Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
PAHAMI ANAK BUAH DENGAN BAIK
2012-09-11 13:33:38 - by : kusnadi

 


PAHAMI ANAK BUAH DENGAN BAIK


Orang-orang yang sulit biasa disebut sebagai difficult people. Bagi
seorang atasan, menangani bawahan yang sulit merupakan sebuah tantangan
tersendiri. Hal ini bukan hanya bisa meruntuhkan wibawanya, tetapi
sangat melelahkan hati. Merusak reputasi, dan membikin frustrasi. Dalam
banyak kasus, orang yang dikira sulit itu tidak selalu benar-benar
sulit. Melainkan atasannya yang belum tahu bagaimana cara memimpinnya.
Begitu menerapkan cara memimpin yang tepat, mereka berubah menjadi
orang-orang yang sangat koperatif. Apakah Anda memiliki bawahan yang
sulit? Ataukah justru Anda adalah bawahan yang sulit bagi atasan Anda?


Kebanyakan orang kegirangan ketika mendapatkan promisi jabatan. Tak
jarang yang kemudian makan hati saat menjalani hari-hari sulit dalam
memimpin orang. Bahkan tidak sedikit yang menutupi ketidakmampuannya
dalam memimpin orang lain dengan memberi label bawahannya sebagai orang
sulit. Secara objektif, memang ada orang-orang yang sangat sulit diatur
hingga tidak segan untuk melakukan pembangkangan. Mereka pada dasarnya
orang-orang yang tidak mau menerima kepemimpinan atasannya. Namun secara sukyektif, tidak jarang juga kesulitan itu
ditimbulkan oleh ketidakmampuan atasan untuk menyesuaikan gaya
kepemimpinannya dengan sifat dan karakter bawahan. Situasi serupa ini
bisa terjadi di perusahaan apapun dan dialami oleh pemimpin yang
manapun. Maka sebagai seorang pemimpin, kita perlu belajar mengatasinya.
Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengatasi bawahan yang
sulit, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intellligence (NatIn) berikut ini:
Natural
Intelligence Leadership Training memberikan pendekatan dan teknik yang
berbeda dari training kepemimpinan lainnya. Hubungi kami.


1. Perlihatkan kematangan. Salah satu alasan klasik
orang-orang sulit adalah menilai atasannya sebagai orang yang tidak
layak memimpin mereka. Apakah karena mereka merasa lebih senior, atau
lebih berpengalaman, atau sekedar merasa lebih berhak mendapatkan
jabatan itu. Makanya kalimat favorit mereka berbunyi;Elu kira elu itu
siape? Cara terbaik menghadapi mereka adalah dengan memperlihatkan
kematangan kita. Usia, masa kerja, dan pengalaman kita boleh saja tidak
lebih banyak dari mereka. Namun, kepemimpinan bukanlah semata-mata ditentukan oleh hal-hal semacam itu. Ironisnya,
banyak atasan yang menghadapi tantangan seperti ini dengan menggunakan
kekuatan jabatan alias position power dengan prinsip Gua boss elu. Suka
atau tidak, elu musti nurut sama gua! Efektifkah? Bisa ya, bisa tidak.
Tetapi saya memiliki keyakinan dan pengalaman bahwa kekuatan jabatan
itu bisa tidak selalu diandalkan. Malah sebaliknya bisa semakin
menimbulkan penolakan orang-orang sulit. Beda dengan kematangan. Cukup
banyak bukti yang menunjukkan bahwa bawahan yang awalnya sulit dan
menyepelekan atasannya, kemudian berubah menjadi respek kepadanya. Bukti
bahwa kematangan seseorang dalam memimpin mempunyai dampak langsung
kepada rasa hormat anak buahnya.


2. Tunjukkan rasa hormat. Setiap orang berhak untuk
menunjukkan ekspresinya. Termasuk perasaannya terhadap pemimpinnya. Anda
tidak akan pernah bisa memaksa seseorang menyukai Anda. Mengapa? Karena
perasaan suka dan penghormatan adalah bagian yang tidak bisa
diintervensi oleh orang lain. Bukankah Anda juga tidak dapat menghormati
orang-orang yang menurut pendapat Anda layak dihormati? Masalahnya,
banyak atasan yang karena kedudukannya merasa dirinya layak dihormati.
Padahal, bukan hanya atasan yang layak mendapatkan penghormatan. Bawahan
juga memiliki hak yang sama. Maka gagasannya adalah; bagaimana antara
atasan dan bawahan bisa saling menghormati. Siapa yang harus terlebih
dahulu menunjukkan rasa hormat itu jika demikian? Kita. Apalagi jika
posisi Anda lebih tinggi dari mereka. Maka Anda perlu memberi keteladan
dengan terlebih dahulu memberi rasa hormat kepada bawahan. Apakah ini
tidak memancing mereka merasa diatas angin lalu lebih melecehkan? Hey,
tak seorang pun bisa melecehkan orang yang memiliki kematangan dan rasa
hormat. Pada akhirnya, mereka akan menyadari jika sikap hormat Anda
kepada mereka layak dibalas dengan penghormatan yang sama.


3. Berikan penyadaran. Banyak sekali bawahan yang
lupa bahwa sikap sulitnya hanya akan membuat pekerjaan dan karir mereka
semakin sulit. Mereka sering keliru mengira bahwa kalau bisa melawan
atasan berarti mereka adalah orang-orang yang kuat. Dalam banyak kasus,
hal itu berhasil juga. Cukup banyak atasan yang frustrasi karena
bawahannya sehingga kepemimpinannya tidak efektif. Dampaknya, team yang
dipimpinnya tidak menghasilkan kinerja baik. Walhasil, akhir tahun
semuanya mendapatkan penilaian yang buruk. Bawahan sulit sering mengira
dia menang. Padahal dalam situasi seperti itu, semua orang adalah
pecundang. Atasannya loose, mereka sendiri juga loose. Makanya, sebagai
atasan Anda perlu memberi penyadaran kepada bawahan yang sulit bahwa
sikap buruknya hanya akan merugikan diri mereka sendiri. Sebagai atasan,
Anda memiliki kewajiban untuk memberi penyadaran ini. Dan mereka berhak
untuk mendapatkannya. Anda juga memiliki kewenangan untuk menilai. Maka
jika mereka ingin mendapatkan penilaian yang baik, mereka harus
memperlihatkan sikap dan kinerja yang baik. Jika mereka ngotot bertindak
sulit, maka itu pilihannya sendiri. Jika sadar soal ini, Anda tidak
akan ikut terpuruk. Sebab dari awal Anda tahu harus melakukan apa.


4. Tegakkan kedisiplinan. Sikap dan perilaku
seseorang sepenuhnya menjadi pilihan dia sendiri. Anda hanya bisa
melatihnya, membimbingnya, dan terus menerus mengingatkannya. Namun,
Anda tidak bisa memaksanya. Tapi tidak demikian dengan kedisiplinan. Itu
adalah hak perusahaan. Sedangkan karyawan wajib memenuhinya. Oleh sebab
itu, meski Anda wajib memberi ruang kepada bawahan untuk menentukan
sikapnya sendiri, namun soal kedisiplinan tidak ada tawar menawar lagi.
Ini bukan soal ego Anda, melainkan tanggungjawab Anda dan mereka sendiri
sebagai seorang profesional. Anda tidak bisa menghukum seseorang hanya
karena tidak mau bersikap ramah kepada Anda. Namun Anda bisa menjatuhkan
sanksi kepada bawahan yang tidak disiplin. Dan soal kewenangan itu,
merupakan bagian dari paket amanah kepemimpinan yang Anda emban. Jika bawahan Anda tidak disiplin, perusahaan akan meminta Anda pertanggungjawaban. Maka dari awal kepemimpinan,
Anda harus mempunyai kesepekatan soal menegakkan kedisiplinan. Soal
menegakkan kedisiplinan ini bukanlah jalan satu arah. Artinya, Anda
sendiri harus disiplin. Jika Anda sendiri tidak disiplin, wajar kalau
anak buah Anda semakin melecehkan. Dan ketidakdisiplinan Anda itu
menunjukkan bahwa Anda, memang tidak layak menjadi pemimpin. Menegakkan
kedisiplinan berarti menjadikan diri sendiri dan orang-orang yang Anda
pimpin sama-sama berdisiplin.


5. Tunjukkan keadilan. Guru kehidupan saya
mengatakan bahwa diantara orang-orang yang paling disayang Tuhan dihari
perhitungan amal adalah pemimpin yang adil. Bukan pemimpin yang salesnya
paling tinggi atau yang bonusnya paling banyak. Mengapa? Karena
keadilan itu bukan soal yang gampang untuk diterapkan. Jika Anda merasa
bawahan Anda tidak sopan, hati Anda berbisik; tahu rasa nanti lu ya!.
Padahal boleh jadi kinerjanya justru paling baik. Namun karena Anda
lebih suka pada bawahan yang ABS maka penilaian Anda tetap buruk.
Penilaian juga dipengaruhi banyak faktor subyektif lainnya. Bahkan ada
juga pemimpin yang mengancam bawahan untuk melakukan hal-hal yang tidak
relevan dengan pekerjaan. Jika tidak? Hmmh, tahu sendiri akibatnya.
Jabatan tinggi itu dekat sekali dengan penindasan dan
kesewenang-wenangan. Keadilan Anda itu menimbulkan rasa hormat bawahan.
Termasuk orang-orang yang Anda anggap paling sulit. Maka sikap adil,
sangat dihargai oleh bumi dan dijunjung tinggi oleh langit. Secara
pribadi, Anda boleh tidak suka atau tidak cocok dengan bawahan Anda.
Namun soal keadilan, Anda tidak memiliki hak untuk mempermainkannya.
Mengapa? Karena keadilan adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada
setiap orang yang menyandang gelar sebagai pemimpin.


Memimpin manusia itu berbeda dengan menggembalakan domba-domba. Anda
cukup menggiring mereka kepadang rumput yang subur, lalu membawanya
pulang ke kandang setelah mereka kenyang. Manusia, setiap individunya
mempunyai kehendak yang berbeda-beda. Bukan sekedar perut belaka. Bahkan
diantara mereka ada yang menginginkan kursi kita. Maka tentu
pendekatannya jauh berbeda. Saya dulu pernah menjadi gembala domba. Saya
juga pernah dan sedang mengemban amanah untuk memimpin manusia. Kedua
pengalaman nyata itu membuat saya semakin sadar bahwa manusia bukanlah
domba. Manusia adalah mahluk yang setara dengan kita. Makanya, mereka
menuntut perlakuan yang bermartabat dan rasa hormat dari atasannya. Saat
martabat dan rasa hormat itu mereka dapat, maka mereka tidak lagi
berselera untuk menjadi bawahan yang sulit.

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/381/pahami-anak-buah-dengan-baik.html