Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
MANFAAT ToT TERHADAP KEMANDIRIAN INDONESIA
2012-10-17 09:25:19 - by : kusnadi

ToT Rudal Dari China Langkah Menuju Kemandirian Rudal Indonesia




Industri
pertahanan Indonesia memasuki babak baru. Menteri Pertahanan Purnomo
Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang
Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru
kendali (guided missiles/rudal) C-705.

Dengan kesepakatan itu, Indonesia mendapat kewenangan untuk memproduksi
rudal yang mempunyai jangkauan lintas cakrawala (over the horizon).
Sekilas, ini merupakan kabar biasa.Tapi, bagi kepentingan pertahanan
bangsa ini, langkah ini merupakan milestone bagi pembangunan
kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) sekaligus menguatkan
derajat kapabilitas pertahanan Indonesia. Bangsa ini pun patut
berbangga karena tidak banyak negara yang mampu menguasai teknologi
rudal atau berkesempatan mendapat alih teknologi senjata strategis
tersebut. Pentingnya penguasaan teknologi rudal disadari betul bangsa
ini.


Ini terlihat dari rangkaian program roket nasional hingga pembangunan
material pendukung. Sudah jauh hari Indonesia memulai tahap awal
pembangunan rudal dengan memproduksi roket udara ke darat, folding fin
aerial rockets (FFAR), yang diaplikasikan pada helikopter dan pesawat
milik TNI. Sejumlah BUMN,yakni PT Dahana,PT Dirgantara Indonesia,PT
Pindad,dan PT Krakatau Steel, juga membangun roket R-Han yang mempunyai
jangkauan 15-20 kilometer. Untuk material pendukung, awal tahun ini
pemerintah meresmikan dua industri strategis,yakni PT Kaltim Nitrate
Indonesia (KNI) di Bontang,Kalimantan Timur dan pabrik bahan berenergi
tinggi di areal PT Dahana di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Dengan pengoperasian kedua pabrik tersebut,kebutuhan bahan baku peledak
dan propelan sudah bisa dipenuhi dari dalam negeri. Dengan
demikian,kerja sama dengan China merupakan lanjutan dari tahapan
penguasaan teknologi rudal.Melalui kerja sama ini Indonesia mendapatkan
limpahan teknologi (technology spillover) yang selama ini dikunci
rapat-rapat oleh segelintir negara seperti teknologi
telemetri,propulsi,tracking-and guidance,dan sebagainya.


Jika menguasai rahasia teknologi rudal ini,bisa jadi suatu saat
Indonesia memproduksi rudal C-705,tapi juga memanfaatkannya untuk
mendongkrak kapasitas roket pertahanan (R-Han) atau bahkan menyulap
roket pengorbit satelit (RPS) yang tengah dikembangkan Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjadi rudal balistik.
Dalam pertahanan, kemampuan penguasaan rudal sangat strategis untuk
meningkatkan kekuatan militer suatu negara. Rudal merupakan bagian dari
kesenjataan artileri dengan daya jangkau yang mampu mencapai garis
belakang pertahanan dan menembus jantung pertahanan lawan.


Ditilik dari kemampuan yang dimiliki--yakni daya jangkau (range), daya
ketelitian (precision), dan daya hancur (destruction capability), rudal
adalah instrumen paling efektif untuk memenangkan sebuah perang. Bagi
TNI, rudal C-705 akan menjadi bagian dari sistem kesenjataan strategis.
Rudal yang pertama diperlihatkan ke publik pada ajang Zhuhai Airshow
Ke-7 pada 2008 direncanakan akan menempati posisi utama sistem senjata
kapal cepat rudal (KCR) yang dimiliki TNI Angkatan Laut.


C-705 akan bahu-membahu dengan rudal Yakhont buatan Rusia yang dipasang
di KRI kelas Van Speijk menjadi tulang punggung matra laut Indonesia,
terutama di wilayah laut dangkal. Si vis pacem,para bellum.Jika
mendambakan perdamaian,bersiap- siaplah untuk perang.Dalam konteks
pemahaman inilah,penguatan, modernisasi, dan pembangunan kemandirian
alutsista dilakukan oleh pemerintah.Penguasaan teknologi rudal menjadi
instrumen penting membangun sistem pertahanan nasional yang mandiri dan
berdaya getar tinggi--high level of deterrence.

Sumber : Sindo

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/405/manfaat-tot-terhadap-kemandirian-indonesia.html