PERANG MASA DEPAN

Rabu, 27 Juli 2011 12:30:14 - Created by : Website Team, Published by : kusnadi
PERANG MASA DEPAN

PERANG MASA DEPAN

 

PERANG MASA DEPAN

Peperangan di masa depan kemungkinan akan berupa perang kota (urban warfare) maupun perang-perang menghadapi ancaman non-tradisional. Dalam menghadapi perang masa depan, trend yang berkembang adalah perang kota, yang sangat berbeda dengan pelaksanaan perang masa lalu. Sejarah perang memperkenalkan perkembangan perang dari masa kemasa, dan sering disebut sebagai generasi perang. Perang dunia II telah menunjukkan kepada dunia betapa pesatnya tehnologi perang dan jangkauan wilayah peperangan.

Perkembangan tehnologi militer dalam persenjataan dan mobilitas serta kebutuhan militer dalam melaksanakan peperangan, telah merubah doktrin peperangan, yang sama sekali berbeda dengan peperangan pada generasi sebelumnya. Pola peperangan telah terjadi perubahan yang sangat pesat, teknologi militer menjadi pemicunya, yang menyebabkan militer harus menyesuaikan dengan melakukan perubahan doktrin peperangan, untuk mewadahi perkembangan teknologi. Andi Wijayanto, dalam tulisannya Revolusi krida yudha;peran komunitas pertahanan Indonesia dalam buku Universitas Pertahanan Indonesia, menuju konsep pertahanan modern ( 2010;212-216) mengatakan bahwa untuk mengukur kapabilitas militer dapat ditinjau dari beberapa faktor utama yaitu :

- Kemampuan untuk memperoleh informasi dan intelijen strategis untuk mendukung rencana strategi.

            - Kemampuan gelar pasukan yang terkoordinasi dan dilengkapi dengan sarana prasarana mobilitas dan logistik.

- kapabilitas dukungan tempur yang ditentukan oleh penggunaan teknologi digital untuk mempercepat dan mengintegrasikan sistem logistik didaerah pertempuran.

            - kapabilitas manuver, sebagai kemampuan untuk meningkatkan kemampuan menyerang, penggelaran pasukan dan penerobosan

            - kapabilitas mobilitas pasukan, yang didukung oleh kesamaptaan prajurit dan dukungan alat angkut baik darat ,air dan udara.

            - kapabilitas tempur pasukan.

Kemampuan bertempur militer, masih menurut Andi wijayanto, diukur dari kapasitas angkatan bersenjata dalam melaksanakan gelar pasukan secara cepat diberbagai wilayah dan berbagai situasi konflik; manuver pertempuran yang berkelanjutan dengan dukungan tempur dan fasilitas yang setara; operasi militer yang efektif dan adaptasi medan pertempuran secara kenyal.

Ilmu perang berkembang dengan pesat dan diminati oleh berbagai kalangan, yang memunculkan berbagai diskusi dan perdebatan yang mengarah kepada kemajuan dalam penerapan prinsip-prinsip peperangan. Salah satu pendapat yang relevan dengan trend peperangan masa depan, adalah tulisan Davids Dickend, Direktur pusat kajian startegis Universitas Victoria di Wellington. Dalam kajian ini disampaikan ada 4 faktor utama sebagai indikasi yang mendukung revolusi peperangan masa depan yaitu : K4ISR, Kerjasama antar matra, Tehnologi militer modern dan doktrin pertempuran modern. Sinergi dari keempat faktor inilah yang menjadi motor revolusi peperangan dan kemampuan organisasi dengan memenuhi empat faktor ini akan menjadi militer yang disegani oleh kawan dan ditakuti lawan.

Menghadapi perkembangan perang yang ditengarai munculnya pendapat bahwa trend peperangan masa depan lebih banyak akan terjadi dalam perang kota dan perang menghadapi ancaman non tradisional. Perang kota dan menghadapi ancaman non tadisional, merupakan generasi baru peperangan masa depan, yang tidak dapat dihadapi dengan menerapkan komponen dan prinsip peperangan generasi sebelumnya. Akibat pengaruh perkembangan teknologi, menyebabkan perkembangan doktrin militer, yang berkembang mengikuti perubahan generasi peperangan dan perkembangan teknologi persenjataan militer. Meskipun demikian, perkembangan teknologi tidak secara serta merta berpengaruh kepada strategi nasional, srtategi pertahanan dan strategi militer yang berada pada tataran yang relative jauh diatas.

Kebutuhan Komando dan pengendalian. Dengan perkembangan tehnologi digital dan tehnologi komunikasi yang sangat pesat, maka pengendalian pasukan dapat dilakukan secara langsung oleh pimpinan militer tertinggi dengan memanfaatkan system komunikasi digital, yang dapat ditanam pada peralatan militer, perlengkapan perorangan prajurit yang memungkinkan para jenderal dan pimpinan politik dapat langsung melihat gerakan pasukan dilapangan. Para pejabat politik dapat melakukan intervensi langsung terhadap pelaksanaan peperangan, melalui tele conference dan dapat memutuskan apa yang harus dilakukan oleh sebuah unit tempur, bahkan memutuskan untuk memberi perintah kepada perorangan prajurit.

Pimpinan militer dapat mengendalikan unsur – unsur tempurnya mulai tingkat penerapan strategi, operasi bahkan sampai pada tingkat taktis. Seperti yang disampaikan sebelumnya pimpinan militer dapat menggunakan perangkat komunikasi digital yang memungkinkan untuk dapat mengikuti setiap gerak pasukannya, bahkan juga mengamati gerakan pasukan musuh, sehingga dari jarak jauh dapat mengarahkan pasukannya harus melakukan apa, bergerak kearah mana, menunjukkan tempat-tempat rawan dan perlindungan yang dapat dimanfaatkan oleh unit dan perorangan.

Dengan menerapkan teknologi satelit, yang dapat menayangkan pencitraan secara detail setiap sasaran musuh, sehingga jauh sebelum peperangan dilakukan, unit-unit tempur sudah dapat mempelajari situasi dan kondisi dimana mereka nantinya akan diterjunkan. Perkembangan dilapangan sebagai dinamika peperangan dapat dipantau dari jarak jauh dan setiap unit tempur dapat dikendalikan secara langsung.   Meskipun terdapat kelemahan pada penerapan teknologi komunikasi seperti ini, dimana penguasa politik dapat melakukan intervensi langsung terhadap pelaksanaan peperangan, namun secara umum penerapan teknologi ini sangat membantu pelaksanaan peperangan. Penerapan teknologi ini dapat dilakukan oleh dua fihak yang berhadapan, sehingga tetap saja peperangan akan menjadi lebih menyulitkan kedua fihak.

Prinsip kerjasama antar matra. Peperangan darat, meskipun tetap akan menerapkan pola yang relatif sama dengan generasi peperangan terdahulu, namun tehnik dan persenjataan yang digunakan sangat jauh berbeda. Altileri, bukan hanya bergerak didaratan, tetapi juga diterapkan untuk pesawat terbang, helicopter dan kapal perang. Sinergi kekuatan Artileri, diarahkan untuk menghancurkan artileri musuh dan kelompok prajurit infantri yang tidak dapat terjangkau oleh senjata lintas datar.   Kavaleri, juga mengembangkan metode yang serupa, disamping bergerak didaratan, tetapi juga menggunakan helicopter sebagai kekuatan kavaleri dengan kanon dan bahkan peluru kendali, untuk menghancurkan kendaraan lapis baja musuh termasuk perkubuan yang digunakan oleh musuh.

Pasukan Infantri, tidak dibiarkan hanya dengan mengandalkan kemampuan jalan kaki, namun didukung dengan mekanis, berupa kendaraan angkut lapis baja, yang berfungsi melindungi prajurit, mempercepat maneuver pasukan dan sekaligus membawa dukungan perlengkapan, persenjataan dan logistik. Pertimbangan ini dilakukan karena Infantri akan melakukan tugas jauh kedepan merebut posisi-posisi yang menguntungkan. Dengan penguasaan daerah oleh Infantri, akan memberi peluang kepada Kavaleri dan Artileri, untuk memindahkan kedudukan agar jarak tembak dua jenis kesenjataan ini lebih jauh kedepan.

Untuk menjamin keamanan gerakan Infantri dan pasukan darat, perlidungan udara tetap harus mendapat perlindungan dari penguasaan udara oleh angkatan udara. Karena pasukan darat memiliki kerawanan terhadap serangan udara musuh. Tanpa dukungan penguasaan udara, Infantri hanya akan menjadi korban serangan udara musuh. Pasukan darat sebagai penentu untuk memastikan bahwa wilayah diduduki dan dikuasai, tetapi sebelum pasukan darat bergerak diwilayah musuh, maka tugas penghancuran sasaran harus dilakukan oleh kekuatan udara taktis, dan tembakan roket yang dilakukan oleh kapal laut disamping melakukan blockade laut , juga berkewajiban untuk melaksanakan penghancuran sasaran didarat, yang dilakukan secara simultan dengan kekuatan udara.   Disamping kerawanan terhadap serangan udara musuh, pasukan darat juga rawan terhadap kavaleri musuh, oleh sebab itu, pasukan Infanteri dibekali juga dengan roket louncer anti tank dan anti perkubuan serta anti personel. Termasuk senjata lawan tank lapis baja, agar bila terpaksa berhadapan dengan Kavaleri musuh, masih dapat melakukan perlawanan, bahkan dapat melumpuhkan Kavaleri berlapis baja.

Kerjasama antar kekuatan laut dan udara dilakukan seperti yang sudah berlaku, namun, tugas tambahan bagi kekuatan udara dan kekuatan laut adalah menyediakan informasi dari hasil pengintaian dimasing-masing wilayahnya untuk mendukung penerapan strategi, sehingga tidak terjadi kesalahan / kekurangan informasi disegala lini. Untuk mempersiapkan kekuatan militer dalam era kecanggihan tehnologi seperti saat ini, konsep pertahanan yang relatif menguntungkan adalah dengan pengaturan dislokasi pasukan yang bersinergi. Dalam satu pangkalan, disamping kekuatan pasukan, juga didukung dengan kekuatan udara dan angkutan laut serta kesiapan logistik dan dalam satu Komando.   Pertimbangan seperti ini diarahkan pada pola pengawasan wilayah rawan, dengan pengertian tempat rawan tetap diduduki dan dikuasai, namun bila perkembangan ancaman terjadi ditempat lain, pengerahan pasukan kedaerah lain dapat dilakukan lebih cepat, dengan mengandalkan angkutan udara. Sehingga proyeksi pasukan dapat lebih cepat mencapai sasaran.  Dengan dukungan tehnologi penginderaan , teknologi komunikasi dan intelijen yang akurat, perkembangan situasi disetiap daerah dapat dimonitor, dan bila ancaman muncul , pasukan dapat segera dikerahkan untuk menghadapinya.

Perkembangan persenjataan pada era digital seperti yang berkembang saat ini, tingkat akurasi menjadi lebih optimal, sehingga dapat menghindari kemungkinan korban sipil. Karena sasaran dapat dipastikan, untuk sasaran strategis, berupa pusat komando dan pengendali, pusat komunikasi dan daerah penyimpanan logistik. Karena kepentingan menghindari pemantauan dan pelacakan oleh musuh dengan tehnologi canggih, maka teknologi penyamaran juga harus ditingkatkan, radar dapat mengenali bentuk bentuk tertentu, sehingga memenipulasi bentuk ini dapat mengurangi pengenalan radar terhadap kedudukan pasukan dan daerah strategis lainnya.

http://revealbrain.blogspot.com/2010/06/perang-masa-depan.html

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "TEKNOLOGI PERSENJATAAN" Lainnya