Politeknik TNI-AD
Rubrik : Sain dan Teknologi
APA ITU HYBRID WARFARE
2013-11-06 09:52:45 - by : kusnadi


MEMAHAMI HYBRID
WARFARE



Jill R. Aitoro seorang analis perang berkebangsaan Amerika
pada tulisannya yang berjudul "Defense
Lack Doctrine to Guide it Through Cyber Warfare"
menyatakan bahwa " Current dan future adversary are likely
to rely more on a blending of conventional and irregular approaches to
conflict, which they referred to as hybrid warfare" [1]  


Pendapat
Jill tentang hybrid warfare
terlihat mengarahkan pemahaman kita tentang hybrid warfare kepada
 sistem dan metode yang digunakan dalam peperangan. Dia menjelaskan
bahwa sistem dan metoda hybrid warfare adalah menggabungkan sistem dan
metode perang konvensional
dengan non konvensional.


Elizabeth
Montalbano seorang penulis Amerika menyatakan bahwa "The United States is likely to have adversaries practicing "hybrid
warfare" tactics, which will include attacks on computer networks and
other forms of technology, more commonly known as cyber-attacks or cyber
warfare...... The term is used to describe not just cyber-attacks, but also attacks
by biological, nuclear, radiological, and chemical weapons; improvised
explosive devices; and information and media manipulation, among other forms of
attacks.[2] 


Elizabeth terlihat lebih menekankan pemahaman
hybrid warfare kepada adanya penggunaan jaringan komputer termasuk cara-cara
memanipulasi media massa dan informasi sebagai cara melakukan peperangan. Lebih
jauh dia menambahkan bahwa hybrid warfare juga melibatkan penggunaan senjata
nuklir, biologi, kimia dan senjata radiologi yang dipadukan dengan penggunaan
bahan peledak
Bill
Nemeth, seorang mantan Perwira Menengah Marinir Amerika mendefinisikan hybrid
warfare sebagai: "the contemporary form
of guerrilla warfare" that "employs both modern technology and modern
mobilization methods
."[3] 


Pendapat Bill tentang hybrid warfare lebih
mengarah kepada pemahaman bahwa peperangan tersebut adalah bentuk perang
gerilya yang kontemporer dan menggunakan teknologi dan sistem mobilisasi
kekuatan yang modern. Sistem mobilisasi kekuatan yang modern dapat diartikan
sebagai penggunaan kekuatan bersenjata baik reguler sebagai bagian dari suatu
negara yang digabungkan dengan kekuatan non reguler / milisi (non state actor). 


Jack
McCuen
,
seorang kolonel pensiunan Angkatan Darat Amerika mendefinisikan hybrid warfare
sebagai "the focus of activity of asymmetric warfare, fought on three decisive battlegrounds: (1) within the conflict
zone population; (2) home front population; and (3) international community"[4]
Jack
terlihat lebih memfokuskan pemahamannya kepada lingkup peperangan. Dia
menjelaskan bahwa peperangan tersebut dilakukan dalam 3 jenis medan perang yang
mendalam yaitu (1) Medan dimana orang-orang terlibat langsung dalam konflik (2)
Wilayah yang lebih luas/lebar dimana orang-orang tersebut tinggal/menetap (3)
lingkungan internasional. Pemahaman Jack memberikan penjelasan bahwa hybrid
warfare ternyata menggunakan setiap tempat / media sebagai medan peperangan.


David
Kilcullen
 penulis
buku berjudul "The Accidental Guerrilla" menyatakan bahwa "hybrid warfare is the best explanation
for 
modern conflicts, but highlights that it includes a combination of
irregular warfare, 
civil
war
insurgency and terrorism" [5] . Pendapat David memperkaya pemahaman kita tentang aksi-aksi
yang dilakukan dalam hybrid warfare. Dia menambahkan bahwa aksi insurjensi,
perang saudara dan aksi terorisme sebagai salah satu metode yang dilakukan oleh
pelaku hybrid warfare.


Frank G.
Hoffman
 seorang
wartawan Amerika mendefinisikan hybrid warfare sebagai "any enemy that
uses simultaneous and adaptive employment of a complex combination of
conventional weapons, irregular warfare, terrorism and criminal behaviour in the battle space to achieve political objectives" [6]  Pemahaman Frank lebih
menjelaskan apa yang dimaksud dengan hybrid warfare. Frank menjelaskan bahwa
karakteristik hybrid warfare adalah suatu bentuk perlawanan yang dilakukan
secara berkepanjangan, penggunaan suatu kekuatan yang bersifat mendalam yang
merupakan penggabungan antara sistem konvensional, non konvensional, aksi
terror dan aksi kriminal dalam suatu medan peperangan untuk mencapai suatu
kepentingan politis. Dibanding penulis yang lain, Frank menambahkan aksi
kriminal termasuk sebagai salah satu cara yang dilakukan dalam hybrid warfare .






[1] Jill J Aioro, Defense Lacks Doctrine to guide it through Cyberwarfare, 13
September 2010,
http://www.nextgov.com/defense/2010/09/defense-lacks-doctrine-to-guide-it-through-cyberwarfare/47575/ [2] Elizabeth Montabalno, Auditor Find Dod Hasn't Defined Cyber Warfare, September
2010,  http://www.informationweek.com/government/security/auditors-find-dod-hasnt-defined-cyber-wa/227400359 [3] Frank G Hoffman, Hybrid vs compound war, http://www.armedforcesjournal.com/2009/10/4198658

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/502/apa-itu-hybrid-warfare.html