Politeknik TNI-AD
Rubrik : Artikel
KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
2011-10-14 11:31:47 - by : kusnadi

 



KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI


 


Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu
kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun
fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain :


  • Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)

  • Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial

  • Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan
    dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi
    dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur
    kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan
    aktivitas kelompok.

  • Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel
    orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi
    sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.

  • Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan
    bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara
    yang pasti.

  • Muncul dua pertanyaan yang menjadi perdebatan mengenai pemimpin,


  • Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau ditempat?

  • Apakah efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan dari satu organisasi ke organisasi yang lain oleh seorang pemimpin yang sama?

  • Untuk menjawab pertanyaan pertama tersebut kita lihat beberapa pendapat berikut :


  • Pihak yang berpendapat bahwa “pemimpin itu dilahirkan” melihat
    bahwa seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena dia
    dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinannya.

  • Kubu yang menyatakan bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa” berpendapat bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa. Caranya adalah dengan
    memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan
    dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai
    kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan.

  • Sondang (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila :


  • seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan

  • bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya

  • ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui
    pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang
    menyangkut teori kepemimpinan.

  • Untuk menjawab pertannyaan kedua dapat dirumuskan dua kategori yang sudah barang tentu harus dikaji lebih jauh lagi:


  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi dengan sendirinya dapat dilaihkan kepada kepemimpinan oleh orang yang sama di organisasi lain

  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi tidak merupakan jaminan keberhasilannya memimpin organisasi lain.

  • Tipe-tipe Kepemimpinan :

  • Tipe Otokratik


    • Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif.


      Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah
      seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan
      menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :

  • kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka

  • pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas
    tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan
    kebutuhan para bawahannya.

  • Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.


    • Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:


    • menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya

    • dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya

    • bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi

    • menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.


  • Tipe Paternalistik


    • Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan
      masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris.
      Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang
      tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua
      atau seseorang yang dituakan.


      Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan
      masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin
      ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.

  • Tipe Kharismatik


    • Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya
      tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang
      jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang
      kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut
      meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara
      konkret mengapa orang tersebut dikagumi.

  • Tipe Laissez Faire


    • Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi,
      sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus
      ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu
      sering intervensi.


      Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :

  • pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif

  • pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.

  • Status quo organisasional tidak terganggu

  • Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.

  • Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.


    • Tipe Demokratik

    • Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.

    • Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas
      aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan
      demi tercapainya tujuan.

    • Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.

    • Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia

    • Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.



    • Ciri ciri pemimpin dan kepemimpinan yang ideal antara lain :



    • Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.

    • Kemampuan Bertumbuh dan Berkembang

    • Sikap
      yang Inkuisitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang
      mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat
      pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari
      dan menemukan hal-hal baru.

    • Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang
      bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk
      berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan dalah yang
      integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.

    • Daya
      Ingat yang Kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang
      berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya,
      salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.

    • Kapasitas Integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.

    • Keterampilan Berkomunikasi secara Efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.

    • Keterampilan
      Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk
      meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan
      meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.

    • Rasionalitas,
      semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula
      tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir.
      Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.

    • Objektivitas,
      pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan
      penasehat bagi para bawahannya.  Salah satu kunci keberhasilan
      seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.

    • Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan
      dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua,
      menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.

    • Kemampuan Menentukan Prioritas, biasanya yang menjadi titik tolak strategik organisasional adalah “SWOT”.

    • Kemampuan Membedakan hal yang Urgen dan yang Penting

    • Naluri yang Tepat, kekampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

    • Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, keterikan satu sama lain.

    • Rasa
      Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak
      sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan
      langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.

    • Keteladanan,s seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.

    • Menjadi Pendengar yang Baik

    • Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisonal, temporal dan spatial.

    • Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai
      dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa
      mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.

    • Ketegasan

    • Keberanian

    • Orientasi Masa Depan

    • Sikap yang Antisipatif dan Proaktif



    • KERETAKAN DALAM ORGANISASI



    Salah paham dalam menerima dan menafisrkan pesan.



    • Prosedur hubungan dalam organisasi tidak diikuti dengan benar. Misalnya, arahan dari pihak atasan
      langsung ke level paling bawah, tanpa mengambil peranan pihak tengah
      (middle level) dalam organisasi.

    • Kurangnya komitmen penuh dalam kerja organisasi. Aturan organisasi tidak dipahami dan dihayati pleh anggota organisasi.

    • Adanya kepentingan pribadi. Organisasi dipergunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

    • Permasalahan yang tidak kunjung selesai, sehingga tidak muncul kondisi organisasi yang nyaman.

    • Tidak adanya pembagian kerja dan juga pembagian keuntungan yang adil..


    Keretakan dalam organisasi dapat menumbuhkan citra negatif, dengan permasalah yang saling terkait, antara lain :



    • Keretakan hubungan antara anggota organisasi.

    • Perselisihan yang terus berlarut-larut dan suasana organisasi yang muram.

    • Wujud sikap mementingkan diri sendiri.

    • Produktivitas organisasi merosot.

    • Ketidakstabilan organisasi akibat dari retaknya hubungan.

    • Penyalahsunaan kekuasaan, mementingkan diri sendiri



    • PEMIMPIN VISIONER


    Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu
    dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara
    memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan
    berdasarkan visi yang jelas (Diana Kartanegara, 2003).


    Kepemimpinan Visioner memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner
    setidaknya harus memiliki empat kompetensi kunci sebagaimana
    dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu:



    • Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation.”

    • Seorang
      pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan memiliki
      kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini
      termasuk, yang plaing penting, dapat “relate skillfully” dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi (investor, dan pelanggan).

    • Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved vision).

    • Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan “ceruk” untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas
      kemampuan data untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen,
      teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk
      mengatur sumber daya organisasi guna memperiapkan diri menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.


    Barbara Brown mengajukan 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh pemimpin visioner, yaitu:



    • Visualizing
      Pemimpin visioner mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang
      hendak dicapai dan mempunyai gambaran yang jelas kapan hal itu akan
      dapat dicapai.

    • Futuristic Thinking.
      Pemimpin visioner tidak hanya memikirkan di mana posisi bisnis pada
      saat ini, tetapi lebih memikirkan di mana posisi yang diinginkan pada
      masa yang akan datang.

    • Showing Foresight. Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi dan faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi rencana.

    • Proactive Planning.
      Pemimpin visioner menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik
      untuk mencapai sasaran tersebut. Pemimpin visioner mampu
      mengantisipasi atau mempertimbangkan rintangan potensial dan
      mengembangkan rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu

    • Creative Thinking. Dalam menghadapi tantangan pemimpin visioner berusaha mencari alternatif
      jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang dan masalah.
      Pemimpin visioner akan berkata “If it ain’t broke, BREAK IT!”.

    • Taking Risks.  Pemimpin visioner berani mengambil resiko, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukan kemunduran.

    • Process alignment. Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menselaraskan tugas dan pekerjaan setiap departemen pada seluruh organisasi.

    • Coalition building. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasara dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Dia aktif mencari peluang untuk bekerjasama dengan berbagai macam individu, departemen dan  golongan tertentu.

    • Continuous Learning. Pemimpin visioner harus mampu dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pengembanganlainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi.
      Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau
      positif, sehingga mampu mempelajari situasi. Pemimpin visioner mampu
      mengejar peluang untuk bekerjasama  dan mengambil bagian dalam proyek yang dapat memperluas pengetahuan, memberikan tantangan berpikir dan mengembangkan imajinasi.

    • Embracing Change.
      Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan adalah suatu bagian
      yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika ditemukan
      perubahan yang tidak diinginkan atau  tidak diantisipasi, pemimpin
      visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat
      pada perubahan tersebut.


    Burt Nanus (1992),  mengungkapkan ada empat peran yang harus dimainkan oleh pemimpin visioner dalam melaksanakan  kepemimpinannya, yaitu:



    • Peran penentu arah (direction setter). Peran ini merupakan peran di mana  seorang pemimpin menyajikan suatu visi, meyakinkan gambaran atau target untuk suatu organisasi, guna diraih pada masa depan, dan melibatkan orang-orang dari “get-go.” Hal ini bagi para ahli dalam studi dan praktek kepemimpinan merupakan esensi dari kepemimpinan.
      Sebagai penentu arah, seorang pemimpin menyampaikan visi,
      mengkomunikasikannya, memotivasi pekerja dan rekan, serta meyakinkan
      orang bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang benar, dan
      mendukung partisipasi pada seluruh tingkat dan pada seluruh tahap
      usaha menuju masa depan.

    • Agen perubahan (agent of change). Agen perubahan merupakan peran penting kedua dari seorang pemimpin visioner. Dalam konteks perubahan, lingkungan eksternal adalah pusat. Ekonomi,
      sosial, teknologi, dan perubahan politis terjadi secara
      terus-menerus, beberapa berlangsung secara dramatis dan yang lainnya
      berlangsung dengan perlahan. Tentu saja, kebutuhan pelanggan dan
      pilihan berubah sebagaimana halnya perubahan keinginan para stakeholders.
      Para pemimpin yang efektif harus secara konstan menyesuaikan
      terhadap perubahan ini dan berpikir ke depan tentang perubahan
      potensial dan yang dapat dirubah. Hal ini menjamin bahwa pemimpin
      disediakan untuk seluruh situasi atau peristiwa-peristiwa yang dapat
      mengancam kesuksesan organisasi saat ini, dan yang
      paling penting masa depan. Akhirnya, fleksibilitas dan resiko yang
      dihitung pengambilan adalah juga penting lingkungan yang berubah.

    • Juru bicara (spokesperson).
      Memperoleh “pesan” ke luar, dan juga berbicara, boleh dikatakan
      merupakan suatu bagian penting dari memimpikan masa depan suatu organisasi.
      Seorang pemimpin efektif adalah juga seseorang yang mengetahui dan
      menghargai segala bentuk komunikasi tersedia, guna menjelaskan dan
      membangun dukungan untuk suatu visi masa depan. Pemimpin, sebagai
      juru bicara untuk visi, harus mengkomunikasikan suatu pesan yang
      mengikat semua orang agar melibatkan diri dan menyentuh visi organisasi-secara
      internal dan secara eksternal. Visi yang disampaikan harus
      “bermanfaat, menarik, dan menumbulkan kegairahan tentang masa depan organisasi.”

    • Pelatih (coach).
      Pemimpin visioner yang efektif harus menjadi pelatih yang baik.
      Dengan ini berarti bahwa seorang pemimpin harus menggunakan
      kerjasama kelompok untuk mencapai visi yang dinyatakan. Seorang
      pemimpin mengoptimalkan kemampuan seluruh “pemain” untuk bekerja
      sama, mengkoordinir aktivitas atau usaha mereka, ke arah “pencapaian
      kemenangan,” atau menuju pencapaian suatu visi organisasi.
      Pemimpin, sebagai pelatih, menjaga pekerja untuk memusatkan pada
      realisasi visi dengan pengarahan, memberi harapan, dan membangun
      kepercayaan di antara pemain yang penting bagi organisasi dan visinya untuk masa depan. Dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat dibantah bahwa pemimpin sebagai pelatih,  lebih tepat untuk ditunjuk  sebagai “player-coach.”



    Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
    Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/261/kepemimpinan-dalam-organisasi.html