Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
MANAJEMEN SERDIK DALAM HADAPI KREATIVITAS SISWA
2011-10-31 09:02:51 - by : kusnadi

 


 


 


Manajemen Peserta Didik dalam Menghadapi


Kreativitas Siswa


 


Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika
proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang
sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses
belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan
membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan
pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu
disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu
membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas
pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber
daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan
keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus
berkembang.


Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan
manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya
pendidikan. Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta
didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya.
Fakta-fakta dilapangan ditemukan sistem pengelolaan anak didik masih
menggunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan
kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada
pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping
bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan
akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi
manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya
masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan meguji dugaan
atau hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada
akhirnya menyampaikan hasilnya.


Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem
pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide
yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide
kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam
kompetisi global yang selalu berubah. Perkembangan anak didik yang baik
adalah perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental.
Tidak ada satu aspek perkembangan dalam diri anak didik yang dinilai
lebih penting dari yang lainnya. Oleh karena itu, teori kecerdasan
majemuk yang dikembangkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Gardner
dinilai dapat memenuhi kecenderungan perkembangan anak didik yang
bervariasi.


Penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk
memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai
kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan
dapat diarahkan menjadi lebih baik. Muhibbin Syah menjelaskan bahwa
akar kata dari pendidikan adalah "didik" atau "mendidik" yang secara
harfiah diartikan memelihara dan memberi latihan. Sedangkan
"pendidikan", merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan
perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pelatihan dan
pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan tidak dapat lepas
dari pengajaran. Kegiatan dari pengajaran ini melibatkan peserta didik
sebagai penerima bahan ajar dengan maksud akhir dari semua hal ini
sesuai yang diamanatkan dalam undang-undang no. 20 tentang sisdiknas
tahun 2003; agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.


Dalam pendidikan, peserta didik merupakan titik fokus yang strategis
karena kepadanyalah bahan ajar melalui sebuah proses pengajaran
diberikan. Sebagai seorang manusia menjadi sebuah aksioma bahwa peserta
didik mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mereka unik
dengan seluruh potensi dan kapasitas yang ada pada diri mereka dan
keunikan ini tidak dapat diseragamkan dengan satu aturan yang sama
antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain, para
pendidik dan lembaga sekolah harus menghargai perbedaan yang ada pada
diri mereka. Keunikan yang terjadi pada peserta didik memang
menimbulkan satu permasalahan tersendiri yang harus diketahui dan
dipecahkan sehingga pengelolaan murid (peserta didik) dalam satu
kerangka kerja yang terpadu mutlak diperhatikan, terutama pertimbangan
pada pengembangan kreativitas, hal ini harus menjadi titik perhatian
karena sistem pendidikan memang masih diakui lebih menekankan
pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberikan
perhatian kepada pengembangan kreatif peserta didik. Hal ini terjadi
dari konsep kreativitas yang masih kurang dipahami secara holistic,
juga filsafat pendidikan yang sejak zaman penjajahan bermazhabkan azas
tunggal seragam dan berorientasi pada kepentingan-kepentingan, sehingga
pada akhirnya berdampak pada cara mengasuh, mendidik dan mengelola
pembelajaran peserta didik. Kebutuhan akan kreativitas tampak dan
dirasakan pada semua kegiatan manusia. Perkembangan akhir dari
kreativitas akan terkait dengan empat aspek, yaitu: aspek pribadi,
pendorong, proses dan produk. Kreativitas akan muncul dari interaksi
yang unik dengan lingkungannya.


Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah,
membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan
mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan
(motivasi intristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi intrinstik ini
adalah intelegensi, memang secara historis kretivitas dan keberbakatan
diartikan sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tes
intellejensi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikan
anak berbakat intelektual tetapi pada akhirnya hal inipun menjadi
masalah karena apabila kreativitas dan keberbakatan dilihat dari
perspektif intelejensi berbagai talenta khusus yang ada pada peserta
didik kurang diperhatikan yang akhirnya melestarikan dan mengembang
biakkan Pendidikan tradisional konvensional yang berorientasi dan
sangat menghargai kecerdasan linguistik dan logika matematik. Padahal,
Teori psikologi pendidikan terbaru yang menghasilkan revolusi paradigma
pemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yang
mengidentifikasikan bahwa dalam diri setiap anak apabila dirinya
terlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan pada
susunan syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasan
yang dimiliki oleh mereka.


Salah satu cara dalam memecahkan masalah ini adalah pengelolaan
pelayanan khusus bagi anak-anak yang punya bakat dan kreativitas yang
tinggi, hal ini memang telah diamanatkan pemerintah dalam undang-undang
No.20 tentang sistem pendidikan nasional 2003, perundangan itu
berbunyi " warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional,
mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan
khusus". Pengertian dari pendidikan khusus disini merupakan
penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau
peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan
secara inklusif atau berupa satuan pendidikan-pendidikan khusus pada
tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pada akhirnya memang diperlukan
adanya suatu usaha rasional dalam mengatur persoalan-persoalan yang
timbul dari peserta didik karena itu adanya suatu manajemen peserta
didik merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Siswa
berbakat di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokok bahasan
sebelum diberikan. Mereka memiliki kemampuan untuk belajar keterampilan
dan konsep pembelajaran yang lebih maju.


Untuk menunjang kemajuan peserta didik diperlukan modifikasi
kurikulum. Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang
diperoleh peserta didik di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat
dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensi dirinya. Jika kurikulum
umum bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya,
maka saat ini haruslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang
berdiferensi untuk memberikan pelayanan terhadap perbedaan dalam minat
dan kemampuan peserta didik. Dalam melakukan kurikulum yang berbeda
terhadap peserta didik yang mempunyai potensi keberbakatan yang tinggi,
guru dapat merencanakan dan menyiapkan materi yang lebih kompleks,
menyiapkan bahan ajar yang berbeda, atau mencari penempatan alternatif
bagi siswa. Sehingga setiap peserta didik dapat belajar menurut
kecepatannya sendiri.


Dalam paradigma berpikir masyarakat Indonesia tentang kreativitas,
cukup banyak orangtua dan guru yang mempunyai pandangan bahwa
kreativitas itu memerlukan iklim keterbukaan dan kebebasan, sehingga
menimbulkan konflik dalam pembelajaran atau pengelolaan pendidikan,
karena bertentangan dengan disiplin. Cara pandang ini sangatlah tidak
tepat. Kreativitas justru menuntut disiplin agar dapat diwujudkan
menjadi produk yang nyata dan bermakna. Displin disini terdiri dari
disiplin dalam suatu bidang ilmu tertentu karena bagaimanapun
kreativitas seseorang selalu terkait dengan bidang atau domain
tertentu, dan kreativitas juga menuntut sikap disiplin internal untuk
tidak hanya mempunyai gagasan tetapi juga dapat sampai pada tahap
mengembangkan dan memperinci suatu gagasan atau tanggungjawab sampai
tuntas.


Masa depan membutuhkan generasi yang memiliki kemampuan menghadapi
tantangan dan perubahan yang terjadi dalam era yang semakin mengglobal.
Tetapi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini belum
mempersiapkan para peserta didik dengan kemampuan berpikir dan sikap
kreatif yang sangat menentukan keberhasilan mereka dalam memecahkan
masalah. Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan
dewasa ini dirasakan merupakan kebutuhan setiap peserta didik. Dalam
masa pembangunan dan era yang semakin mengglobal dan penuh persaingan
ini setiap individu dituntut untuk mempersiapkan mentalnya agar mampu
menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Oleh karena itu,
pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada setiap manusia
terlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
perlu dimulai sejak usia dini, Baik itu untuk perwujudan diri secara
pribadi maupun untuk kelangsungan kemajuan bangsa.


Dalam pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak dari
karakteristik keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkan
pada peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan memperhatikan bakat
dan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang menjamin
kebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif peserta didik di lingkungan
rumah, sekolah, dan masyarakat. Merupakan suatu tantangan bagi
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk dapat membina serta
mengembangkan secara optimal bakat, minat, dan kemampuan setiap peserta
didik sehingga dapat mewujudkan potensi diri sepenuhnya agar nantinya
dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi pembangunan masyarakat dan
negara. Teknik kreatif ataupun taksonomi belajar pada saat ini
haruslah berfokus pada pengembangan bakat dan kreativitas yang
diterapkan secara terpadu dan berkesinambungan pada semua mata
pelajaran sesuai dengan konsep kurikulum berdiferensi untuk siswa
berbakat. Dengan demikian diharapkan nantinya akan dihasilkan
produk-produk dari kreativitas itu sendiri dalam bidang sains,
teknologi, olahraga, seni dan budaya. (by Khumaidi Tohar)
sumber : http://forum.um.ac.id/index.php?topic=9001.0


 

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/275/manajemen-serdik-dalam-hadapi-kreativitas-siswa.html