bertenaga listrik yang tidak bergantung pada baterai
melainkan menggunakan kawat listrik pada bagian atap mobil.
 
Padahal,
sebelumnya ada kesan begitu kuatnya keegoan masing-masing lembaga
penelitian dan perguruan tinggi. Yang berkembang tidak lagi melakukan
kegiatan berdasarkan kompetensinya, melainkan berdasarkan peminatan. Tak
mengherankan jika kemudian anggaran kegiatan penelitian tidak pernah
cukup. Jika saja soal pengintegrasian tidak ada jalan keluarnya, maka
dikhawatirkan akan ada kegagalan pada pembangunan fondasi pengembagan
mobil listrik di tahun 2014.
 
Namun kini berbagai langkah dan
upaya mulai nampak, Pemerintah tidak ingin main-main dengan program
pengembangan kendaraan listrik ini. Sebab ancaman kelangkaan BBM bukan
merupakan persoalan enteng. Tingkat polusi pun menjadi persoalan serius.
Itulah makanya pengembangan mobil listrik yang ramah lingkungan dan
dapat diproduksi anak bangsa di dalam negeri menjadi salah satu kegiatan
andalan bangsa ini ke depan.
 
Melibatkan UKM
Ada
lima tahapan kunci dalam pembuatan mobil listrik. Empat di antaranya
sudah dikuasai tenaga ahli Indonesia. Sementara satu tahapan lagi yang
masih memerlukan upaya penguasaan teknologinya, yakni pengembangan
baterai khusus berukuran kecil dengan densiti tinggi untuk menyuplai
listrik penggerak motor. Produk yang sudah ada di pasar internasional
harganya masih terbilang mahal, selain ukurannya yang tidak sesuai
dengan desain yang dikembangkan Indonesia. Ini menjadi pekerjaan para
peneliti dan perekayasa Indonesia untuk mengembangkan secara serius guna
memenuhi kebutuhan model mobil listrik nasional.
 
Langkah
pemerintah menentukan desain baru baterai dengan densiti tinggi tentu
merupakan langkah berani dan patut didukung. Sebab jika ini tercapai
maka ini akan memiliki keunikan yang tidak mudah ditembus produsen lain.
Paling tidak Indonesia akan mampu menguasai pasar domestik. Kecuali,
untuk tujuan ekspor, biasanya kita tidak dapat menghindari standar
tertentu yang berlaku secara internasional.
 
Dalam
mengantisipasi persaingan ketat di masa depan, tampaknya pemerintah
perlu menggerakkan seluruh potensi yang ada. Selain melibatkan lembaga
litbang pemerintah dan perguruan tinggi yang sudah dilakukan, juga
penting melibatkan sektor bisnis sebagai persiapan sejak dini. Ini perlu
dilakukan mulai dari kegiatan sosialisasi kepada masyarakat hingga uji
coba dan alih teknologi kepada usaha kecil dan menengah (UKM) secara
meluas.
 
Keterlibatan UKM adalah penting untuk memenuhi
kebutuhan komponen lokal dengan mengacu pada paten dan standar yang
ditentukan secara terintegrasi. Dengan demikian program mobil listrik
menjadi hajat masyarakat luas. Lantas yang tidak kalah penting adalah
melibatkan sejak awal konsultan hukum profesional untuk pendampingan
dalam aspek legal, mengingat suatu proyek penelitian dan pengembangan
yang dipersiapkan untuk menopang kebutuhan pasar luas tidak akan pernah
luput dari konflik kepemilikan intangible asset pihak-pihak terkait.
 
Dari
semua itu, yang terpenting seluruh tahapan ini harus dapat berlangsung
secara berkelanjutan meski terjadi pergantian rejim kekuasaan. Artinya,
siapa pun yang berkuasa pasca 2014, program ini harus berlanjut. Program
nasional ini harus secara bertanggungjawab dilanjutkan.
 
Jika
tidak, maka tahapan hari ini hanyalah sia-sia. Kita sudah lelah dengan
pengulangan program nasional yang selalu menemui jalan buntu. Kita harus
sepaham bahwa program mobil listrik menyangkut persoalan masa depan
bangsa ini. (Investor Daily, 13 Desember 2013/ humasristek)


Referensi : Medy P Sargo ( Perekayasa Madya pada Kementerian Riset dan Teknologi)

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/519/saatnya-indonesia-menuju-era-mobil-listrik.html