Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
Teknologi Panser
2012-11-20 13:04:08 - by : Joko

KOMPAS.com - Teknologi militer untuk pertahanan dan
keamanan tidak lagi didominasi Amerika dan Eropa. Kini Indonesia pun
sudah memproduksi sendiri persenjataan militer.

Penghujung Maret
lalu, sebanyak 50 roket R-Han 122 diluncurkan di Pusat Latihan Tempur
TNI Angkatan Darat Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra
Selatan. Wakil Menteri Pertahanan dan Keamanan Sjafrie Sjamsoeddin,
Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Riset Kementerian Ristek Iptek
Teguh Rahardjo, Wakil Gubernur Sumatra Selatan Eddy Yusuf, Pangdam
II/Sriwijaya Mayor Jenderal Nugroho Widyotomo, dan Komandan Kodiklat
TNI-AD Letnan Jenderal Gatot Numantyo ikut hadir dalam peristiwa
bersejarah itu karena untuk pertama kalinya diluncurkan roket militer
buatan Indonesia.

Peluncuran roket berlangsung mulus. Roket
R-Han 122 ini merupakan pengembangan roket sebelumnya D-230 tipe RX 1210
yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi, yang memiliki
kecepatan maksimum 1,8 mach.

Perjalanan lahirnya roket militer
R-Han 122 cukup panjang. Berawal pada 2007 saat Kementerian Riset dan
Teknologi membentuk Tim D230 untuk mengembangkan roket berdiameter 122
mm dengan jarak jangkau 20 kilometer. Prototipe roket D-230 ini dibeli
Kementerian Pertahanan dan Keamanan untuk memperkuat program seribu
roket. Pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketua
konsorsium PT Dirgantara Indonesia (DI), sebagai wadah memasuki bisnis
massal. Ketua Program Roket Nasional Sonny R Ibrahim menjelaskan rencana
pembuatan roket secara massal sudah ada sejak 2005. Namun, baru
dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut.


Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang
mengerjakan bermacam komponen roket. Sony menyebutkan, di dalam
konsorsium terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing
system dengan menggunakan platform GAZ, Nissan, dan Perkasa yang sudah
dimodifikasi dengan laras 16/warhead dan mobil launcher (hulu ledak).
Kemudian juga PT Dahana menyediakan propellant, PT Krakatau Steel
mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT Dirgantara
Indonesia membuat desain dan menguji jarak terbang.

Pendukung
lain dalam konsorsium adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG) turut menyediakan alat penentu posisi jatuh roket. ITB
menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar
saat roket tiba di sasaran. Sejumlah perguruan tinggi lainnya, yakni
UGM, ITS, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Suryadharma, ikut
terlibat di dalam pengembangan roket tersebut. Nama D-230 kemudian
diganti menjadi R-Han 122 karena sudah dibeli Kementerian Pertahanan.

Sistem
isolasi termal untuk membuat roket militer tidaklah mudah. Para periset
beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada
roket R-Han 122 itu.

Sonny menjelaskan, pada 2003 para periset
menggunakan material kritis dengan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi produk
justru cepat jebol.
Kemudian para peneliti mulai memperbaiki sistem
isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000
derajat Celcius. Pembakaran dengan menghasilkan suhu tinggi bisa
berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik.
Karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa
menghambat panas. Untuk material roket, dipilih bahan yang ringan,
yakni aluminium, karena bisa menghambat panas. Perubahan-perubahan itu
ternyata menghasilkan roket yang tidak pernah rusak saat diujicobakan.

"Karena
termalnya bekerja cukup baik, roket itu bisa terbang tepat sasaran dan
tidak pernah rusak selama uji roket," imbuh Sonny yang mengatakan bahwa
R-Han 122 berfungsi sebagai senjata berdaya ledak optimal dengan sasaran
darat dan jarak tembak sampai 15 km.

Tidak hanya roket yang
sudah dibuat di dalam negeri. Sebelumnya, PT Pindad telah memproduksi
panser yang merupakan hasil pengembangan riset dari BPPT sejak 2003. PT
Pindad meneruskan hasil riset BPPT khususnya untuk panser Angkut
Personel Sedang (APS). PT Pindad dan BPPT akhirnya mengembangkan riset
APS-1 sampai ke APS-3 yang punya kemampuan bermanuver di darat, perairan
dangkal dan danau. Pengembangan riset tersebut akhirnya menghasilkan
varian 4X4 dan disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya
pada varian 6x6.

Ujicoba panser APS-3 ini dilakukan awal 2007
dan pada 10 Agustus 2008 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi
Nasional. Kementerian Pertahanan memberi nama APS3-ANOA. Sejak itu
Pindad memproduksi 10 panser pertama APS-3 ANOA. Dalam perkembangannya,
Pindad terus mengeluarkan seri-seri terbaru APS-3 ANOA ini. Selain
varian kombatan, ANOA juga memiliki varian lain seperti untuk angkut
medis, logistik, armored recovery vehicle (penderek ranpur yang sedang
mogok) dan varian mortir.

Saat ini Kementerian Pertahanan telah
memesan 100 panser ANOA yang ternyata disukai negara-negara tetangga.
Salah satunya Malaysia yang sudah berminat membeli sejumlah panser ANOA
dari PT Pindad. Dan tak kalah penting, panser buatan Indonesia ini juga
dipakai untuk kelengkapan persenjataan Pasukan Perdamaian PBB di
Lebanon.

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/411/teknologi-panser.html