SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PERSENJATAAN

Senin, 31 Oktober 2011 08:22:38 - Created by : Website Team, Published by : kusnadi
SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PERSENJATAAN

PERRKEMBANGAN TEKNOLOGI PERSENJATAAN

 

 

Teknologi persenjataan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan teknologi persenjataan tersebut sangat diharapkan oleh negara-negara industri maju untuk memperkuat pengaruh dan kedudukannya di dunia internasional. Adapun teknologi persenjataan yang banyak dikembangkan oleh negara-negara maju, antara lain senjata darat-udara, senjata nuklir, senjata laser, dan senjata biologi.

Pada 1912, bom masih berbentuk granat tangan yang sederhana tetapi setengah abad kemudian bom sudah dapat meluncur secara terkendali dan tepat menuju sasaran. Oleh karena itu, bom bernilai politis dan tidak serta merta menjadi barang dagangan yang mudah didapat. Amerika Serikat yang paling giat mengembangkan bom hanya menjualnya ke sejumlah negara tertentu saja. Selain kepada sekutunya, Amerika Serikat juga menjual bom ke Israel yang merupakan tempat menguji senjata buatan USA.

Pada awalnya berkembangnya bom dibuat menjadi amunisi aerodinamis yang dapat dijatuhkan dari pesawat. Bentuknya seperti anak panah dengan bagian tengah yang menggembung. Bom yang kemudian diklasifikasikan sebagai General Purpose (GP) tersebut strukturnya terdiri atas segumpal bahan peledak yang dibungkus kulit metal. Di ujungnya ditempatkan pemantik yang secara mekanis jika terbentur benda keras akan mengaktifkan bom. Agar bom tersebut dapat meluncur sempurna, dipasanglah sirip ekor sebagai stabilisator. F3entuk dasar tersebut ternyata bertahan cukup lama di antara perjalanan perang yang menuntut penggunaan bom yang canggih.

Senjata rudal merupakan elemen kunci dalam pertahanan strategis negara-negara besar, seperti USA, Rusia, Inggris, Prancis, dan Cina. Rudal sebagai wahana pelontaran hulu ledak bisa nuklir atau senjata pemusnah massal lain dalam hal ini kimia dan biologi dikembangkan melalui teknologi peroketan. Dunia mengenal Robert Goddard dari USA, Konstantin Tsiolkovsky dari Rusia, dan Wernher von Braun dari Jerman sebagai bapak-bapak peroketan. Pada awalnya, rudal tersebut untuk menopang visi eksplorasi ruang angkasa, mini ke bukan dan obyek tata surya tetapi kemudian juga sangat vital bagi pertahanan.

Roket-roket Hitler pada masa Perang Dunia II, seperti V-2 pernah mengancam London, Inggris. Dengan menguasai teknologi roket tersebut, pada 1957 Rusia berhasil meluncurkan Sputnik. Sementara itu dengan didukung oleh von Braun, USA mengembangkan Roket Saturnus V yang membawa para astronotnya ke Bulan.

Kini teknologi peroketan untuk membuat rudal sudah meluas. Selain negara-negara yang disebut di atas, Iran, Korea Utara, dan Irak juga memiliki teknologi peroketan. Arab Saudi juga memiliki rudal balistik jarak sedang yang dibeli dari Cina. USA bersama dengan negara-negara sekutunya menerapkan Missile Technology Control Regime (MTCR), yaitu badan pengawasan teknologi rudal. Negara-negara yang diketahui mengembangkan teknologi peroketan (rudal) mendapat tekanan untuk tidak menyebarluaskan ke negara-negara lain, khususnya ke negara berkembang.

Tindakan Amerika tersebut tidak adil, seperti halnya pemilikan senjata nuklir hanya negara-negara tertentu saja yang boleh memilikinya. Dari 190 negara hanya beberapa negara saja yang mendapat privilege. Pada saat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN ) membuat roket eksperimental RX, pihak asing sudah menilai Indonesia tengah mengembangkan rudal jarak sedang. Bagi Indonesia, penguasaan teknologi peroketan sangatlah penting bukan untuk memanfaatkan situs peluncuran satelit, melainkan untuk pengembangan iptek dan sumber daya alam.

Perang rupanya mendorong para teknokrat menjadi kreatif untuk menciptakan senjata perang. Sejak era Perang Dunia I sebenarnya sudah ada usaha untuk mendesain helikopter khusus untuk kepentingan Militer. Igor Sikorsky ialah orang yang kali pertama mengembangkan helikopter untuk kepentingan militer.

Melihat kemampuan dan kelebihan helikopter, kalangan militer kemudian menggunakannya dalam memenangkan pertempuran. Konflik Alegeria menjadi titik awal dari peran helikopter dalam memenangkan pertempuran. Ketika itu seorang komandan pasukan Prancis menerima banyak pujian berkat kreativitasnya mempersenjatai helikopter intai untuk menghancurkan kaum pemberontak yang berada di puncak perbukitan. Hal yang sama dilakukan oleh seorang marinir Amerika dalam Perang Korea. Pada waktu itu seorang marinir Amerika mempersenjatai UH-34D untuk menghancurkan sasaran. Kedua peristiwa tersebut boleh disebut sebagai era pertama perkembangan helikopter tempur.

Di Amerika Serikat sendiri perkembangan teknologi helikopter tempur justru bermula dari pemisahan Angkatan Darat dari Angkatan Udara pada 1947. Sejak saat itu, Angkatan Udara USA hanya berkonsentrasi mencegah serangan global dad luar terutama perang nuklir. Konsekuensinya, Angkatan Udara menarik diri dari pengoperasian helikopter dan menitikberatkan operasinya pada pesawat tempur pembom. Sejak saat itu, lahirlah sejumlah helikopter tempur khusus untuk kepentingan angkatan darat, laut, dan juga marinir.

Dalam mengembangkan helikopter tempur dasar filosofis Amerika Serikat dan Rusia adalah sama saja, yaitu mempersenjatai helikopter transportasi. Namun, dalam praktiknya di lapangan helikopter tersebut selain bisa dipakai untuk mengangkut pasukan, juga dapat membersihkan lokasi sekitar titik pendaratan dari pasukan atau kendaraan tempur musuh. Adapun Amerika dan negara-negara yang tergabung dalam NATO memilih untuk mengembangkan helikopter dengan tugas-tugas yang spesifik.

Sejak 1967, Amerika Serikat dan Rusia bersaing mengembangkan konsep pesawat tempo pembom modern bermesin jet supersonik jarak jauh antarbenua. Melanjutkan tradisi perseteruan terselubung, dua negara adikuasa tersebut sering mengeluarkan perangkat perang khususnya pesawat dengan bentuk Jan karakteristik yang sama. Masing-masing saling mengklaim bahwa produknya lebih unggul dibanding produk lawannya. Rupanya hal tersebut menyangkut prestise dan cermin keunggulan industri militer masing-masing negara.

Pada 2 Agustus 1939 saat sebelum pecah Perang Dunia II, Albert Einstein menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Franklin D. Roosevelt. Dalam surat tersebut diberitahukan bahwa Nazi-Jerman sedang giat memurnikan uranium dan kemungkinan bahan tersebut dipersiapkan untuk pembuatan bom atom dengan kekuatan besar. Tidak lama kemudian, pemerintah Amerika menggelar suatu proyek rahasia yang disebut Proyek Manhattan. Proyek tersebut menitikberatkan pada penelitian dan pembuatan bom atom.

Sejak 1939-1945, pemerintah Amerika Serikat telah mengeluarkan biaya sekitar 2 miliar dollar bagi Proyek Manhattan. Mereka berhasil menguak tenaga inti dan membuka era baru dalam tenaga atom. Kilatan cahaya di cakrawala mulai memudar dan berubah menjadi berwarna jingga disertai tumbuhnya monster cendawan debu yang menggumpal membumbung tinggi dan membakar langit di utara New Mexico. Tokoh di belakang semua itu adalah J. Robert Oppenheimer. Sejak saat itu, hanya ada dua bom atom yang pernah dijatuhkan dalam perang, yaitu bom atom yang pertama dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan bom atom yang kedua dijatuhkan di Nagasaki, Jepang pada 9 Agustus 1945.

Senjata lain yang berbahaya adalah senjata biologi yang dapat menyebabkan jatuhnya ribuan korban hanya dengan menggunakan sedikit material. Sejumlah negara maju memandang senjata biologi dan senjata nuklir tersebut setara bahayanya sebagai senjata pemusnah massal.

Senjata biologi dapat dikembangkan dengan mempergunakan organisme-organisme hidup (bakteri dan virus) atau toksin (racun) yang diperoleh dari organisme-organisme. Dengan penerapan teknologi yang tepat, senjata biologi ini lebih murah dan mudah diproduksi dibanding senjata nuklir. Perkembangan bioteknologi terbaru dalam industri sipil terutama di sektor farmasi dan obat-obatan untuk hewan telah memungkinkan produksi, penyimpanan, dan peningkatan sistem persenjataan dari jenis organisme patogen tertentu secara lebih mudah. Sampai pertengahan 1970-an, senjata biologi memiliki nilai tertentu secara militer. Secara ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi senjata tersebut tidak dapat dipantau dan senjata tersebut juga menimbulkan masalah besar dalam hal penyimpanan dan penanganannya. Sebagai konsekuensinya, jenis senjata lain lebih memungkinkan untuk dikembangkan.

Program persenjataan biologi juga lebih mudah disamarkan dalam bentuk fasilitas produksi dan penelitian biasa daripada melalui fasilitas nuklir atau kimia. Bagian paling sulit untuk menyembunyikan program senjata biologi adalah proses akhirnya, yaitu ketika organisme atau zat toksin diletakkan di hulu ledak misil, bom, senjata artileri, atau tangki penyemprot aerial.

Kesepakatan Persenjataan Biologi (KPB) yang diberlakukan pada 1975, melarang penelitian, pengembangan, produksi, penimbunan, atau pengambilalihan senjata biologi dan toksin. Kesepakatan tersebut juga melarang sistem pengangkutan yang dirancang untuk mengangkut jenis-jenis senjata tersebut. Aturan tersebut berasal dari aturan perang kuno yang melarang penggunaan senjata ataupun substansi "beracun" dalam konflik bersenjata yang pertama kali dimodifikasi dalam Kesepakatan Den Haag pada 1899 dan 1907.

 

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "TEKNOLOGI PERSENJATAAN" Lainnya