Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
2013-01-09 12:03:55 - by : kusnadi

 


KEPEMIMPINAN TRANSFORMSIONAL


Pembicaraan
mengenai organisasi tidak akan terlepas dari konsepsi kepemimpinan.
Berdasarkan beberapa literatur dapat dikatakan bahwa esensi kepemimpinan
adalah upaya seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar berperilaku
sesuai dengan yang diinginkan olehnya. Dalam rangka mempengaruhi orang
lain, seorang pemimpin mempunyai banyak pilihan gaya kepemimpinan yang
akan digunakannya. Salah satu gaya kepemimpinan yang relatif populer
adalah kepemimpinan transformasional.



Konsepsi Kepemimpinan Transformasional



Konsepsi
kepemimpinan transformasional pertama kali dikemukakan oleh James
McGregor Burns. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan transformasional,
Bernard Bass (Stone et al, 2004) mengatakan sebagai berikut: Transformational leaders
transform the personal values of followers to support the vision and
goals of the organization by fostering an environment where
relationships can be formed and by establishing a climate of trust in
which visions can be shared
. Selanjutnya, secara operasional Bernard Bass (Gill et al, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: Leadership and performance beyond expectations. Sedangkan Tracy and Hinkin (Gill dkk, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: The
process of influencing major changes in the attitudes and assumptions
of organization members and building commitment for the organizations
mission or objectives
.



Dari
beberapa pengertian tersebut kepemimpinan transformasional merupakan
gaya kepemimpinan yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang
dianut oleh bawahan untuk mendukung visi dan tujuan organisasi. Melalui
transformasi nilai-nilai tersebut, diharapkan hubungan baik antar
anggota organisasi dapat dibangun sehingga muncul iklim saling percaya
diantara anggota organisasi.



Adapun, karakteristik kepemimpinan transformasional menurut Avolio dkk (Stone et al, 2004) adalah sebagai berikut:



(1) Idealized influence (or charismatic influence)



Idealized influence mempunyai makna bahwa seorang pemimpin transformasional harus kharisma
yang mampu menyihir bawahan untuk bereaksi mengikuti pimppinan. Dalam
bentuk konkrit, kharisma ini ditunjukan melalui perilaku pemahaman
terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai pendirian yang kukuh,
komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah diambil, dan
menghargai bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional menjadi
role model yang dikagumi, dihargai, dan diikuti oleh bawahannya.



(2) Inspirational motivation



Inspirational motivation berarti karakter seorang pemimpin yang mampu menerapkan standar yang
tinngi akan tetapi sekaligus mampu mendorong bawahan untuk mencapai
standar tersebut. Karakter seperti ini mampu membangkitkan optimisme dan
antusiasme yang tinggi dari pawa bawahan. Dengan kata lain, pemimpin
transformasional senantiasa memberikan inspirasi dan memotivasi
bawahannya.



(3) Intellectual stimulation



Intellectual stimulation karakter seorang pemimpin transformasional yang mampu mendorong
bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat dan rasional.
Selain itu, karakter ini mendorong para bawahan untuk menemukan cara
baru yang lbih efektif dalam menyelesaikan masalah. Dengan kata lain,
pemimpin transformasional mampu mendorong (menstimulasi) bawahan untuk
selalu kreatif dan inovatif.



(4) Individualized consideration



Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin yang mampu memahami perbedaan
individual para bawahannya. Dalam hal ini, pemimpin transformasional mau
dan mampu untuk mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan.
Selain itu, seorang pemimpin transformasional mampu melihat potensi
prestasi dan kebutuhan berkembang para bawahan serta memfasilitasinya.
Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu memahami dan
menghargai bawahan berdasarkan kebutuhan bawahan dan memperhatikan
keinginan berprestas dan berkembang para bawahan.



Gaya
kepemimpinan transformasional diyakini oleh banyak pihak sebagai gaya
kepemimpinan yang efektif dalam memotivasi para bawahan untuk
berperilaku seperti yang diinginkan. Menurut Bernard Bass (NN, 2009),
dalam rangka memotivasi pegawai, bagi pemimpin yang menerapkan gaya
kepemimpinan transformasional, terdapat tiga cara sebagai berikut:




  1. Mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha.

  2. Mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok.

  3. Meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diri dan aktualisasi diri.



Pemahaman
akan pentingnya hasil usaha harus diterapkan kepada para pegawai.
Dengan kata lain, orientasi proses mendapat prioritas dibandingkan
dengan sekedar hasil. Kemudian, penekanan untuk mendahulukan kepentingan
kelompok dibandingkan dengan kepentingan pribadi menjadi krusial
mengingat hubungan yang baik dan iklim kerja yang kondsif menjadi
perhatian utama dalam penerapan gaya kepemimpinan ini. Selanjutnya,
mengingat kebutuhan bawahan bukan hanya materi, maka seorang pimpinan
harus mampu mendorong pegawai untuk mempunyai kebutuhan yang lebih
tinggi sesuai dengan kapasitas mereka.



Seorang
pemimpin yang ingin secara efektif menerapkan gaya kepemimpinan
transformasional, harus mampu melakukan beberapa hal sebagai berikut:




  1. memahami visi dan misi organisasi;

  2. memahami lingkungan organisasi melalui analisis lingkungan strategis (SWOT);

  3. merumuskan rencana strategis organisasi;

  4. menginternalisasikan visi, misi, kondisi lingkungan strategis, dan rencana startegis pada seluruh anggota organisasi;

  5. mengendalikan rencana strategis melalui manajemen pengawasan yang tepat;

  6. memahami kebutuhan para pegawai;

  7. memahami kapasitas para pegawai;

  8. mendistribusikan pekerjaan sesuai dengan kapasitas pegawai; dan

  9. mengapresiasi hasil pekerjaan pegawai.



Penutup



Kepemimpinan
merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan berorganisasi.
Banyak gaya kepemimpinan dapat dipilih untuk kemudian diterapkan oleh
seorang pemimpin dalam organisasi yang dipimpinnya. Sekalipun gaya
kepemimpinan transformasional diyakini oleh banyak pihak sebagai salah
satu gaya kepemimpinan yang terbaik, namun pelaksanaanya membutuhkan
beberapa kondisi, baik dalam diri si pemimpin maupun kondsi
organisasinya.






Referensi



Gill, A., Fitzgerald, S., Bhutani, S., Mand, H., and Sharma, S. The Relationship Between Transformational Leadership and Employee Desire for Empowerment. International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 22 No. 2, 2010, pp. 263-273.



NN. tersedia di: http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/kepemimpinan-transformasional-dan.html. diunduh pada tanggal 19 Maret 2011.



Stone, G.A., Russel, R.F., and Patterson, K. Transformational Versus Servant Leadership: A Difference in Leader Focus. The Leadership & Organization Development Journal, Vol. 25 No. 4, 2004, pp. 349-361.

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/425/kepemimpinan-transformasional.html