Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS Al Ma’aarij 70 : 19)

Sudah berapa banyakkah udara yang kita hirup buat bernafas? Pernahkah kita menghitung berapa
banyakkah air yang telah kita minum buat melepaskan dahaga? Tak
terhitung hal-hal yang telah kita manfaatkan dari alam ini yang
merupakan karunia Allah subhanahu wata’ala. Lalu apakah yang telah kita
lakukan untuk membalas segala Rahmat dari Allah Subhanhu wata’ala yang
tak terhingga ini ?

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di
langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.(QS Al Jaatsiyah 45 : 13)

Sementara kita sebagai hamba yang lebih banyak
meminta dan menerima rahmat Allah subhanahu wata’ala, sering berhitung
jika melakukan sesuatu buat orang lain,  bahkan kadang kala sangat kikir
buat dirinya sendiri. Tak hanya itu, kita yang sekadar manusia ini
rajin menghitung jerih payah yang telah kita lakukan buat seseorang,
sementara ketika menerima kebaikan orang lain, kita cenderung
melupakannya. Naudzu billah min dzaalik … !

Dua sifat tidak akan bertemu dalam diri seorang mukmin yaitu kikir (bakhil) dan akhlak yang buruk. (HR Ahmad)

“Kikir dan iman sama sekali tidak akan terhimpun di dalam diri seorang hamba.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi)

Manusia sering merasa berat hati ketika harus
mengeluarkan hartanya buat berbagi kepada saudaranya yang membutuhkan.
Ia juga cenderung merasa takut kekurangan sehingga menumpuk harta
sebanyak banyaknya untuk memenuhi hasrat duniawinya yang tak pernah
cukup.

Nafsu dalam mengikuti kemauan duniawinya, sering
membuat manusia lupa bahwa ketika dia mau berbagi buat insan lain,
sesungguhnya Allah akan memberikan pengganti yang jauh lebih baik dan banyak dari yang dikeluarkannya. Dan
ketika dia kikir, sesungguhnya dia menyempitkan jalannya sendiri ketika
diakhirat kelak.

Begitu tercelanya sifap bakhil dan kikir ini bagi
seorang hamba, sehingga Allah memberi peringatan melalui firman Nya
dalam Al Qur’an :

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa
dirinya cukup[1580], serta mendustakan pahala terbaik,maka kelak Kami
akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak
bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.(QS Al Lail 92 : 8 – 11)

[1580]. Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.

Sebagai hamba yang telah banyak menerima rahmat
Allah, sudah seharusnya kita juga memiliki kemurahan hati terhadap
sesama, karena seluruh yang kita miliki didunia ini merupakan amanah Allah untuk kita gunakan semampu kita
dijalan Nya. Bukankah tiada hak kita buat menahan pemberian kepada yang
memerlukan, sementara kita memilikinya ?

Saat kita menikmati kesenangan dunia dengan harta
yang berkecukupan, sementara disekitar kita banyak sanak saudara yang
hidup serba kekurangan dan membutuhkan pertolongan, tegakah kita hingga
tak mengacuhkannya tanpa sedikitpun upaya buat membantu dengan
menyedekahkan sedikit harta kita yang tentu saja dapat meringankan beban
orang orang yang sedang kesusahan hidup?

Banyak ketimpangan hidup yang terjadi dilingkungan
sekitar kita, sehingga membuat manusia hidup mengikuti kelompoknya
masing masing berdasarkan kelas ekonomi yang berbeda. Jarang kita lihat,
bahkan mungkin belum ada terlihat hidup yang berbaur antara si kaya dan
si miskin dalam harmoni, tanpa membeda bedakan kelas dilingkungan
masyarakat kita. Diakui atau tidak, mungkin kita juga termasuk orang
yang membeda bedakan sesama berdasarkan ekonominya. Hal ini membuat
manusia menjadi tak acuh dan menganggap bahwa semua yang didapatnya
merupakan hak pribadinya yang tak perlu dibagi ke orang lain karena dia
telah berusaha keras dengan jerih payah yang telah diusahakannya dalam
memenuhi kebutuhan duniawinya.

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk
menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang
kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap
dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah
orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling
niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka
tidak akan seperti kamu ini. (QS Muhammad 47 : 38)

Allah mencela orang-orang yang tidak mau
menginfakkan hartanya di jalan yang telah diperintahkan Allah, seperti
berbuat baik kepada orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, ibnu sabil
dan hamba sahaya. Mereka pun tidak mengeluarkan hak Allah yang terdapat
dalam harta mereka, bahkan menyuruh orang lain berbuat bakhil.

(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh
orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah
diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk
orang-orang kafir[296] siksa yang menghinakan.(QS An Nisaa’ 4 : 37)

[296]. Maksudnya kafir terhadap nikmat Allah, ialah
karena kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir. Menyembunyikan karunia
Allah berarti tidak mensyukuri nikmat Allah.

Menurut bahasa Arab bakhil dan kikir itu merupakan dua hal yang berbeda, dimana bakhil
bermakna menahan sesuatu yang wajib, sedangkan kikir atau asy syuh
berarti menahan sesuatu yang wajib dan rakus terhadap apa yang menjadi
milik orang lain.

(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh
manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari
perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya
lagi Maha Terpuji.(QS Al Hadid 57 : 24)

Sungguh tiada kebaikan bagi kita yang bersifat
bakhil dan kikir terhadap harta, karena sesungguhnya dalam harta yang
kita punyai itu ada hak Allah yang harus kita keluarkan melalui sedekah
dan hak orang orang miskin yang mesti kita infakkan berupa zakat harta.

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil
dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka,
bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah
buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan
kelak di lehernya di hari kiamat.
Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di
bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Ali ‘Imran 3 :
180)

Semoga Allah mengaruniakan kebaikan dalam diri kita
sebagai hambaNya yang senantiasa menunjukkan rasa syukur atas ni’mat
yang telah diberikan kepada kita dengan berbagi kepada sesama dengan
penuh keikhlasan.

Marilah kita sama sama menyadari, bahwa ketika kita
harus menghadap Allah kelak disaat ajal menjemput, tak sedikitpun harta
yang bisa kita bawa keliang lahat, kecuali yang telah kita nafkahkan
dijalan Allah. Dan harta yang tidak kita manfaatkan sesuai dengan yang
Allah perintahkan sesungguhnya dapat menzalimi diri kita sendiri menuju
neraka Jahannam.

Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari
kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di
tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua
rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.” Kemudian
nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah surat Ali Imran
ayat 180: “Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang
Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan
itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta
yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari)

Wallahu a’lam bishshawab …

Gambar : gift-a-hint.com

Sumber : RuangMuslim