Politeknik TNI-AD
Rubrik : Umum
SOEDIRMAN PANGLIMA BESAR YANG BERPRINSIP
2010-11-01 22:15:21 - by : admin

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, begitu kata pepatah. Kita teladani Pak
Dirman, yang berprinsip, mencintai rakyat, bijak dan teguh.

Berprinsip.

" … perjuangan kita harus didasarkan pada kesucian," demikian yang disampaikan Pak
Dirman dalam pidato pelantikan beliau menjadi Panglima Besar. Prinsip yang mencerminkan
sikap jujur, adil, dan dapat dipercaya tersebut beliau pegang teguh dalam setiap
tindakan yang beliau ambil. Misalnya saja, setelah menandatangani persetujuan gencatan
senjata dengan Belanda, Jendral Sudirman menghormati semua aspek yang telah disetujui
kedua belah pihak, walaupun perjanjian tersebut ternyata banyak merugikan negara
Indonesia. Dengan prinsipnya tersebut, beliau juga menenangkan pasukannya untuk
mengambil sikap bijaksana. Ternyata, pihak musuhlah yang lebih dulu melanggar gencatan
senjata yang telah disepakati, dengan melaksanakan Agresi II.

Mencintai rakyat.

Kecintaan Pak Dirman pada Rakyat telah terbentuk jauh sebelum beliau menjadi pemimpin
bangsa. Dengan pengetahuan, tenaga, kemampuan yang dimiliki, Soedirman muda yang
waktu itu sudah menjadi tokoh masyarakat setempat berupaya membantu rakyat tidak
hanya dalam bidang pendidikan (mengajar di sekolah rakyat), tapi juga dalam hal
kepemimpinan (melalui organisasi pandu yang beliau pimpin), dan ekonomi (melalui
kegiatan koperasi yang beliau rintis). Kecintaan pada rakyat terus berlanjut ketika
beliau memasuki masa dinas ketentaraan. Jendral Soedirman sadar bahwa rakyat pada
awal berdirinya Republik Indonesia banyak mengalami tekanan baik secara ekonomi,
politik, maupun sosial. Beliau juga paham bahwa Tentara Republik Indonesia tidak
bisa berjuang sendirian untuk membangun bangsa. Untuk itu Pak Dirman dan pasukan
berjuang untuk dan bersama rakyat. Perjuangan rakyat yang pada awalnya cenderung
terkotak-kotak berdasarkan idealisme dan kedaerahan dihimbau untuk bersatu melawan
musuh yang ingin kembali bertakhta, sambil berupaya terus membangun bangsa walaupun
dengan sarana yang terbatas.

Bijak.

Seperti layaknya seorang pemimpin besar, Pak Dirman terkenal sebagai sosok pemimpin
yang bijak, baik dalam berkata-kata maupun dalam bertindak. Ketika Presiden Soekarno
memerintahkan Jenderal Soedirman dan Pasukan untuk "mundur" sebagai tindak lanjut
dari Perjanjian Renville, sang jendral tidak langsung protes. Dengan saksama Jendral
Soedirman memikirkan cara terbaik untuk menjalankan perintah tersebut tanpa mematahkan
semangat anak buah yang mungkin saja merasa harga diri mereka terinjak-injak karena
harus mundur. Kemudian, sang pemimpin besar memerintahkan anak buahnya dengan kata-kata
yang bijak namun tegas untuk "hijrah" dari garis belakang pasukan Van Mook. Masa
"hijrah" ini digunakan Jendral Besar Soedirman dan pasukannya untuk membangun strategi
dan menyusun kekuatan yang lebih besar.

Teguh.

Keteguhan hati Pak Dirman sudah terlihat sejak masa beliau aktif di kepanduan. Pada
suat kegiatan kepanduan di padang terbuka di daerah pegunungan, banyak peserta yang
menyerah pada hawa dingin dan bergegas pulang. Tidak demikian dengan Soedirman muda
yang teguh bertahan di medan yang dingin untuk menyelesaikan tugas yang telah dibebankan
kepadanya. Keteguhan ini juga diperlihatkan beliau pada masa bergerilya. Walaupun
kondisi fisik lemah, Jenderal Soedirman tetap teguh mendampingi pasukannya di lapangan
untuk menyusun kekuatan mengusir musuh. Keteguhan ini merupakan salah satu kualitas
yang membuat berbagai pihak hormat dan percaya kepada pemimpin bangsa yang satu
ini. Perjuangan Jenderal Soedirman menunjukkan bahwa prinsip, kecintaan pada rakyat,
sikap bijak, dan keteguhan hati yang senantiasa dilandaskan pada niat yang suci
merupakan landasan penting dalam bertindak.

Politeknik TNI-AD : http://lemjiantek.mil.id
Versi Online : http://lemjiantek.mil.id/article/11/soedirman-panglima-besar-yang-berprinsip.html