Hasil penelitian UNDP pada tahun 2001 menunjukkan bahwa
indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia menduduki ranking 106 dan
126 negara. Posisi Indonesia jauh dibawah negara-negara ASEAN yang
merupakan pesaing terdekat. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia harus
mempunyai komitmen yang kuat dalam pengembangan sumberdaya manusia guna
mendukung upaya pembangunan ekonomi terutama menghadapi era global
dan pasar bebas. Dalam konteks ini, diyakini bahwa pengembangan
sumberdaya manusia hanya dapat dicapai dengan adanya dukungan sistem
pendidikan nasional yang berkualitas.
Pada tahun 2003, seperti dilaporkan Human Development Index (HDI).
Laporan HDI tahun 2003 menunjukkan, Indonesia pada urutan ke-112 (0,682)
dari 175 negara. Posisi ini jauh di bawah Singapura yang ada di posisi
ke-28 [0,888), Brunei Darussalam ke-31 (0,872), Malaysia ke-58 (0,790),
Thailand ke-74 (0,768), dan Filipina ke-85 (0,751). Meski laporan HDI
bukan hanya mengukur status pendidikan (tetapi juga ekonomi dan
kesehatan), namun ia merupakan dokumen rujukan yang valid guna melihat
tingkat kemajuan pembangunan pendidikan di suatu negara.

Melihat rendahnya kualitas sumber daya kita, salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia Indonesia
adalah dengan pengembangan kreativitas yang dapat dikenali dan
dirangsang sejak dini. Sehubungan dengan itu, pendidik perlu
dipersiapkan dan dilatih agar memiliki kompetensi profesional untuk
memupuk dan mengembangkan bakat dan kreativitas anak secara optimal.
Pendidikan memiliki peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan
dan perwujudan diri individu, terutama bagi pembangunan bangsa dan
negara. Kemajuan suatu kebudayaan tergantung pada cara kebudayaan
tersebut mengenali, menghargai dan memanfaatkan sumber daya manusia dan
hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada
anggota masyarakatnya, kepada peserta didik.
Ditinjau dari aspek kehidupan manapun, kebutuhan akan kreativitas
sangatlah penting. Dalam bidang pendidikan saat ini, kita melihat bahwa
lebih banyak penekanan pada aspek hafalan dan pemikiran reproduktif
serta mencari satu jawaban yang benar terhadap soal-soal yang diberikan
pada anak didik. Proses pemikiran kreatif jarang dilatihkan. Apa yang
dapat dilakukan oleh pendidik adalah mengembangkan sikap dan kemampuan
peserta didik yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan
di masa mendatang dengan inovatif dan kreatif. Tujuan pendidikan pada
umumnya adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik
untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga
dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan
kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat.
Kita semua dilahirkan dengan potensi kreativitas. Salah satu ciri yang
membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain adalah kreativitas
kita atau kemampuan kita mencipta. Hal ini merupakan sifat hakiki kita
sebagai manusia dan merupakan bagian dari siapa kita. Kreativitas
merupakan instink kita yang terbawa sejak lahir. Kita dapat menciptakan
banyak hal dari sumber daya yang terbatas dengan melakukan proses
kreativitas.
Kreativitas berasal dari kata dasar kreatif yang memiliki akar kata to
create yang artinya mencipta. Inilah sesungguhnya Kuasa yang diberikan
oleh Tuhan (ingat bahwa we are given the authority to use the Power of
God – Kita diberikan wewenang untuk menggunakan Kuasa Tuhan). Inilah
yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Kita diberi
kemampuan untuk mencipta, termasuk menciptakan realitas baru dalam
kehidupan kita.
Jika diamati, proses pembelajaran yang harus dikembangkan guru-guru
dalam Kurikulum 2004 atau lebih dikenal Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) yang mulai diterapkan secara serentak pada tahun ajaran 2004/2005,
salah satu di antaranya menekankan kepada upaya mengembangkan
kreativitas siswa secara optimal.
Begitu pentingnya pengembangan kreativitas siswa tersebut dapat diamati
dari bergesernya peran guru yang semula sering mendominasi kelas, kini
harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil
peran lebih aktif dan kreatif dalam suasana yang menyenangkan (learning
must be enjoy). Bagaimanapun akan sulit membangun pemahaman yang baik
pada para siswa, jika fisik dan psikisnya dalam keadaan tertekan.
Kreativitas siswa dimungkinkan tumbuh dan berkembang dengan baik apabila
lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan sekolah, turut
menunjang mereka dalam mengekspresikan kreativitasnya.
Hampir dapat dipastikan bahwa semua materi pelajaran yang disampaikan
kepada siswa, mulai taman kanak-kanak hingga jenjang pendidikan tinggi,
menuntut kreativitas para siswanya. Kreativitas bukan hanya dalam
lingkup pelajaran kesenian (seni rupa, seni musik, seni pahat), tetapi
dalam pelajaran lain pun seringkali menuntut kreativitas yang tinggi.
bersambung..