PERANAN BIDAN DALAM KESEHATAN NASIONAL

Rabu, 3 Agustus 2011 12:54:42 - Created by : Website Team, Published by : kusnadi
PERANAN BIDAN DALAM KESEHATAN NASIONAL

Peranan Bidan dalam Sistem Kesehatan Nasional

   Peranan bidan dalam masyarakat sebagai tenaga terlatih pada Sistem Kesehatan Nasional adalah memberi pelayanan sebagai tenaga terlatih, meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat, meningkatkan penerimaan gerakan keluarga berencana, memberi pendidikan “dukun beranak”, dan meningkatkan sistem rujukan.

   Memberi pelayanan dengan tenaga terlatih.

  Di Indonesia persalinan dukun sebesar 50-60% terutama di daerah pedesaan. Pertolongan persalinan oleh dukun menimbulkan berbagai masalah dan penyebab utama tingginya angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal. Dukun tidak dapat mengetahui tandatanda bahaya perjalanan persalinan. Akibat pertolongan persalinan yang tidak adekuat dapat terjadi persalinan kasep, kematian janin dalam rahim, ruptur uteri, perdarahan (akibat pertolongan salah, robekan jalan lahir, retensio plasenta, plasenta rest), dan bayi mengalami asfiksia, infeksi, atau trauma persalinan.

Pelayanan kesehatan yang patut dilaksanakan bidan:
1. Meningkatkan upaya pengawasan ibu hamil.
2. Meningkatkan gizi ibu hamil dan ibu menyusui.
3. Meningkatkan gerakan penerimaan KB.
4. Meningkatkan kesehatan lingkungan.
5. Meningkatkan sistem rujukan.
6. Meningkatkan penerimaan imunisasi ibu hamil dan bayi.

   Selain itu bidan juga melakukan pengawasan kehamilan dan menetapkan kehamilan, persalinan, dan pascapartum dengan risiko tinggi; kehamilan, persalinan, dan pascapartum yang meragukan; dan kehamilan, persalinan, dan pascapartum dengan risiko rendah. Berdasarkan penggolongannya, sikap yang dapat dilakukan bidan adalah meningkatkan pengawasan hamil, persalinan dan pascapartum, dan melakukan rujukan sehingga mendapat pertolongan yang adekuat.

Meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat
Pendidikan masyarakat memegang peranan penting yang meliputi pentingnya arti pengawasan hamil, mengajarkan tentang makanan yang berpedoman pada “empat sehat dan lima sempuma”, pentingnya arti imunisasi tetanus toksoid ibu hamil, pentingnya arti pelaksanaan keluarga berencana, mengarahkan tempat persalinan dilakukan untuk mendapatkan well born baby, pengawasan pascapartum dan persiapan untuk merawat bayi dan menyusui, pentingnya memberi ASI selama 2 tahun dan rawat gabung.

Pendidikan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan pada waktu:
1. Pengawasan hamil di Puskesmas atau pondok bersalin desa dan praktik bidan swasta.
2. Saat menyelenggarakan Posyandu.
3. Melalui pertemuan berkala atau kursus pada PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga).
4. Pada saat memberi penyuluhan khusus.
5. Pada saat melakukan kunjungan rumah.

Tujuan pendidikan kesehatan masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, mengarahkan masyarakat memilih tenaga kesehatan terlatih, meningkatkan pengertian masyarakat tentang imunisasi, keluarga berencana, dan gizi sehingga mengurangi ibu hamil dengan anemia.

Meningkatkan upaya penerimaan gerakan keluarga berencana

Pembangunan ekonomi diselenggarakan pemerintah bersama masyarakat, diikuti dengan program dan gerakan keluarga berencana, sehingga diharapkan kesejahteraan makin cepat tercapai. Pembangunan bangsa Indonesia berorientasi pada “pembangunan keluarga” yang pada gilirannya “meningkatkan sumber daya manusia”. Dalam pelaksanaan gerakan keluarga berencana dapat mengambil bagian penting:
1. Memberi KIE dan motivasi.
   a. Mengapa mengikuti gerakan KB?
   b. Kapan waktu yang tepat ber-KB?
   c. Metode apa yang dipakai sesuai dengan waktu: pascapartum atau pasta-abortus, interval, pada remaja, atau wanita      di   atas 35 tahun.
d. Di mana dapat menerima pelayanan KB?
2. Memberi pelayanan dan pemeriksaan peserta KB. Keberadaan bidan di tengah masyarakat dapat memberi pelayanan KB dalam bentuk:
a. Metode sederhana (kondom).
b. Metode hormonal (pil, suntikan, susuk).
c. Metode mekan is (pemasangan IUD).
d. Melakukan pengawasan peserta. e. Merujuk klien yang menginginkan kontap ke Puskesmas atau RSU.

Pendidikan dukun beranak
Peranan dukun beranak sulit ditiadakan karena masih mendapat kepercayaan masyarakat dan tenaga terlatih yang masih belum mencukupi. Dukun beranak masih dapat dimanfaatkan untuk ikut serta memberi pertolongan persalinan. Kerjasama bidan di desa dengan dukun beranak perlu dijalin dengan baik melalui:
1. Pendidikan dukun yang berkaitan dengan tanda bahaya kehamilan dan persalinan serta pascapartum, teknik pertolongan persalinan sederhana tetapi bersih dan legeartis, perawatan dan pemotongan talipusat, perawatan neonatus, perawatan ibu pascapartum, meningkatkan kerjasama dalam bentuk rujukan bidan atau Puskesmas.
2. Diikutsertakan dalam gerakan keluarga berencana: membagikan kondom, membagikan pil KB, melakukan rujukan KB.
3. Memberi kesempatan untuk melakukan pertolongan persalinan dengan risiko rendah.
4. Meningkatkan sistem rujukan yang mantap.
Dengan penempatan bidan di desa diharapkan peranan dukun akan makin berkurang sejalan dengan makin tingginya pendidikan dan pengetahuan masyarakat dan tersedianya fasilitas kesehatan.

Meningkatkan sistem rujukan

Salah satu kelemahan pelayanan adalah pelaksanaan rujukan yang kurang cepat dan tepat, suatu kekurangan, tetapi tanggung jawab yang tinggi dan mendahulukan kepentingan masyarakat. Kelancaran rujukan dapat menjadi faktor yang menentukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan perinatal. Tindakan rujukan ditujukan pada mereka yang tergolong dalam risiko tinggi. Rujukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu.

Ada beberapa hambatan dalam penempatan bidan di desa antara lain:
1. Umur bidan relatif muda dan bukan dari desa sendiri.
2. Kesulitan menyesuaikan diri di tengah masyarakat.
3. Bidan bukan pegawai negeri sehingga tidak mempunyai penghasilan tetap.
4. Kemampuan desa untuk membangun Polindes masih terbatas sehingga banyak di antara bidan desa tidak mendapat dukungan sarana dari masyarakat.
5. Perkawinan bidan desa yang segera meningkatkan desa dan pindah mengikuti suami.
6. Pendidikan belum mencukupi untuk mampu mandiri sehingga bidan kurang berfungsi.
7. Karena berusia muda, bidan belum mendapat kepercayaan masyarakat sehingga orientasi kepada dukun masih dominan.

Sekalipun banyak hambatan, beberapa keuntungan penempatan bidan di .desa adalah sebagai berikut:
1. Bidan desa sebagai tenaga kesehatan terdidik diharapkan memberi pengaruh optimal kepada masyarakat.
2. Penetapan kehamilan risiko tinggi melalui pengawasan antenatal, sehingga dapat mengurangi kesakitan dan kematian maternal dan perinatal.
3. Bidan desa merupakan tempat masyarakat untuk meminta berbagai nasehat tentang kesehatan.
4. Mengganti peranan dukun bersalin.
5. Membuat peta kesehatan sehingga memudahkan pemantauan.
6. Mempercepat tercapainya sehat untuk semua pada tahun 2000.
7. Menjadi mata rantai sistem kesehatan nasional di pedesaan.

Pustaka
Memahami Kesehatan reproduksi wanita ed 2 Oleh dr. Ida Ayu Chandranita Manuaba, Sp.OG, dr. Ida Bagus gde Fajar Manuaba, Sp.OG & Prof. Manuaba

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Kesehatan" Lainnya