PRINSIP DAN POLA PERTEMPURAN MASA DEPAN

Rabu, 27 Juli 2011 12:41:54 - Created by : Website Team, Published by : kusnadi
PRINSIP DAN POLA PERTEMPURAN MASA DEPAN

 

PRINSIP DAN POLA PERTEMPURAN MASA DEPAN

        Perang masa depan, trend yang berkembang dipengarui oleh revolusi dominasi militer atau lebih dikenal dengan istilah Revolution Military Affair (RMA), yang sangat berbeda dengan pelaksanaan perang masa lalu.    Sejarah perang memperkenalkan perkembangan perang dari masa kemasa, dan sering disebut sebagai generasi perang. Perang dunia II telah menunjukkan kepada dunia betapa pesatnya teknologi perang dan jangkauan wilayah peperangan.  menunjukkan tempat-tempat rawan dan perlindungan yang dapat dimanfaatkan oleh unit dan perorangan. Dengan menerapkan teknologi satelit dan sensor radar yang dapat menayangkan pencitraan secara detail setiap sasaran musuh, sehingga jauh sebelum peperangan dilakukan, unit-unit tempur sudah dapat mempelajari situasi dan kondisi dimana mereka nantinya akan diterjunkan.

        Perkembangan dilapangan sebagai dinamika peperangan dapat dipantau dari jarak jauh dan setiap unit tempur dapat dikendalikan secara langsung. Bagi negara-negara maju yang telah menerapkan teknologi ini dan menjadi dua fihak yang berhadapan, menyebabkan peperangan akan menjadi lebih transparan dan tentu saja menyulitkan bagi kedua fihak.    Prinsip kerjasama antar kesenjataan. Peperangan darat, meskipun tetap akan mengerahkan sumberdaya yang relatif sama dengan generasi peperangan terdahulu, namun teknologi persenjataan yang digunakan sangat jauh berbeda.

       Altileri, menerapkan teknologi peluru kendali (Precision Guided Munition) yang dapat menyerang sasaran secara tepat pada fasilitas komando dan fasilitas pendukung operasi musuh lainnya dengan tepat dan cepat. Pasukan digerakkan dalam unit-unit kecil yang dilengkapi dengan sarana angkut yang dapat bergerak cepat, untuk menghindar terhadap bidikan dari kekuatan musuh yang mematikan. Selain gerakan cepat, pasukan juga dilengkapi dengan peralatan anti deteksi radar sebagai perlindungan pasif, untuk mencegah terjadinya korban karena menjadi sasaran tembak musuh.

       Pasukan Infantri, tidak dibiarkan hanya dengan mengandalkan kemampuan jalan kaki, namun didukung dengan kendaraan mekanis, berupa kendaraan angkut lapis baja, yang berfungsi melindungi prajurit, mempercepat manuver pasukan dan sekaligus membawa dukungan perlengkapan, persenjataan dan logistik. Pertimbangan ini dilakukan karena Infantri akan melakukan tugas jauh kedepan merebut posisi-posisi yang menguntungkan.  Dengan penguasaan daerah oleh Infantri, akan memberi peluang kepada Kavaleri dan Artileri, untuk memindahkan kedudukan agar jarak tembak dua jenis kesenjataan ini lebih jauh kedepan; memberi keluasaan bagi unsur lain untuk konsolidasi dan menyusun rencana lebih lanjut.

        Untuk menjamin keamanan gerakan Infantri dan pasukan darat dariserangan udara, penguasaan udara oleh angkatan udara harus dapat diwujudkan, sehingga gerakan pasukan dapat dilindungi oleh kehadiran Angkatan udara atau kekuatan udara, karena pasukan darat memiliki kerawanan terhadap serangan udara musuh. Tanpa dukungan penguasaan udara, Infantri hanya akan menjadi korban serangan udara musuh. Pasukan darat sebagai penentu untuk memastikan bahwa wilayah diduduki dan dikuasai, tetapi sebelum pasukan darat bergerak diwilayah musuh, maka tugas penghancuran sasaran harus dilakukan oleh kekuatan udara taktis, dan bila mungkin juga dibantu oleh tembakan roket kapal laut, sebagai tugas tambahan bagi Angkatan laut. Disamping melakukan blokade laut, Angkatan laut juga berkewajiban untuk melaksanakan penghancuran sasaran didarat, yang dilakukan secara simultan dengan kekuatan udara.

        Selain kerawanan terhadap serangan udara musuh, pasukan darat juga rawan terhadap kavaleri musuh, oleh sebab itu, pasukan Infanteri dibekali juga dengan roket louncer anti tank dan anti perkubuan serta anti personel. Termasuk senjata lawan tank lapis baja, agar bila terpaksa berhadapan dengan Kavaleri musuh, masih dapat melakukan perlawanan, bahkan dapat melumpuhkan Kavaleri berlapis baja. Namun demikian penghancuran tank musuh menjadi bagian tugas para penerbang helicopter serbu yang ditugasi untuk melindungi pasukan yang bergerak didarat dengan menghancurkan kendaran lapis baja musuh.Helicopter yang bertugas dan merupakan modifikasi artileri terbang, sehingga jangkauan tembakan dan pengendalian rudal menjadi lebih efektif meskipun dalam operasionalnya menjadi jauh lebih mahal.

       Kerjasama antar kekuatan laut dan udara, secara khusus belum banyak mengalami perubahan berkaitan dengan revolusi peperangan militer, sehingga operasi laut dilakukan seperti yang sudah berlaku, harus sinergi dan mendapat mengawalan dan perlindungan dari kekuatan udara.Tugas tambahan bagi kekuatan udara dan kekuatan laut adalah menyediakan informasi dari hasil pengintaian dimasing-masing wilayahnya untuk mendukung penerapan strategi, sehingga tidak terjadi kesalahan / kekurangan informasi disegala lini.

     Untuk mempersiapkan kekuatan militer dalam era kecanggihan teknologi seperti saat ini, konsep pertahanan yang relatif menguntungkan adalah dengan pengaturan dislokasi pasukan yang bersinergi. Dalam satu pangkalan, disamping kekuatan pasukan, juga didukung dengan kekuatan udara dan angkutan laut (bila memungkinkan) serta kesiapan logistik dan dalam satu Komando. Pertimbangan seperti ini diarahkan pada pola pengawasan wilayah lebih luas, dengan pengertian medan kritik tetap diduduki dan dikuasai, namun bila perkembangan ancaman terjadi ditempat lain, pengerahan pasukan kedaerah lain dapat dilakukan lebih cepat, dengan mengandalkan angkutan udara. Sehingga proyeksi pasukan dapat lebih cepat mencapai sasaran.Dengan dukungan teknologi penginderaan , teknologi komunikasi dan intelijen yang akurat, perkembangan situasi disetiap daerah dapat dimonitor, dan bila ancaman muncul , pasukan dapat segera dikerahkan untuk menghadapinya.

       Perkembangan persenjataan pada era digital seperti yang berkembang saat ini, tingkat akurasi menjadi lebih optimal, sehingga dapat menghindari kemungkinan korban sipil. Karena sasaran dapat dipastikan, untuk sasaran strategis, berupa pusat komando dan pengendali, pusat komunikasi, konsentrasi pasukan dan tempat- tempat penyimpanan logistik. Untuk kepentingan menghindari pemantauan dan pelacakan oleh musuh dengan teknologi canggih, maka teknologi penyamaran juga harus ditingkatkan, radar dapat mengenali bentuk-bentuk tertentu, sehingga memanipulasi bentuk ini dapat mengurangi pengenalan radar terhadap kedudukan pasukan dan daerah strategis lainnya.

       Selain penyamaran bentuk tampilan, kemampuan sensor sonar hanya berlaku bagi peralatan digital yang aktif, sehingga bagi pasukan yang sedang bergerak atau pada posisi statis, untuk menghindari pendeteksian musuh, dengan melakukan pemadaman peralatan elektronik, untuk sementara waktu, sampai waktu yang telah disepakati dalam perencanaan.   Dengan mempelajari perkembangan prinsip pertempuran masa depan, para perencana penataan ruang wilayah harus berfikir dan menyesuaikan, sepert apa sebenarnya kebutuhan ruang yang paling cocok dengan bentuk peperangan di masa depan. Penguasaan mean dan adaptasi terhadap medan merupakan faktor mutlak bagi pasukan yang bertahan dan dengan pengenalan serta penguasaan medan secara detail, perencanaan pemanfaatan ruang menjadi lebih efektif untuk memenangkan pertempuran. 

Sumber    :        http://www.scribd.com/doc/30736087/Peperangan-Di-Masa-Depan

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Artikel" Lainnya