Politeknik TNI-AD
Rubrik : Komputer Dan Internet
BAHAYA PERANG CYBER
2012-01-30 08:56:22 - by : kusnadi

Bahaya Perang Cyber


 


VIVAnews - Sabtu, 12 November 2011. Sebuah
ledakan dahsyat terdengar di pangkalan misil Alghadir di Bid Ganeh,
barat Teheran. Guncangannya terasa hingga 30 mil jauhnya. Ledakan itu
membunuh 17 anggota pasukan elit Iran, termasuk Mayor Jenderal Hassan
Tehrani Moghaddam, arsitek program misil negeri tersebut.


Meski investigasi belum digelar, buru-buru Iran menegaskan bahwa
ledakan itu bukanlah akibat sabotase yang dilakukan oleh musuh bebuyutan
mereka. Kasus tersebut murni kecelakaan, saat petugas tengah
memindahkan amunisi. Tidak ada kaitannya dengan Israel ataupun Amerika
Serikat, kata Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi, kepala staf militer
Iran.


Padahal, dunia kini mafhum, itulah salah satu contoh yang menunjukkan betapa perang siber (cyberwar) bukan lagi sekadar dongeng fiksi, tapi telah menjadi bagian nyata dari percaturan dunia ini.


Dan Iran adalah salah satu negara yang kerap menjadi sasaran serangan
siber Israel--yang mendapat dukungan penuh Amerika Serikat--khususnya
terkait upaya Iran memperkaya uranium, salah satu komponen utama
nuklir. 


Serangan malware Stuxnet pada instalasi pengayaan nuklir
Iran di Natanz pada tahun 2009 lalu adalah salah satu buktinya. Stuxnet
mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat
ataupun mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di
atas kecepatan maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse
atau setidaknya merusak kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar
uranium.


Malware paling canggih dan paling hebat yang pernah dibuat
sepanjang sejarah itu diakui banyak kalangan sebagai serangan paling
cerdas. Pengakuan itu bukan datang dari sembarang orang, tapi dari
kalangan industri aplikasi pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec
(Amerika Serikat), Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia). 


Satu catatannya: serangan ini hanya bisa dilakukan hanya dengan
dukungan dari pemerintah negara tertentu. Ini karena Stuxnet terdiri
dari program-program komputer kompleks yang pembuatannya memerlukan
beragam keterampilan. Ia sangat canggih dan membutuhkan dana sangat
besar untuk menciptakannya. Tidak banyak kelompok yang mampu melancarkan
serangan seperti ini. 


Para pakar Symantec memperkirakan pengerjaan Stuxnet membutuhkan
tenaga 5 hingga 30 orang dalam waktu enam bulan. Selain itu, dibutuhkan
pengetahuan sistem kontrol industri dan akses terhadap sistem itu untuk
melakukan pengujian kualitasnya. Sekali lagi, ini mengindikaskan bahwa
Stuxnet adalah sebuah proyek yang sangat terorganisir dan dibekingi dana
besar.


Kami benar-benar belum pernah melihat worm seperti ini sebelumnya, kata Liam OMurchu, peneliti Symantec Security Response. Fakta bahwa worm ini dapat mengontrol cara kerja mesin fisik tentunya sangat mengkhawatirkan.


Stuxnet sendiri 100 persen merupakan serangan siber terarah yang
ditujukan untuk menghancurkan proses industri di dunia nyata. Banyak
pakar keamanan bersepakat: Israel dan Amerika Serikat terlibat dalam
serangan maya itu. 


Dan benar saja. 


Februari 2011, Daily Telegraph, harian asal Inggris,
memberitakan dalam sebuah upacara perpisahan di Israel Defense Forces
(IDF), Gabi Ashkenazi, sang mantan kepala staf IDF, mengatakan Stuxnet
merupakan salah satu keberhasilan utama dia saat memimpin lembaga itu.


Pada Mei 2011, Need To Know, sebuah program mingguan stasiun TV PBS,
Amerika Serikat, juga menayangkan pernyataan Gary Samore, Koordinator
Gedung Putih untuk Pengendalian Senjata dan Senjata Pemusnah Massal. Kami gembira bahwa mereka (Iran) mengalami masalah dengan mesin
sentrifuse mereka dan kami-Amerika Serikat dan sekutunya-akan melakukan
apapun yang kami bisa untuk memastikan bahwa mereka akan menghadapi
masalah yang lebih rumit, kata Samore.


Matra kelima


Jagat cyber kini bahkan telah didudukkan sebagai matra
perang kelima--setelah darat, laut, udara, dan angkasa luar. Inovasi di
bidang teknologi telah mengubah taktik dalam konflik di zaman modern dan
membuat dunia maya menjadi medan perang terbaru.


Banyak perangkat mutakhir telah dibuat untuk keperluan ini. Dibantu
oleh kemajuan teknologi elektromagnetik serta teknologi komunikasi dan
informasi, sebuah bentuk pertempuran elektronik telah tercipta dan
membuat pemerintahan berbagai negara melihat perang dunia maya sebagai
ancaman terbesar di masa depan.


Alon Ben David, analis militer dari Channel 10 Israel
menyebutkan: Jika Anda punya beberapa orang pintar dan sebuah komputer
yang bagus, Anda bisa melakukan banyak hal. Anda tidak perlu pesawat
udara, tank, pasukan tentara. Anda bisa memasuki negara lain,
menciptakan kerusakan besar tanpa perlu meninggalkan kursi empuk Anda,
ucapnya.


Dalam sebuah laporan eksklusif di harian Le Monde Perancis,
jurnalis Nicky Hager berhasil menguak keberadaan instalasi Urim milik
Unit 8200, yang merupakan salah satu instalasi pengintaian terbesar di
dunia, setara dengan instalasi milik Amerika Serikat di Menwith Hill,
Yorkshire, Inggris.  


Instalasi yang dibangun sejak satu dekade yang lalu itu awalnya hanya
bertugas memonitor percakapan internasional di jaringan satelit
Intelsat dan stasiun relay telepon antar negara besar. Tapi kini ia juga
bertugas mengawasi percakapan via satelit Inmarsat, juga menyadap
kabel-kabel bawah laut.


Menurut sumber orang dalam, komputer-komputer di instalasi Negev
diprogram untuk dapat memilah-milah kata serta berbagai pesan di
percakapan telepon, email, dan data yang diintersepnya. Pesan-pesan yang
berhasil disadap itu langsung dikirim ke markas besar Unit 8200 di Camp
Glilot di kota Herzliya, sebelah utara Tel Aviv. 


Di tempat itulah pesan-pesan dari berbagai bahasa itu diterjemahkan
dan diteruskan ke agen-agen Mossad di negara lain maupun berbagai badan
lain yang berkepentingan. 


Yang harus dicatat dari Unit 8200 adalah kekuatan pasukan elite
sibernya. Upaya dan obsesi Israel untuk memiliki kekuatan siber yang
handal, telah dimulai sejak 1990-an. Saat itu para peretas (hacker) Israel cuma disodori dua pilihan: masuk bui atau bergabung dengan The Unit. 


Kini, hasilnya tak main-main. Sebuah konsultan di AS memperhitungkan
The Unit sebagai salah satu ancaman siber terbesar dunia, di samping
China, Rusia, Iran, dan Perancis. Stuxnet adalah salah satu bukti
konkretnya.


Angkatan perang siber


Kekuatan sebuah angkatan perang siber ditentukan oleh kemampuan
serangan, pertahanan, serta ketergantungan suatu negara terhadap
Internet. Dalam buku Cyber War, pakar keamanan komputer asal AS dan
profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake
memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang siber.


Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak
punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang,
mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan
dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan memutus
seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang. China
juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi dari para
pengguna yang tak terlalu berkepentingan.


Namun negara yang dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang
dunia maya, menurut Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus
koneksi Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang
Korea Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan siber musuh,
karena tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur
kereta, atau jalur pipa yang tersambung ke Internet.


Lalu, bagaimana dengan Indonesia?


Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident
Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan,
perang siber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana
perang-perang siber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara
Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat
perang siber sejak satu dekade yang lalu--mulai dari perang siber dengan
Portugal pada 1999, dengan Australia, hingga cyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.


Sayangnya, menurut salah satu pentolan kelompok peretas
Antihackerlink, Arief Wicaksono, kemampuan para aktivis siber Indonesia
bisa dikatakan masih belum mumpuni. Pasalnya, daya peretas di suatu
negara biasanya  sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur Internet
serta tarifnya.


Dari sisi kuantitas mungkin memang banyak insiden yang berasal dari Indonesia. Namun dari sisi kualitas, skill hacker Indonesia masih kurang optimal, kata Arief yang kini menjadi koordinator Research and Development Antihackerlink. 


Karenanya, menurut dia, perang siber di Indonesia masih sebatas serangan defacing atau mengubah tampilan desain sebuah laman web. Serangan jenis ini bisa
dibilang hanya untuk mempermalukan, tapi terbilang tidak membahayakan.


Tapi, seiring dengan pertumbuhan Internet di Indonesia yang begitu
cepat, dia percaya akan lebih banyak lagi infrastruktur strategis dan
layanan publik yang akan semakin bergantung pada sistem informasi,
teknologi, dan jaringan Internet, sehingga rentan terhadap serangan
siber. 


Menurut Salahuddien, kini pelanggan Internet reguler Indonesia ada
sekitar 60 juta. Sekitar 90 juta pengguna ponsel juga telah mengakses
Internet. Dalam dua tahun ke depan, kata Didien, diperkirakan pengguna
Internet Indonesia akan mencapai sekitar 150 juta orang. 


Jika sudah begitu, dia mengingatkan, Ancaman perang informasi dan serangan cyber akan semakin meningkat dan menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang, termasuk di Indonesia. (kd)


• VIVAnews

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/331/bahaya-perang-cyber.html